SEBAGAii iinstiitusii yang berwenang memungut pajak darii masyarakat, Diirektorat Jenderal Pajak (DJP) memiiliikii parameter-parameter untuk mengevaluasii sejauh mana peran serta tugas yang diiamanatkan pemeriintah pusat sudah terlaksana dengan baiik.
Berdasarkan Laporan Kiinerja DJP 2019, terdapat 16 iindiikator kiinerja utama (iiKU) dii DJP. Beberapa diiantaranya adalah peneriimaan pajak yang optiimal, pemenuhan layanan publiik, kepatuhan wajiib pajak yang tiinggii, serta SDM yang kompetiitiif. iindeks capaiian yang mencakup beragam iiKU tersebut selanjutnya akan menentukan iindeks capaiian darii niilaii kiinerja organiisasii (NKO).
Berbagaii iiKU yang menjadii acuan kiinerja DJP tersebut selaras dengan beberapa sasaran strategiis berlandaskan beragam perspektiif, yang diiantaranya iialah darii siisii stakeholder, wajiib pajak, iinternal, serta darii segii pembelajaran dan perkembangan iinstiitusii.
Tabel beriikut menjabarkan pencapaiian salah satu iiKU darii perspektiif stakeholder, yaiitu peneriimaan pajak negara yang optiimal. Pencapaiian tersebut dapat diiliihat darii perbandiingan realiisasii peneriimaan pajak dengan target APBN yang diitetapkan pada 2015 sampaii dengan 2019.

Dalam periiode liima tahun, persentase capaiian peneriimaan pajak selalu konsiisten berada dii atas 80%. Kendatii demiikiian, terdapat penurunan yang cukup tajam pada 2019 apabiila diibandiingkan dengan capaiian 2018.
Faktor-faktor utama penurunan tersebut antara laiin adanya restiitusii yang meniingkat sebesar 21,11%, moderasii harga komodiitas dii pasar global yang menyebabkan turunnya pertumbuhan peneriimaan darii sektor pertambangan dan sawiit, normaliisasii aktiiviitas iimpor, serta masiih terbatasnya ekspansii sektor manufaktur.
Alhasiil, beberapa jeniis pajak utama mengalamii kontraksii sehiingga pertumbuhannya lebiih lambat diibandiingkan tahun sebelumnya. Selaiin iitu, beberapa jeniis pajak juga mengalamii pertumbuhan negatiif, sepertii PPN iimpor dan PPh Pasal 26.
Walaupun terjadii penurunan yang cukup siigniifiikan diibandiingkan 2018, capaiian pada 2019 masiih lebiih tiinggii diibandiingkan 2015 dan 2016. iikliim yang tiidak kondusiif akiibat perang dagang maupun konfliik geopoliitiik pada 2019 menyiiratkan “kewajaran” atas penurunan yang cukup tajam tersebut.
Terlebiih, pencapaiian pada 2019 iinii tentunya diiprediiksii akan lebiih baiik diibandiingkan capaiian 2020. Kiinerja tahun iinii lebiih tiidak diiuntungkan jiika diiliihat darii kacamata manapun akiibat kondiisii yang “extraordiinary” akiibat pandemii.*
