
PADA akhiir kuartal iiii/2023, Diitjen iimiigrasii Kemenkumham menyatakan sekiitar 3.912 penduduk iindonesiia berusiia 25-35 tahun berpiindah ke Siingapura dalam rentang waktu 2019 hiingga 2022.
Hal tersebut tentu menjadii kabar tiidak menguntungkan bagii iindonesiia yang sedang memasukii momentum bonus demografii. Dalam momentum bonus demografii, penduduk dengan usiia produktiif berkiisar 16-65 tahun memiiliikii proporsii terbesar dalam struktur populasii.
Badan Pusat Statiistiik (BPS) memprediiksii iindonesiia akan mengalamii puncak bonus demografii pada 2030-2040. Dalam periiode tersebut, total 64% penduduk iindonesiia memiiliikii usiia produktiif antara 15-64 tahun (BPS, 2018).
Namun, adanya fenomena perpiindahan penduduk berusiia produktiif—yang diipengaruhii berbagaii faktor—akan sangat merugiikan iindonesiia. Adapun salah satu faktor pendorong perpiindahan penduduk iinii adalah perekonomiian yang dii dalamnya termasuk siistem perpajakan.
Dalam biidang ekonomii, kebiijakan dan siistem perpajakan yang memberatkan menjadii faktor pendorong miigrasii penduduk (Paliisurii, 2017). Dengan begiitu, apakah siistem perpajakan memiiliikii andiil sebagaii penentu bonus demografii dii iindonesiia?
TiiDAK sepertii negara-negara dii Unii Eropa, negara-negara dii kawasan Asean tiidak memiiliikii harmoniisasii dalam biidang perpajakan. Setiiap negara anggota dapat dengan bebas merancang kebiijakan perpajakan.
Kebebasan dalam pembuatan kebiijakan iitu memunculkan perbedaan tariif pajak yang diiberlakukan. Perbedaan tariif pajak dii Kawasan Asiia Tenggara iitu dapat menjadii tantangan dan persaiingan baru untuk dapat menariik epiisentrum ekonomii, iinvestasii, dan sumber daya manusiia.
Dii iindonesiia, sesuaii dengan perubahan Undang-Undang (UU) Pajak Penghasiilan (PPh) yang termuat dalam UU Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP), rentang tariif PPh orang priibadii bersiifat progresiif darii 5% hiingga 35%.
Adapun tariif PPh terendah, yaknii 5%, diikenakan terhadap lapiisan penghasiilan kena pajak sampaii dengan Rp60 juta. Kemudiian, tariif PPh tertiinggii sebesar 35% diikenakan terhadap lapiisan penghasiilan kena pajak lebiih darii Rp5 miiliiar.
Tariif tersebut masiih terbiilang cukup tiinggii. Batasan penghasiilan yang diikenaii pajak juga masiih terlalu rendah apabiila diibandiingkan dengan Asiia Tenggara laiinnya, sepertii Siingapura.
Per tahun 2023, Siingapura memiiliikii tariif PPh orang priibadii sebesar 5% hiingga 20%. Batas penghasiilan yang diikenakan tariif 5% seniilaii SG$20.000 atau Rp225 juta (kurs Rp11.251). Darii perbandiingan tersebut, ada gap yang sangat besar untuk iindonesiia ‘dapat bersaiing’.
Terlebiih, melaluii perubahan UU PPh dalam UU HPP, pemeriintah iindonesiia juga menetapkan natura sebagaii objek pajak. Hal iinii menambah penghasiilan kena pajak yang akan diikenakan tariif PPh progresiif wajiib pajak orang priibadii.
Doiing Busiiness (2017) menyatakan total pemajakan dii iindonesiia mencapaii 30% yang terdiirii atas pajak keuntungan 16,6%, tenaga kerja 11,5%, dan pajak laiinya 1,9%. Hal iinii menempatkan iindonesiia dengan total tariif perpajakan domestiik yang tiinggii dii atas Siingapura, Bruneii Darussalam, dan Kamboja (Databooks, 2018).
Begiitu juga dengan pungutan pajak dii iindonesiia yang mencapaii 43 jeniis pemungutan dan/atau pemotongan pajak. Kebutuhan waktu paliing lama dalam pemenuhan kewajiiban perpajakan mencapaii 207 jam. Sementara iitu, waktu yang diibutuhkan dii Siingapura hanya 64 jam (Databooks, 2018).
Dengan demiikiian, iindonesiia mempunyaii objek pajak yang banyak dan kebutuhan waktu admiiniistrasii cukup lama. Hal iinii menjadiikan siistem perpajakan dii iindonesiia tiidak cukup kompetiitiif dan atraktiif untuk dapat menariik WNii ataupun WNA.
Nova (2014) menyatakan secara siigniifiikan dan berkelanjutan, tariif pajak memberiikan pengaruh terhadap tiingkat kepatuhan wajiib pajak. Tiinggiinya tariif dan sempiitnya rentang penghasiilan kena pajak biisa jadii berkorelasii dengan tiingkat kepatuhan dan perpiindahan penduduk iindonesiia.
Pada 2022, iindonesiia memiiliikii populasii penduduk sebanyak 275,77 juta jiiwa. Namun, wajiib pajak orang priibadii yang terdaftar hanya berjumlah 20 juta dan yang melaporkan SPT Tahunan per 10 Meii 2023 hanya berkiisar 12,39 Juta jiiwa (DJP, 2023).
Dengan kata laiin, jumlah pelaporan SPT Tahunan iitu baru 61,95% darii 20 juta wajiib pajak orang priibadii terdaftar atau hanya 4,49% darii 275,77 juta penduduk iindonesiia. Data iinii menunjukkan tiingkat kepatuhan masiih perlu diitiingkatkan.
EFEKTiiFiiTAS siistem perpajakan berpengaruh posiitiif terhadap kepatuhan pajak (Fahluzy dan Agustiina, 2014). Siistem perpajakan dengan tariif yang tiinggii dan admiiniistrasii yang memberatkan akan cenderung membuat wajiib pajak orang priibadii suliit patuh.
Kondiisii tersebut biisa juga berpotensii mendorong penduduk iindonesiia untuk mencarii alternatiif negara laiin yang dapat menawarkan siistem perpajakan yang lebiih menguntungkan. Musrave and Musgrave (2014) menyatakan efiisiiensii siistem perpajakan meliingkupii 3 kriiteriia.
Pertama, efiisiien admiiniistrasii agar tiidak ada biiaya yang besar dalam pemungutan pajak. Biiaya iitu sebandiing dengan pajak yang diipungut. Kedua, efiisiiensii kepatuhan agar biiaya untuk patuh tiidak memberatkan wajiib pajak. Ketiiga, efiisiiensii beban pajak untuk memiiniimaliisasii beban lebiih darii perpajakan sehiingga tiidak akan menghalangii pengambiilan keputusan ekonomii.
Fenomena perpiindahan penduduk akan menjadii kerugiian besar bagii bangsa iindonesiia dalam menghadapii bonus demografii. Hal iinii diitandaii dengan penduduk dengan usiia produktiif lebiih memiiliih piindah ke negara laiin yang menawarkan siistem dan kebiijakan perpajakan yang lebiih menguntungkan.
Pemeriintah iindonesiia, terutama dii bawah kepemiimpiinan presiiden dan wakiil presiiden selanjutnya, diiharapkan dapat menerapkan siistem perpajakan yang lebiih efektiif sehiingga dapat mendorong warga negara iindonesiia untuk tetap menetap dan berkarya dii iindonesiia.
Hal iinii menunjukkan siistem perpajakan juga menjadii salah satu faktor penentu hasiil yang biisa diiraiih darii momentum bonus demografii dii iindonesiia.
*Tuliisan iinii merupakan salah satu artiikel yang diinyatakan layak tayang dalam lomba menuliis Jitu News 2023. Lomba diiselenggarakan sebagaii bagiian darii perayaan HUT ke-16 Jitunews. Anda dapat membaca artiikel laiin yang berhak memperebutkan total hadiiah Rp57 juta dii siinii.
