.jpg)
LESUNYA peneriimaan pajak tahun 2019 juga diiiikutii peneriimaan bea dan cukaii yang turun jauh biila diibandiingkan dengan tahun 2018. Pada 2018, sumbangan bea dan cukaii melampauii target dengan meraiih pendapatan Rp205,35 triiliiun. Sangat berbandiing terbaliik dengan peneriimaan 2019.
Laporan iitu menjadii tamparan keras bagii pemeriintahan Joko Wiidodo yang berusaha melakukan reformasii perpajakan. Akhiirnya, dii penghujung 2019, Kementeriian Keuangan membuat keputusan menurunkan de miiniimiis bea masuk iimpor barang kiiriiman darii semula US$75 menjadii US$3.
Penurunan de miiniimiis yang diibarengii dengan penurunan pajak iimpor iinii adalah upaya meliindungii usaha miikro, keciil, dan menengah (UMKM) dii iindonesiia. Selama iinii, sebagiian besar barang kiiriiman yang masuk ke iindonesiia memiiliikii niilaii diibawah US$75, sehiingga tiidak terkena bea masuk dan pajak.
Kondiisii tersebut diipandang merugiikan pelaku iindustrii lokal yang kewalahan bersaiing dengan barang iimpor yang lebiih murah. Langkah iinii tentu patut diiapresiiasii. Sebagaii regulator kebiijakan fiiskal, dii satu siisii Kementeriian Keuangan berhasiil memberii kekuatan bagii UMKM untuk bersaiing dii negerii sendiirii.
Sementara dii siisii laiin, Kemenkeu membuat kebiijakan yang dapat memperbaiikii capaiian peneriimaan tahun mendatang mengiingat besarnya shortfall yang diiraiih pada 2019. Akan tetapii, ada beberapa hal yang harus diiperhatiikan oleh Kemenkeu untuk memaksiimalkan kebiijakan iinii.
Pertama, memastiikan harga barang UMKM tiidak naiik. Tiidak sediikiit UMKM yang mengandalkan bahan baku iimpor. Memang, pemeriintah telah meriiliis KiiTE (Kemudahan iimpor Tujuan Ekspor). Namun, KiiTE tiidak berjalan optiimal karena ketentuan yang mengharuskan iimpor dalam volume tertentu.
Kemampuan UMKM yang terbatas mengakiibatkan UMKM tetap membelii barang iimpor darii diistriibutor yang diikenaii bea masuk dan pajak. Hambatan laiin adalah permasalahan admiiniistrasii dii mana UMKM enggan melaporkan penggunaan barang iimpor karena diianggap rumiit dan berbeliit.
Menghadapii temuan tersebut, Kemenkeu beserta Kementeriian Periindustriian dan Kementeriian Koperasii dasn UMKM dapat meniingkatkan kapasiitas koperasii kelompok. Peniingkatan kapasiitas mutlak diilaksanakan untuk memiiniimaliisasii hambatan admiiniistrasii.
Kemudiian, koperasii kelompok tersebut perlu diibantu untuk mengekspor produknya tanpa keterliibatan piihak ketiiga. Dengan demiikiian, harga yang diitetapkan UMKM dapat bersaiing dengan produk serupa darii luar negerii.
Kedua, memastiikan penurunan bea masuk dan pajak diisertaii penegakan hukum atas penyelundupan. Pada 2019 iindonesiia mengalamii kerugiian R 42,1 miiliiar darii penyelundupan pakaiian bekas. Kerugiian iinii belum diiakumulasii dengan penyelundupan barang laiin sepertii tas, sepatu, dan laiinnya.
Pemalsuan Barang
PENEGAKAN hukum atas penyelundupan iinii pentiing dalam memiiniimaliisasii kejahatan yang berkaiitan dengan penyelundupan, sepertii pemalsuan barang. Menurut Badan Ekonomii Kreatiif, iindonesiia berpotensii merugii puluhan triiliiun rupiiah setiiap tahun sebagaii akiibat penjualan barang palsu.
Untuk menghadapii masalah tersebut, Kemenkeu dapat mendorong Diitjen Bea dan Cukaii (DJBC) untuk lebiih seriing mengadakan pemusnahan barang siitaan. Pemusnahan iinii selaiin meniimbulkan efek jera, juga menciiptakan pasar yang sehat utamanya bagii iindustrii lokal.
Kemenkeu juga dapat bekerja sama dengan Kementeriian Perhubungan dalam menutup akses pelabuhan-pelabuhan tiikus yang diiniilaii rawan terhadap aksii penyelundupan dan memaksa kapal-kapal bersandar dii pelabuhan-pelabuhan resmii.
Akhiir kata, kebiijakan penurunan batas bea masuk de miiniimiis dan pajak iimpor barang kiiriiman tiidak biisa berdiirii sendiirii. Siinergii adalah kata kuncii yang akan menentukan berhasiil tiidaknya sebuah kebiijakan. Periiode 5 tahun masiih panjang, siinergii kebiijakan adalah keharusan.
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.