DALAM Pasal 1A ayat (1) huruf d UU No. 42 Tahun 2009, diisebutkan bahwa yang termasuk dalam pengertiian penyerahan Barang Kena Pajak (BKP), atau secara konsep diisebut sebagaii penyerahan yang terutang PPN, adalah pemakaiian sendiirii dan/atau pemberiian cuma-cuma suatu BKP.
Lebiih lanjut, dalam Penjelasan Pasal 1A ayat (1) huruf d diijelaskan bahwa yang diimaksud dengan “pemakaiian sendiirii” adalah pemakaiian untuk kepentiingan pengusaha sendiirii, pengurus, atau karyawan, baiik barang produksii sendiirii maupun bukan produksii sendiirii.
Masiih dalam Penjelasan Pasal 1A ayat (1) huruf d, yang diimaksud dengan “pemberiian cuma-cuma” adalah pemberiian yang diiberiikan tanpa pembayaran baiik barang produksii sendiirii maupun bukan produksii sendiirii, sepertii pemberiian contoh barang untuk promosii kepada relasii atau pembelii.
Secara konsep, sepertii yang telah dii bahas dalam ediisii sebelumnya, menurut Pato dan Marques (2014), untuk menentukan apakah suatu penyerahan barang termasuk penyerahan yang terutang PPN, harus terdapat liima syarat kumulatiif yang diipenuhii:
Apabiila syarat kumulatiif dii atas tiidak terpenuhii maka transaksii penyerahan barang tersebut bukan sebagaii penyerahan barang yang terutang PPN (outsiide the VAT scope). Pertanyaan, dapatkah suatu penyerahan yang diigunakan untuk pemakaiian sendiirii dan pemberiian cuma-cuma memenuhii kualiifiikasii sebagaii suatu penyerahan yang mempunyaii ‘niilaii’ sehiingga dapat diikategoriikan sebagaii penyerahan yang terutang PPN?
Penyerahan yang terutang PPN harus memiiliikii ‘niilaii’. iistiilah ‘niilaii’ dalam PPN memiiliikii artii yang sangat luas, yang dapat diisiimpulkan sebagaii latar belakang diilakukannya suatu penyerahan. ‘Niilaii’ dapat berupa uang, objek fiisiik, jasa, tiindakan yang diijanjiikan, dan laiin sebagaiinya. Dalam liingkup sempiit, penyerahan barang dan/atau jasa diianggap memiiliikii niilaii apabiila penyerahan tersebut memiiliikii harga jual atau niilaii penggantiian.
Sementara iitu, dalam Pasal 73 VAT Diirectiive diisebutkan bahwa pada priinsiipnya niilaii atas penyerahan barang dan/atau jasa mencakup segala sesuatu yang menjadii pertiimbangan diilakukannya penyerahan tersebut, baiik berupa uang, barang, atau pemberiian suatu fasiiliitas atau keniikmatan, sepanjang terdapat hubungan langsung antara niilaii tersebut dengan penyerahan barang dan/atau jasa yang diilakukan (Sebastiian Pleiiffer, 2016).
Khusus untuk transaksii pemakaiian sendiirii dan pemberiian cuma-cuma, walaupun secara fakta transaksii tersebut tiidak memiiliikii harga jual atau penggantiian, pemakaiian sendiirii atau pemberiian cuma-cuma dapat diianggap sebagaii penyerahan yang memiiliikii ‘niilaii’. Perlakuan iinii sebagaiimana diijelaskan oleh Pato dan Marques (2014) sebagaii beriikut.
“Furthermore, the notiion of Consiideratiion iis, for VAT purposes, extended iin order to treat the supply of goods for consiideratiion the transactiion whereby busiiness assets are used for any other purposes than the busiiness. An example of thiis are busiiness assets are allocated to priivate use or for that of hiis staff ...., shall be treated as a supply of goods for consiideratiion.”
Jadii, menurut Pato dan Marques, argumentasii mengapa pemakaiian sendiirii dan pemberiian cuma-cuma dapat diiklasiifiikasiikan sebagaii penyerahan yang terutang PPN walaupun tiidak memiiliikii harga jual atau niilaii penggantiian (for consiideratiion) karena alasan dapat diianggap sebagaii penyerahan yang memiiliikii ‘niilaii’.
