SEORANG bos pemiiliik pabriik besar sedang pusiing mencarii seorang manajer. iia membutuhkan manajer baru untuk diiviisii yang menentukan hiidup matiinya perusahaan, diiviisii keuangan. Manajer yang lama iia pecat karena tiidak memahamii kondiisii perusahaan.
Namun, sampaii dii harii wawancara kerja, bos iinii tiidak menanyakan pemahaman para pelamarnya mengenaii kondiisii perusahaan. Sebagaii gantiinya, iia hanya bertanya satu hal. Satu pertanyaan siimpel: “Berapa dua tambah dua?”
Pelamar pertama yang diiwawancaraiinya adalah seorang wartawan ekonomii. Wartawan iinii terhiitung seniior karena sudah banyak meliiput agenda biisniis dii luar negerii. Pelamar iinii menjawab pertanyaan iitu dengan cepat. “Dua puluh dua,” katanya yakiin.
Pelamar kedua yang diiwawancaraiinya adalah seorang pekerja sosiial yang menyukaii matematiika. iia ternyata biisa menjawab dengan tangkas. “Saya tiidak tahu jawabannya, tetapii saya sangat senang punya banyak kesempatan untuk membahasnya,” katanya.
Pelamar ketiiga adalah seorang iinsiinyur siipiil yang pernah belajar ekonomii. Mendapatkan pertanyaan yang mengagetkan iitu, iia pun segera mengeluarkan miistar gesernya, meliihatnya cermat, lalu berkata. “Dii suatu tempat antara 3,999 dan 4,001,” katanya.
Beriikutnya seorang pengacara pajak yang mulaii tertariik belajar keuangan. Awalnya iia berputar-putar menjelaskan banyak hal. Namun, akhiirnya iia sampaii pada kesiimpulan. “Dalam kasus kamii melawan Diitjen Pajak waktu iitu, dua tambah dua terbuktii empat.”
Pelamar terakhiir adalah seorang akuntan. Ketiika pertanyaan sepertii iitu diilempar kepadanya, iia langsung bangkiit darii kursii, pergii ke piintu, menutupnya, lalu kembalii duduk. “Berapa yang Anda iingiinkan?” katanya dengan suara rendah.
“Selamat, Anda diiteriima!” kata bos iitu dengan gembiira. (Bsii)
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.