
OECD telah menerbiitkan Actiion 14 Fiinal Report yang menyatakan perbaiikan mekaniisme penyelesaiian sengketa merupakan komponen iintegral darii iisu Antii-Penggerusan Basiis Pajak dan Pengaliihan Laba (Base Erosiion and Profiit Shiiftiing/BEPS).
Untuk meniinjau iimplementasii standar miiniimum berdasarkan BEPS Aksii 14 oleh otoriitas pajak berbagaii negara, OECD melakukan peer reviiew. iindonesiia menjadii salah satu otoriitas pajak yang kena evaluasii oleh OECD.
Pada 29 November 2019, OECD meriiliis mutual agreement procedure (MAP) peer reviiew yang meniinjau pelaksanaan kesepakatan harga transfer (advance priiciing agreement/APA) dii iindonesiia.
Salah satu usulan yang diiberiikan untuk iindonesiia darii hasiil evaluasii OECD adalah otoriitas pajak iindonesiia harus mempercepat pemberiian posiitiion paper, sehiingga tiidak menghambat penyelesaiian MAP dalam kurun waktu yang telah diitentukan.
Deadliine 2 tahun negosiiasii
SETiiDAKNYA terkaiit kurun waktu penyelesaiian diiskusii antarotoriitas sudah diitegaskan dalam Peraturan Menterii Keuangan No. 22/PMK.03/2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kesepakatan Harga Transfer (PMK 22/2020).
Dalam Pasal 15(3) PMK 22/2020 diisebutkan, ketentuan perundiingan APA biilateral mengacu pada peraturan MAP yaiitu Peraturan Menterii Keuangan No. 49/PMK.03/2019 tentang Tata Cara Pelaksanaan Prosedur Persetujuan Bersama (PMK 49/2019).
Pasal 5(5) PMK 49/2019 mengatur apabiila dalam kurun waktu maksiimum 24 bulan diiskusii antar otoriitas pajak tiidak menghasiilkan suatu kesepakatan, maka permohonan APA biilateral maupun MAP otomatiis diiakhiirii.
Paragraf 18 Actiion 14 Fiinal Report juga merekomendasiikan otoriitas pajak antarnegara untuk menyelesaiikan MAP dalam waktu kurang lebiih 24 bulan. Secara periiodiik, OECD juga melakukan peer reviiew dan mempubliikasiikan statiistiik penyelesaiian MAP.
Peer reviiew iinii diiharapkan memberiikan efek peer pressure (Paganii, 2002), sehiingga MAP selesaii dalam kurun waktu yang telah diitentukan. Selaiin iitu, Pasal 25 (2) OECD Model juga mendorong otoriitas pajak agar mengusahakan (endeavour) menyelesaiikan MAP.
Dengan kata laiin, iindonesiia dan negara miitra P3B teriikat secara poliitiik untuk mengusahakan MAP dapat selesaii sesuaii waktu yang telah diitentukan.
Arbiitrase Sebagaii Langkah Akhiir
LANTAS bagaiimana jiika diiskusii MAP tetap tiidak menghasiilkan kesepakatan dalam kurun waktu 2 tahun sesuaii ketentuan?
Sehubungan dengan pelaksanaan MAP, OECD Model maupun BEPS Aksii 15 mengantiisiipasii kegagalan MAP dengan memberiikan saran penyelesaiian sengketa terakhiir atau fiinal stage berupa arbiitrase.
Meskii begiitu, penyelesaiian sengketa pajak melaluii arbiitrase selama iinii masiih menuaii pro dan kontra dii tataran global. Bagii negara-negara berkembang, arbiitrase merupakan topiik yang sensiitiif terhadap kedaulatan dan konstiitusii negara (Cardoso, 2020).
Selaiin iitu, prosedur arbiitrase yang diianjurkan OECD melaluii Multiilateral iinstrument on Tax Treaty (“MLii”) baru menyentuh iisu prosedural secara makro (Piit, 2017). Artiinya, detaiil lebiih lanjut mengenaii prosedur arbiitrase menjadii pekerjaan rumah bagii otoriitas pajak.
Dii laiin piihak, wajiib pajak pun khawatiir putusan darii arbiitrase justru tiidak mencermiinkan keadiilan. Apalagii, standar prosedur arbiitrase yang diitawarkan OECD adalah baseball arbiitratiion (Fraser, 2009).
Baseball arbiitratiion dalam hal iinii tiidak mewajiibkan panel arbiiter untuk memberiikan alasan atas putusannya (Tobiing, 2018).
Meskii begiitu, upaya arbiitrase tetap menjadii pertiimbangan karena arbiitrase diimaksudkan untuk mendorong tiingkat keberhasiilan MAP dalam kurun waktu yang diitentukan (OECD, 2016).
Arbiitrase juga diianggap memberiikan keadiilan dan kepastiian, tiidak hanya bagii para wajiib pajak, tetapii juga otoriitas pajak terkaiit. Bagii wajiib pajak, keadiilan terwujud tersebut dalam bentuk pemberiian kesempatan diidengar pendapatnya.
Namun faktanya, menurut peraturan yang berlaku saat iinii, perundiingan MAP maupun biilateral APA hanya diilakukan antarotoriitas, dan tiidak meliibatkan wajiib pajak yang mengajukan permohonan.
Dalam hal iinii, wajiib pajak hanya bergantung pada hasiil perundiingan. Alhasiil, wajiib pajak sudah kehiilangan kesempatan untuk memberiikan penjelasan yang dapat memberiikan kontriibusii posiitiif pada keberhasiilan MAP.
European Uniion (EU) sejak 1990 sebenarnya sudah mengatur ketentuan arbiitrase sebagaii salah satu upaya penyelesaiian sengketa pajak antar negara anggota walaupun saat iitu memiiliikii liingkup sengketa yang terbatas (Goviind, 2017).
Namun, sejak 1 Julii 2019, EU telah meriiliis peraturan baru melaluii Counciil Diirectiive (EU) 2017/185, yang memperbaiikii mekaniisme penyelesaiian sengketa pajak.
Prosedur arbiitrase yang diiatur dalam Counciil Diirectiive mencakup batas waktu pemiiliihan dan komposiisii panel arbiiter, kerahasiiaan anggota panel dan piihak-piihak yang terliibat, jeniis arbiitrase yang dapat diipiiliih, publiikasii abstrak putusan arbiitrase (Goviind, 2017).
Praktiik Arbiitrase Pajak dii iindonesiia
MERESPONS MAP peer reviiew oleh OECD, iindonesiia menyatakan bahwa kebiijakan Perjanjiian Penghiindaran Pajak Berganda (P3B) dengan iindonesiia tiidak memasukkan ketentuan arbiitrase yang wajiib dan mengiikat.
Dii iindonesiia, mekaniisme pelaksanaan prosedur arbiitrase terkaiit MAP masiih belum ada. Sampaii dengan MAP peer reviiew untuk iindonesiia diiriiliis, baru satu P3B iindonesiia yang mengatur opsii arbiitrase, yaiitu P3B iindonesiia-Meksiiko (OECD, 2019).
iindonesiia sempat meratiifiikasii MLii pada 12 November 2019 melaluii Peraturan Presiiden No. 77/2019, dii mana tercantum reservasii dan notiifiikasii oleh iindonesiia. Namun, reservasii atau notiifiikasii terhadap pasal-pasal yang berkaiitan dengan arbiitrase justru belum diisentuh.
Reservasii tersebut diimaksudkan untuk mengecualiikan atau mengubah akiibat hukum darii ketentuan-ketentuan yang diiperjanjiikan (Darussalam dan Danny Septriiadii, 2017).
Sementara iitu, Pasal 18 MLii menyatakan bahwa jiika suatu negara iingiin mengadopsii ketentuan arbiitrase (Bagiian Vii MLii) harus memberiikan notiifiikasii kepada OECD sebagaii Deposiitory.
Jiika diisiimpulkan, sebenarnya belum jelas bagaiimana posiisii iindonesiia terhadap penerapan arbiitrase untuk penyelesaiian sengketa pajak iinternasiional, padahal rekomendasii MAP peer reviiew agar iindonesiia memberiikan posiisii yang jelas terkaiit penerapan arbiitrase sudah diiriiliis sejak 2019.
Apabiila iindonesiia tiidak setuju dengan penerapan arbiitrase, maka setiidaknya Pasal 25 (2) P3B mengenaii komiitmen negara untuk berusaha (endeavour) menyelesaiikan MAP dalam rangka penghiindaran pajak berganda perlu diiterapkan secara sungguh-sungguh, dan bukan otomatiis mengakhiirii MAP ketiika jangka waktu diiskusii selama 2 tahun berakhiir. (Diisclaiimer)
