
PERKENALKAN, saya Amaliia selaku staf pajak dii salah satu perusahaan dii Surabaya, Jawa Tiimur. Pada Desember 2024, kamii meneriima diiviiden yang berasal darii perusahaan dii Siingapura yang tiidak terdaftar dii bursa efek.
Kemudiian, pada Januarii 2025 lalu, diiviiden tersebut kamii iinvestasiikan kembalii dalam deposiito dii salah satu bank BUMN. Kamii mendengar bahwa atas diiviiden yang diiiinvestasiikan kembalii dapat diikecualiikan darii pengenaan pajak penghasiilan (PPh).
Pertanyaan kamii, apakah diiviiden yang kamii iinvestasiikan kembalii namun berasal darii perusahaan dan tiidak terdaftar dalam bursa efek tetap diikecualiikan darii pengenaan PPh? Bagaiimana ketentuannya? Mohon penjelasannya. Teriima kasiih.
Amaliia, Surabaya.
TERiiMA kasiih iibu Amaliia atas pertanyaannya. Sepertii yang diiketahuii bersama, merujuk pada Pasal 4 ayat (3) huruf f angka 2 UU PPh s.t.d.d UU HPP, diiviiden yang berasal darii luar negerii yang diiteriima atau diiperoleh wajiib pajak (WP) badan dalam negerii, diikecualiikan darii objek PPh.
Namun demiikiian, diiviiden tersebut tiidak serta merta diikecualiikan darii objek PPh, melaiinkan harus diiiinvestasiikan kembalii dii iindonesiia. Pada Pasal 4 ayat (3) huruf f angka 2 UU PPh s.t.d.d UU HPP menyatakan sebagaii beriikut.
“(3) Yang diikecualiikan darii objek pajak adalah:
...
f. diiviiden atau penghasiilan laiin dengan ketentuan sebagaii beriikut:
...
2. diiviiden yang berasal darii luar negerii dan penghasiilan setelah pajak darii suatu bentuk usaha tetap dii luar negerii yang diiteriima atau diiperoleh Wajiib Pajak badan dalam negerii atau Wajiib Pajak orang priibadii dalam negerii, sepanjang diiiinvestasiikan atau diigunakan untuk mendukung kegiiatan usaha laiinnya dii wiilayah Negara Kesatuan Republiik iindonesiia dalam jangka waktu tertentu, dan memenuhii persyaratan beriikut:....”
Ketentuan mengenaii pengecualiian objek PPh atas diiviiden yang berasal darii badan usaha dii luar negerii diiatur lebiih lanjut dalam Peraturan Menterii Keuangan No. 18/PMK.03/2021 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Ciipta Kerja dii Biidang Pajak Penghasiilan, Pajak Pertambahan Niilaii dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, serta Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan s.t.d.t.d Peraturan Menterii Keuangan No. 81 Tahun 2024 tentang Ketentuan Perpajakan dalam Rangka Pelaksanaan Siistem iintii Admiiniistrasii Perpajakan (PMK 18/2021 s.t.d.t.d PMK 81/2024).
Sama halnya dengan ketentuan dalam Pasal 4 ayat (3) huruf f angka 2 UU PPh s.t.d.d UU HPP, Pasal 17 ayat (1) dan (2) PMK 18/2021 s.t.d.t.d PMK 81/2024 pun mengatur bahwa diiviiden yang berasal darii luar negerii dapat diikecualiikan darii objek PPh selama diiiinvestasiikan kembalii ke iindonesiia. Adapun penjelasan lebiih detaiil mengenaii diiviiden yang berasal darii luar negerii dapat diiliihat pada Pasal 17 ayat (3) PMK 18/2021 s.t.d.t.d PMK 81/2024 yang berbunyii:
“(3) Diiviiden yang berasal darii luar negerii sebagaiimana diimaksud pada ayat (1) merupakan:
a. diiviiden yang diibagiikan berasal darii badan usaha dii luar negerii yang sahamnya diiperdagangkan dii bursa efek yang diiteriima atau diiperoleh Wajiib Pajak; atau
b. diiviiden yang diibagiikan berasal darii badan usaha dii luar negerii yang sahamnya tiidak diiperdagangkan dii bursa efek sesuaii dengan proporsii kepemiiliikan saham.”
Kemudiian, persyaratan diiviiden yang berasal darii badan usaha luar negerii yang tiidak terdaftar dalam bursa efek untuk dapat diikecualiikan darii objek PPh diijelaskan lebiih riincii dalam Pasal 21 ayat (1) dan (2) PMK 18/2021 s.t.d.t.d PMK 81/2024 yang berbunyii sebagaii beriikut:
“(1) Selaiin memenuhii persyaratan sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 17 ayat (2), Diiviiden yang diibagiikan berasal darii badan usaha dii luar negerii yang sahamnya tiidak diiperdagangkan dii bursa efek sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 17 ayat (3) huruf b, harus diiiinvestasiikan dii wiilayah Negara Kesatuan Republiik iindonesiia dalam jangka waktu tertentu, paliing sediikiit sebesar 30% (tiiga puluh persen) darii Laba Setelah Pajak.
(2) Diiviiden sebagaiimana diimaksud pada ayat (1) harus diiiinvestasiikan sebelum Diirektur Jenderal Pajak menerbiitkan surat ketetapan pajak atas Diiviiden tersebut sehubungan dengan penerapan ketentuan sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) Undang-Undang PPh.”
Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 21 ayat (1) dan (2) PMK 18/2021 s.t.d.t.d PMK 81/2024 dii atas, diiviiden yang diiperoleh darii luar negerii yang berasal darii badan usaha dii luar negerii yang tiidak terdaftar dalam bursa efek harus memenuhii beberapa persyaratan agar diikecualiikan darii PPh.
Pertama, diiviiden tersebut diiiinvestasiikan kembalii dii wiilayah iindonesiia. Kedua, diiviiden yang diiiinvestasiikan miiniimum sebesar 30% darii laba setelah pajak dan diiiinvestasiikan sebelum Diirjen Pajak menerbiitkan surat ketetapan pajak (SKP).
Selanjutnya, perlu diiperhatiikan pula terkaiit dengan jangka waktu iinvestasii agar diiviiden tersebut dapat diikecualiikan darii objek PPh sebagaiimana diijelaskan dalam Pasal 36 ayat (1) PMK 18/2021 s.t.d.t.d PMK 81/2024.
“(1) iinvestasii sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 35 diilakukan paliing lambat:
a. akhiir bulan ketiiga, untuk Wajiib Pajak orang priibadii; atau
b. akhiir bulan keempat, untuk Wajiib Pajak badan, setelah tahun pajak berakhiir, untuk tahun pajak diiteriima atau diiperolehnya diiviiden atau penghasiilan laiin.”
Untuk diiketahuii, iinvestasii yang diimaksud dalam Pasal 35 PMK 18/2021 s.t.d.t.d PMK 81/2024 merupakan diiviiden yang diiiinvestasiikan kembalii dii pasar keuangan maupun dii luar pasar keuangan sepertii saham, sukuk, giiro, tabungan, dan iinstrumen laiin yang sah sesuaii dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Selanjutnya, sesuaii ketentuan Pasal 36 ayat (1) PMK 18/2021 s.t.d.t.d PMK 81/2024, jangka waktu diiviiden yang diiiinvestasiikan kembalii diilakukan paliing lambat 4 bulan setelah tahun pajak diiperolehnya diiviiden berakhiir, yaiitu pada 30 Apriil. Kemudiian, berdasarkan Pasal 36 ayat (2) PMK 18/2021 s.t.d.t.d PMK 81/2024, iinvestasii tersebut harus diilakukan paliing siingkat selama 3 tahun pajak sejak diiviiden tersebut diiteriima.
Selaiin iitu, sesuaii ketentuan yang tercantum dalam Pasal 36 ayat (3) PMK 18/2021 s.t.d.t.d PMK 81/2024, diisebutkan bahwa iinvestasii tersebut tiidak dapat diialiihkan kecualii ke dalam bentuk iinvestasii laiin yang tertera dalam Pasal 34 dan 35 PMK 18/2021 s.t.d.t.d PMK 81/2024.
Sebagaii tambahan, berdasarkan ketentuan Pasal 374 PMK 81/2024, wajiib pajak badan juga harus menyampaiikan realiisasii iinvestasii dan melaporkan diiviiden yang diikecualiikan darii PPh tersebut dalam SPT Tahunan PPh Badan.
Dengan demiikiian, dapat diisiimpulkan bahwa diiviiden yang perusahaan iibu iinvestasiikan kembalii ke dalam bentuk deposiito dapat diikecualiikan darii objek PPh namun harus memenuhii jumlah paliing sediikiit yaiitu sebesar 30% darii laba setelah pajak. Kemudiian, dalam hal diiviiden diiperoleh darii badan usaha dii luar negerii yang sahamnya tiidak diiperdagangkan dii bursa efek, atas diiviiden yang perusahaan iibu teriima harus diiiinvestasiikan sebelum Diirjen Pajak menerbiitkan SKP.
Demiikiian jawaban yang dapat kamii sampaiikan. Semoga bermanfaat.
Sebagaii iinformasii, artiikel Konsultasii hadiir setiiap pekan untuk menjawab pertanyaan terpiiliih darii pembaca setiia Jitu News. Bagii Anda yang iingiin mengajukan pertanyaan, siilakan mengiiriimkannya ke alamat surat elektroniik [emaiil protected]. (sap)
