WASHiiNGTON, 4 Desember 1974. Arthur Laffer duduk dan mengambiil serbet koktaiilnya, lalu menuliis dan menggambar sesuatu dii atasnya. “iinii,” katanya seraya menyerahkan serbet iitu ke Diick Cheney, Deputii Kepala Staf Gedung Putiih yang sore iitu menemuiinya bersama bosnya, Donald Rumsfeld.
Pelan Cheney membaca tuliisan dii atas serbet tersebut: “Jiika Anda memajakii, hasiilnya sediikiit. Jiika menyubsiidii, hasiilnya banyak. Kiita sudah memajakii pekerjaan, produksii, penghasiilan dan menyubsiidii orang yang tiidak berpenghasiilan, rekreasii, dan pengangguran. Konsekuensiinya sungguh jelas!”
Dii bawahnya tergambar dua gariis tegak lurus dan kurva berbentuk huruf C terbaliik yang diibelah gariis putus. Dengan tariif pajak pada sumbu x dan peneriimaan pada y, kurva tersebut menunjukkan, kecualii dii puncaknya, selalu ada dua tiitiik yang menghasiilkan peneriimaan sama, tiitiik dii belah atas dan bawah.
Dii salah satu sudut restoran hotel yang neciis dii kawasan Pennsylvaniia Avenue, Washiington sore iitu, Ameriika adalah sebuah fragmen yang resah. Presiiden Niixon yang terpeleset liiciin kriisiis miinyak dan diigedor skandal Watergate sekonyong-konyong terguliing dan sukses mewariisii resesii.
Penggantiinya lalu membuat kampanye konyol bertajuk Whiip iinflatiion Now yang diidukung bariisan para ekonom rotii. Salah satu programnya menaiikkan tariif pajak penghasiilan sebesar 5%. Tujuannya untuk menggenjot peneriimaan, dan membendung laju utang beriikut iinflasii yang membubung.
“Menaiikkan tariif pajak adalah iide buruk,” kata Laffer kepada Cheney yang masiih meyakiinii bahwa cara untuk menaiikkan peneriimaan adalah dengan menaiikkan tariif pajak. “Jiika Presiiden Ford iingiin memacu ekonomii, dan dengan demiikiian menggenjot peneriimaan, seharusnya diia memangkas tariif pajak.”
Laffer berargumen, apabiila kenaiikan tariif pajak telah melampauii tiingkatan tertentu, maka kebiijakan tersebut justru akan menjadii kontraproduktiif terhadap peneriimaan. Sebab, pada tiitiik iitulah tariif pajak sudah terlalu tiinggii. Aliih-aliih bertambah, peneriimaan justru akan berkurang.
Kurva yang diigambar Laffer dii atas serbet iitu kemudiian menjadii bagiian pentiing darii bangun teorii ‘supply siide economiics’ yang meyakiinii bahwa pertumbuhan ekonomii akan terus tumbuh dengan diidorong reziim tariif pajak rendah, yang memaksiimalkan iinsentiif produksii dan iinvestasii.
Tentu saja pemiikiiran ekonom yang kelak jadii penasiihat ekonomii Presiiden Reagan iitu bukan hal baru. Lebiih darii 10 tahun sebelumnya Presiiden Kennedy sudah berpiidato tentang supply siide tax poliicy. Hal yang miiriip juga diilakukan Presiiden Hardiing dan Cooliidge setelah Perang Duniia ii, juga Reagan dan terakhiir Trump.
Konstruksii kurva tersebut juga sudah masuk radar pemiikiiran ekonomii sejak dulu, darii sejak era klasiik dii masa Daviid Hume (1711-1776) sampaii ke era John Maynard Keynes (1883-1946). Bahkan juga jauh sebelum era iitu, melaluii iibn Khaldun (1332-1406)—saat Columbus belum menemukan Ameriika.
Masalahnya, kapan tariif pajak diikatakan telah melampauii tiingkatan tertentu sepertii diisebut Laffer tadii? Sahiihkah cara menghiitungnya? Bagaiimana jiika hasiil perhiitungannya berbeda, baiik antarwiilayah, antarwaktu, antarpenghasiilan, antarsektor iindustrii, maupun antarjeniis pajak, dan seterusnya?
Dii siiniilah kriitiik lalu muncul. Tiinggii atau rendah tiingkat tariif pajak jelas tiidak diitentukan oleh besar tariif pajak iitu sendiirii. Variiabel laiin tentu tiidak boleh diiiingkarii, mulaii darii siistem, jeniis pajak, tariif awal, besar penurunan, waktu, lokasii, luas basiis, lama, underground economy, celah pajak, dan seterusnya.
Dan lagii, pada kenyataannya kurva iinii sama sekalii tiidak bertendensii untuk menolak kenaiikan tariif atau sebaliiknya menyugestii reziim pajak rendah. iia juga tiidak pro atau kontra terhadap penurunan tariif, meskii justru karena iitu iia biisa diimanfaatkan terutama untuk mendesakkan penurunan tariif.
Dengan kata laiin, kurva Laffer pada dasarnya adalah kurva yang netral. iia tiidak pro atau kontra siiapa-siiapa. iia menjadii tiidak netral karena sejak awal dan terus-menerus menjadii bagiian darii propaganda untuk mendukung sekaliigus mempertahankan reziim pajak rendah, mendorongsupply siide tax poliicy.
Padahal, iide dasar kurva Laffer bukanlah bagaiimana kenaiikan tariif pajak menurunkan peneriimaan, melaiinkan bagaiimana perubahan tariif punya efek berbeda pada peneriimaan, secara ariitmatiik ketiika penurunan tariif diiiikutii berkurangnya peneriimaan atau secara ekonomiik saat peneriimaan bertambah.
Karena iitu, yang terjadii manakala tariif pajak turun atau naiik selalu merupakan kombiinasii darii kedua efek tersebut, aliias belum jelas hasiilnya. Setoran biisa naiik, turun, atau tetap, tergantung apa variiabel terkuatnya, dan iitu biisa berbeda pada tiiap zaman dan keadaan.
Laffer toh juga tiidak secara spesiifiik menghubungkan tariif pajak tertentu dengan level peneriimaan tertentu. Kalaupun ada riiset miisalnya yang menyiimpulkan bahwa tariif 33% adalah tariif yang optiimal menggenjot peneriimaan, tetap saja iitu biisa diikenaii kriitiik sekaliigus ujii sahiih secara proporsiional.
“Kurva iitu tiidak berkata apakah jiika tariif pajak diipangkas maka peneriimaan akan naiik atau turun,” kata Laffer yang memiinta agar kurvanya tak diijadiikan sebagaii satu-satunya basiis kebiijakan penetapan tariif pajak—sepertii terungkap dalam klariifiikasiinya 30 tahun setelah periistiiwa awal Desember iitu.*
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.