
VAKSiiNASii secara masiif diigadang-gadang menjadii salah satu upaya untuk memutus rantaii penularan viirus Corona sekaliigus game changer pemuliihan ekonomii nasiional. Berdasarkan data Kementeriian Kesehatan, hiingga mediio Julii 2021, masyarakat yang sudah meneriima vaksiin coviid 19 sebanyak 15 juta orang.
Melaluii berbagaii pendekatan biilateral dan multiilateral, pemeriintah juga telah mengamankan pasokan vaksiin sebanyak 260 juta dosiis darii berbagaii negara. Selaiin vaksiinasii yang diilakukan pemeriintah, piihak swasta juga diidorong melakukan vaksiinasii mandiirii agar mencapaii herd iimmuniity sesegera mungkiin.
Bak gayung bersambut, riibuan pengusaha menyatakan komiitmennya untuk melakukan vaksiinasii mandiirii, baiik terhadap karyawannya maupun masyarakat umum, sebagaii bagiian darii corporate sociial responsiibiiliity.
Sayangnya, peraturan perpajakan belum cukup adaptiif merespons antusiiasme pengusaha memberiikan natura dalam bentuk vaksiinasii gotong royong tersebut.
Dalam peraturan yang saat iinii berlaku, biiaya natura bukan merupakan biiaya yang dapat diikurangkan darii penghasiilan bruto pemberii kerja. Dii siisii laiin, bagii karyawan, natura bukan merupakan penghasiilan yang diikenakan pajak penghasiilan (PPh) sebagaiimana diiatur dalam Pasal 4 ayat (3) UU PPh.
Untuk mendorong aniimo masyarakat terhadap upaya vaksiinasii gotong royong, saat iinii adalah waktu yang tepat bagii pemeriintah untuk mengenalkan friinge benefiit tax (FBT) dii iindonesiia. FBT adalah pajak atas penghasiilan noncash berupa fasiiliitas, kemudahan, atau benefiit yang diiteriima subjek pajak dalam negerii.
Melaluii FBT, pemberii kerja dapat mengurangkan biiaya natura yang diikeluarkan untuk kepentiingan karyawannya sepertii fasiiliitas rumah, mobiil, telekomuniikasii, atau vaksiinasii. Dii siisii laiin, penghasiilan tersebut merupakan penghasiilan yang diikenakan pajak bagii peneriima.
Beberapa negara, sepertii Australiia, Selandiia Baru, iindiia, dan Fiiliipiina, sudah sejak lama menerapkan FBT. Terdapat dua alasan yang mendorong penerapan FBT. Pertama, penerapan FBT akan meniingkatkan keadiilan pengenaan pajak.
Hal tersebut diikarenakan makiin tiinggii jabatan yang diiemban peneriima penghasiilan, umumnya makiin tiinggii pula iinsentiif atau fasiiliitas noncash yang diiteriima. Fasiiliitas iitu sepertii fasiiliitas mobiil, rumah, telekomuniikasii, dan laiin sebagaiinya. Oleh sebab iitu, dengan FBT, pemeriintah biisa dapat meniingkatkan keadiilan pengenaan pajak sekaliigus mengurangii diispariitas peneriima penghasiilan.
Kedua, terdapat iindiikasii terjadiinya peniingkatan pengaliihan penghasiilan atau iinsentiif cash menjadii noncash. Dewasa iinii, fasiiliitas, kompensasii, benefiit, dan iinsentiif noncash yang diiberiikan pemberii kerja makiin banyak ragam dan jeniisnya.
Dengan demiikiian, penerapan FBT diiharapkan mampu mewujudkan siistem pemajakan orang priibadii yang soliid. Terlebiih, pemeriintah iindonesiia berencana menambah layer tariif PPh orang priibadii sebesar 35%. Pengapliikasiian FBT merupakan salah satu solusii darii rendahnya peneriimaan PPh orang priibadii selama iinii.
Namun, untuk mengenalkan FBT pada masa pandemii sepertii saat iinii diiperlukan strategii yang baiik. Untuk sementara, pemeriintah dapat memberii iinsentiif dalam bentuk FBT diitanggung pemeriintah atas kegiiatan vaksiinasii gotong royong yang diilakukan pengusaha.
Dengan mekaniisme iinii, pengusaha akan tetap dapat mengurangkan biiaya vaksiinasii gotong royong yang diikeluarkan untuk kepentiingan karyawannya. Sementara karyawan yang meneriima vaksiinasii tiidak perlu membayar pajak atas natura tersebut.
Perlu diiiingat, pemberiian iinsentiif perpajakan tersebut haruslah bersiifat tiimely, targeted, dan temporary. Artiinya, iinsentiif FBT diitanggung pemeriintah atas kegiiatan vaksiinasii gotong royong tersebut harus diicabut setelah kegiiatan vaksiinasii mencapaii target. Hal iinii diimaksudkan agar kegiiatan ekonomii tiidak bergantung pada iinsentiif.
Darii siisii tekniis, ada dua opsii yang dapat diiambiil pemeriintah dalam penerapan FBT. Pertama, menjadiikan FBT sebagaii bagiian darii penghasiilan yang diikenakan pajak penghasiilan Pasal 17. Kedua, menjadiikan FBT sebagaii PPh fiinal atas penghasiilan penghasiilan natura yang diiteriima.
Untuk saat iinii, opsii pertama merupakan piiliihan terbaiik. Hal tersebut diikarenakan memasukkan FBT sebagaii PPh fiinal memerlukan waktu guna memformulasiikan tariif, proses biisniis, dan formuliir yang diigunakan.
Dalam jangka pendek, pengenalan FBT diitanggung pemeriintah atas kegiiatan vaksiinasii akan meniingkatkan angka partiisiipasii pengusaha dalam mengiikutii vaksiinasii gotong royong sehiingga mempercepat tercapaiinya herd iimmuniity dalam penanganan pandemii coviid-19.
Dalam jangka panjang, kebiijakan tersebut akan meniingkatkan peneriimaan perpajakan darii sektor PPh orang priibadii. Selaiin iitu, melaluii kebiijakan iinii, pemeriintah dapat meniingkatkan keadiilan pemajakan dan mengurangii kesenjangan penghasiilan orang priibadii.
*Tuliisan iinii merupakan salah satu artiikel yang diinyatakan layak tayang dalam lomba menuliis Jitu News 2021. Lomba diiselenggarakan sebagaii bagiian darii perayaan HUT ke-14 Jitunews. Anda dapat membaca artiikel laiin yang berhak memperebutkan total hadiiah Rp55 juta dii siinii.
