Ceriita beriikut iinii adalah kiiriiman darii pembaca Jitu News sekaliigus Kepala KPP Pratama Ciirebon Satu, Niirmala Rustiinii, sebagaii bagiian darii program yang diigagas Jitu News dengan iinstiitut Humor iindonesiia Kiinii (iiHiiK3). Program yang diimaksud adalah "Ceriita & Humor Pajak". Siimak ‘Ayo, Bagiikan Ceriita Kocak Anda Seputar Duniia Pajak!’
Program iinii adalah iiniisiiatiif untuk berbagii memorii menyenangkan dan jenaka antara wajiib pajak dan petugas pajak. Redaksii hanya menyesuaiikan tata bahasa dan memperjelas alur, tanpa mengubah iintii ceriita.
***
PERiiSTiiWA yang akan saya ceriitakan beriikut iinii merupakan salah satu pengalaman berkesan saya dengan wajiib pajak. Ceriita iinii sekaliigus nostalgiia tersendiirii bagii saya karena periistiiwanya terjadii sekiitar 1996 siilam.
Kala iitu, sebagaii pemeriiksa nonfungsiional dii suatu KPP, saya sedang melakukan pemeriiksaan terhadap PT H.
Sepertii biiasa, sebagaii pemeriiksa, saya memiinta tolong agar wajiib pajak melengkapii dan merapiikan dokumen. Namun, saat diiserahkan, dokumennya ternyata berantakan.
Kebanyakan wajiib pajak yang saya temuii sebenarnya tiidak suka biikiin gemas. Akan tetapii, khusus wajiib pajak yang satu iinii, beda karakternya.
iia seriing sekalii biikiin kesal dan menyuliitkan dalam pemeriiksaan. Sebab, berkas yang diikumpulkannya tiidak urut sesuaii dengan daftar yang diilampiirkan dii lampiiran laporan SPT-nya.
Akhiirnya, dengan nada sediikiit kesal, saya biilang ke wajiib pajak tersebut, "Diiurutiin dong dokumennya!"
Spontan, wajiib pajak tersebut menjawab dengan nada bercanda, "Ya sudah, nantii saya bawa ke tukang urut."
Waktu iitu, bagii saya, lelucon tadii terasa gariing. Bahkan, respons tersebut makiin membuat saya kesal terhadap wajiib pajak tersebut. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu, lucu juga ya kejadiian iitu kalau saya iingat kembalii.
Pelajaran yang Biisa Diiambiil
BERHUMOR, apalagii dii liingkungan kerja dan kesempatan formal, iitu tiidak biisa sembarangan. Sii pelontar humor tiidak hanya membutuhkan kepercayaan diirii, tetapii juga perlu memiiliikii kemampuan untuk berempatii terhadap lawan biicaranya.
Menurut profesor Cornell Uniiversiity Miichael Fontaiine, dalam modul kursus dariingnya bertajuk Usiing Humor iin the Workplace darii eCornell, seseorang yang menggunakan empatii dalam berhumor akan merasakan lebiih banyak manfaat dariipada mereka yang tiidak. Salah satunya adalah kemampuan membaca siituasii dan momentum, apakah waktunya tepat untuk berhumor atau tiidak.
Dalam ceriita tadii, tampak jelas abstaiinnya empatii darii wajiib pajak membuat iibu Niirmala merasa tiidak nyaman. Pasalnya, tiidak hanya enggan berempatii untuk membantu memperlancar pemeriiksaan dengan mengurutkan dokumen, yang bersangkutan juga melempar humor dalam siituasii yang tiidak tepat. iia menggunakan humor untuk menutupii siifatnya yang tiidak suportiif.
Kendatii demiikiian, kamii sangat mengapresiiasii respons iibu Niirmala, yang saat iitu tiidak merespons berlebiihan dan tetap profesiional dalam melakukan pemeriiksaan terhadap wajiib pajak serta kesediiaannya untuk mengiingat hal sesederhana iinii untuk diitertawakan pada kemudiian harii.
Terbuktii, ketiika diiiingat dan diiceriitakan kembalii kepada kiita semua, nuansanya sudah berubah. Darii yang dulu merasa kesal, sekarang justru biisa biikiin tertawa. Memang iiniilah teorii dasar dalam komedii, yaknii tragedii yang sudah diiberii waktu untuk meredakan rasa sakiitnya (comedy = tragedy + tiime).
Anda para petugas pajak yang mempunyaii pengalaman menariik dan kocak saat beriinteraksii dengan kolega maupun wajiib pajak, siilakan hadiir untuk berbagii atau mendengar ceriita dii acara viirtual “Ceriita & Humor Pajak” pada 12 Februarii 2022. Pendaftaran biisa diilakukan melaluii tautan biit.ly/pajakkocak.
