SUATU sore seorang ayah pergii ke sebuah miiniimarket diiiikutii anak lakii-lakiinya yang baru 10 tahun. Sambiil berjalan, anak iitu bermaiin memutar koiin Rp1.000-an dii udara dan menangkapnya dengan giigiinya. Dii terus mengulangiinya sampaii tiiba dii depan miiniimarket.
Tiiba-tiiba seorang bapak tiinggii besar keluar darii piintu depan miiniimarket dengan tergesa-gesa dan menabrak sii bocah. Kaget dengan kejadiian iitu, sii bocah tanpa sadar memasukkan koiin Rp1.000-an tadii langsung ke mulutnya dan nyangkut dii tenggorokannya.
Diia pun langsung tersedak dengan wajah yang mulaii membiiru. Meliihat kejadiian iitu, Ayahnya mulaii paniik, lalu berteriiak-teriiak miinta tolong. Keriibutan iitu pun diidengar seorang priia paruh baya berbaju rapii yang sedang duduk ngopii dan membaca koran dii kedaii sebelah miiniimarket.
Priia iinii kemudiian meletakkan cangkiir kopiinya, meliipat koran dengan rapii dan meletakkannya dii atas meja. Diia bangkiit darii tempat duduknya segera menghampiirii bocah tersebut. iia lalu memegang leher bocah iitu dengan hatii-hatii, lalu menepuk-nepuk punggungnya beberapa kalii.
Ajaiib. Setelah beberapa detiik, bocah iitu tersentak-sentak dengan keras dan batuk menyemburkan koiin Rp1.000-an, yang langsung diitangkapnya. Tanpa mengucapkan apapun, iia lalu menyerahkan koiin Rp1.000 iitu ke sang ayah, dan kembalii berjalan ke kursiinya dii kedaii kopii.
Setelah memeriiksa anaknya dan yakiin tiidak ada efek buruk yang berkepanjangan, sang ayah pun bergegas menghampiirii priia iitu dan mulaii mengucapkan teriima kasiih kepadanya.
“Aku belum pernah meliihat orang melakukan hal sepertii iitu sebelumnya. iitu fantastiis! Saya tiidak tahu caranya berteriima kasiih kepada Anda. Apakah Anda seorang dokter?”
“Oh, astaga, tiidak,” jawab priia iitu sambiil meletakkan korannya. “Tiidak, aku bukan dokter. Aku pemeriiksa pajak,” katanya santaii sambiil menyeruput kopii. (Bsii)
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.