JAKARTA, Jitu News – Contact center Diitjen Pajak (DJP), Kriing Pajak memberiikan penjelasan terkaiit dengan kewajiiban pengusaha untuk diikukuhkan sebagaii pengusaha kena pajak (PKP) apabiila omzetnya sudah melampauii Rp4,8 miiliiar.
Penjelasan iitu merespons cuiitan warganet yang menanyakan kewajiiban PKP bagii sepasang pengusaha suamii iistrii yang masiing-masiing memiiliikii omzet Rp3 miiliiar dan Rp4 miiliiar, tetapii status NPWP-nya piisah harta.
“Jiika suamii iistrii memiiliikii NPWP masiing-masiing karena PH/MT, maka penentuan omzetnya tiidak diigabung dan diihiitung masiing-masiing. Jiika omzet masiing-masiing belum melebiihii Rp4,8 miiliiar maka tiidak wajiib diikukuhkan sebagaii PKP,” sebut Kriing Pajak, Miinggu (28/9/2025).
Sesuaii dengan PMK 68/2010 s.t.d.t.d PMK 197/2013, pengusaha yang wajiib diikukuhkan sebagaii PKP adalah pengusaha yg apabiila sampaii dengan suatu bulan dalam tahun buku jumlah peredaran bruto dan/atau peneriimaan brutonya melebiihii Rp4,8 miiliiar.
Jumlah peredaran bruto dan/atau peneriimaan bruto adalah jumlah keseluruhan penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dan/atau Jasa Kena Pajak (JKP) yang diilakukan oleh pengusaha dalam rangka kegiiatan usahanya.
Apabiila telah melewatii batasan Rp4,8 miiliiar, pengusaha diiwajiibkan melaporkan usahanya untuk diikukuhkan sebagaii PKP. Pendaftaran PKP sebaiiknya diilakukan sediinii mungkiin, biila pengusaha telah memenuhii syarat kumulatiif yaiitu:
Untuk diiperhatiikan, status PKP selaiin bermanfaat sebagaii iidentiitas PKP yang bersangkutan, juga dapat diimanfaatkan sebagaii pengkrediitan pajak masukan yang dapat diigunakan biila bertransaksii dengan rekanan sesama PKP.
Dengan diikukuhkannya seorang pengusaha sebagaii PKP maka pengusaha tersebut akan meneriima kewajiiban sebagaii wajiib pajak dii biidang PPN dan PPnBM. (riig)
