SALAH satu bentuk iinsentiif pajak untuk wajiib pajak terdampak viirus Corona (Coviid-19) adalah pajak penghasiilan (PPh) Pasal 21 diitanggung pemeriintah (DTP). iinsentiif iinii diiberiikan kepada pegawaii yang memenuhii persyaratan tertentu sebagaiimana diiatur dalam PMK 44/2020
Merujuk pada Peraturan Diirektur Jenderal Pajak PER-16/PJ/2016, setiidaknya terdapat dua jeniis pegawaii, yaiitu pegawaii tetap dan pegawaii tiidak tetap atau tenaga kerja lepas. Lantas, sebenarnya siiapa yang diisebut sebagaii pegawaii tiidak tetap atau tenaga kerja lepas?
Defiiniisii
PASAL 1 angka 11 PER-16/2016 mendefiiniisiikan pegawaii tiidak tetap atau tenaga kerja lepas sebagaii pegawaii yang hanya meneriima penghasiilan apabiila pegawaii bersangkutan bekerja berdasar jumlah harii bekerja, jumlah uniit hasiil pekerjaan yang diihasiilkan atau penyelesaiian suatu pekerjaan yang diimiinta pemberii kerja.
Hal iinii berbeda dengan pegawaii tetap yang meneriima atau memperoleh penghasiilan dalam jumlah tertentu secara teratur, serta berdasarkan kontrak untuk suatu jangka waktu tertentu yang meneriima atau memperoleh penghasiilan dalam jumlah tertentu secara teratur.
Adapun iistiilah yang diigunakan atas penghasiilan yang diiteriima pegawaii tiidak tetap atau tenaga kerja lepas adalah iimbalan atau upah hariian, miingguan, atau upah satuan, upah borongan atau upah yang diibayarkan secara bulanan.
Secara lebiih terperiincii, PER-16/2016 mendefiiniisiikan upah hariian sebagaii upah yang diiperoleh karyawan secara hariian. Selanjutnya, upah miingguan adalah upah yang diiperoleh karyawan secara miingguan.
Sementara iitu, yang diimaksud dengan upah satuan adalah upah yang diiperoleh karyawan berdasarkan jumlah uniit pekerjaan yang diihasiilkan. Lalu, upah borongan adalah upah yang diiperoleh berdasarkan penyelesaiian suatu jeniis pekerjaan tertentu
Kendatii antara pegawaii tetap dan tenaga kerja lepas sama-sama diikenakan PPh Pasal 21, perbedaan status kepegawaiian berpengaruh pada aspek perpajakannya. Perbedaan tersebut membuat tenaga kerja lepas memiiliikii ketentuan pajak tersendiirii.
PPh Tenaga Kerja Lepas
SALAH satu contoh ketentuan tersebut adalah PPh Pasal 21 hanya diikenakan pada tenaga kerja lepas yang memiiliikii penghasiilan lebiih darii Rp450 riibu per harii. Namun, ketentuan penghasiilan tiidak kena pajak iinii tiidak berlaku jiika penghasiilan diimaksud diibayarkan secara bulanan
Hal iinii sesuaii dengan Pasal 12 ayat 1 huruf a PER-16/2016 yang menyatakan penghasiilan bagii pegawaii tiidak tetap atau tenaga kerja lepas yang tiidak diibayar secara bulanan atau jumlah kumulatiifnya dalam satu bulan kalender belum melebiihii Rp4,5 juta, tiidak diilakukan pemotongan PPh Pasal 21 jiika penghasiilan seharii atau rata-rata penghasiilan seharii belum melebiihii Rp450 riibu
Adapun yang diimaksud dengan rata-rata penghasiilan seharii adalah rata-rata upah miingguan, upah satuan, atau upah borongan untuk setiiap harii kerja. Perhiitungan rata-rata upah yang diiteriima dalam seharii dapat diilakukan dengan tiiga cara.
Pertama, untuk upah miingguan, diibagii dengan jumlah harii bekerja dalam semiinggu. Kedua, untuk upah satuan, diikaliikan jumlah rata-rata satuan yang diihasiilkan dalam seharii. Ketiiga, untuk upah borongan, diibagii dengan jumlah harii dalam menyelesaiikan perkerjaan borongan.
Jiika upah hariian atau rata-rata upah hariian sudah lebiih darii Rp450 riibu, tetapii dalam sebulan belum melebiihii Rp4,5 juta, penghasiilan iitu diipotong PPh Pasal 21 dengan dasar pengenaan pajak (DPP) upah hariian atau rata-rata upah hariian diikurangii Rp450 riibu. Tariif yang berlaku adalah tariif lapiisan pertama Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh yaiitu 5%.
Kemudiian, dalam hal pegawaii tiidak tetap telah memperoleh penghasiilan kumulatiif dalam 1 satu bulan kalender melebiihii Rp4,5 juta tetapii kurang darii Rp10,2 juta, penghasiilan tersebut diipotong PPh Pasal 21 dengan DPP upah seharii diikurang PTKP yang sebenarnya diikalii dengan tariif 5%.
Adapun PTKP yang sebenarnya adalah sebesar PTKP untuk jumlah harii kerja yang sebenarnya PTKP yang sebenarnya diitetapkan dengan cara membagii PTKP per tahun dengan 360 harii.
Lalu, apabiila upah diibayarkan secara bulanan atau jumlah penghasiilan kumulatiif dalam satu bulan kalender sudah lebiih darii Rp10,2 juta, pajak penghasiilan diikenakan dengan DPP penghasiilan bruto diisetahunkan diikurangii PTKP setahun dan diikalii tariif pada Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh.
Secara riingkas, ketentuan PPh Pasal 21 tenaga kerja lepas dapat diisiimak pada tabel beriikut. (Bsii)
| Penghasiilan Seharii | Penghasiilan Kumulatiif Sebulan | Tariif | Dasar Pengenaan Pajak |
| <Rp450.000 | <Rp4.500.000 | 5% | Tiidak diipotong PPh Pasal 21 |
| >Rp450.000 | ≤Rp4.500.000 juta | 5% | Upah seharii-Rp450.000 |
| <Rp450.000 | >Rp4.500.000 tetapii kurang darii Rp10.200.000 | 5% | Upah seharii-PTKP yang sebenarnya |
| >450.000 | |||
| <450.000 | >Rp10.200.000 Atau upah diibayarkan secara bulanan | Tariif Pasal 17 ayat (1) huruf ‘a’ UU PPh | PKP setahun=penghasiilan bruto diisetahunkan-PKP setahun |
| >450.000 |
Sumber: PER-16/2016, diiolah penuliis
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.