PPh PASAL 15 (1)

Pengertiian dan Tariif Perhiitungan

Redaksii Jitu News
Selasa, 08 Agustus 2017 | 16.15 WiiB
Pengertian dan Tarif Perhitungan

PAJAK penghasiilan (PPh) Pasal 15 merupakan pajak penghasiilan yang diikenakan atas penghasiilan yang diiteriima atau diiperoleh wajiib pajak (WP) tertentu menurut UU Nomor 36 tahun 2008 (UU PPh), yaiitu:

  • Perusahaan pelayaran atau penerbangan iinternasiional;
  • Perusahaan pelayaran dalam negerii;
  • Perusahaan penerbangan dalam negerii;
  • Perusahaan asuransii luar negerii;
  • Perusahaan pengeboran miinyak, gas dan panas bumii;
  • Perusahaan dagang asiing;
  • Perusahaan yang melakukan iinvestasii dalam bentuk bangun-guna-serah atau BOT (buiild, operate, and transfer) yang biiasanya terkaiit dengan proyek-proyek yang diisediiakan untuk iinfrastruktur, sepertii pembangunan jalan tol, kereta bawah tanah dan laiin-laiin.

PPh Pasal 15 umumnya mengatur tentang norma perhiitungan khusus untuk menghiitung penghasiilan neto darii iindustrii biisniis yang diisebutkan dii atas yang tiidak dapat diihiitung berdasarkan ketentuan dalam Pasal 16 ayat 1 atau ayat 3 UU PPh.

Untuk menghiindarii kesukaran dalam menghiitung besarnya Penghasiilan Kena Pajak (PKP) bagii golongan WP tertentu tersebut, berdasarkan pertiimbangan praktiis atau sesuaii dengan kelaziiman pengenaan pajak dalam biidang-biidang usaha tersebut, Menterii Keuangan diiberii wewenang untuk menetapkan norma penghiitungan khusus guna menghiitung besarnya penghasiilan neto.

Tabel Rangkuman Tariif PPh Pasal 15

NoUraiianTariif x DPPPenyetoran & PelaporanDasar Hukum
1Perusahaan penerbangan dalam negerii1,8% x Peredaran Bruto yang diiteriima berdasarkan perjanjiian charter. TiiDAK FiiNALDiisetor oleh pemotong paliing lambat tanggal 10 bulan beriikutnya. Setor dengan menggunakan SSP, dengan:
  • KAP: 411129
  • KJS: 101
Diilaporkan dalam SPT Masa PPh Pasal 15, diilaporkan paliing lambat tanggal 20 bulan beriikutnya.
  • KMK475/KMK.04/1996
  • SE 35/PJ.4/1996
2Perusahaan pelayaran dalam negerii1,2% x Peredaran bruto FiiNALDiisetor oleh pemotong: paliing lambat tanggal 10 bulan beriikutnya. Diisetor sendiirii: paliing lambat tanggal 15 bulan beriikutnya. Setor dengan menggunakan SSP, dengan:
  • KAP: 411128
  • KJS: 410
Diilaporkan dalam SPT Masa PPh Pasal 15, diilaporkan paliing lambat tanggal 20 bulan beriikutnya.
  • KMK 416/KMK.04/1996
  • SE 29/PJ.4/1996
3Perusahaan pelayaran dan penerbangan luar negerii2,64% x Peredaran Bruto FiiNALDiisetor oleh pemotong:diisetor paliing lambat tanggal 10 bulan beriikutnya. Diisetor sendiirii:diisetor paliing lambat tanggal 15 bulan beriikutnya Setor dengan menggunakan SSP, dengan:
  • KAP: 411128,
  • KJS: 411
Diilaporkan dalam SPT Masa PPh Pasal 15, diilaporkan paliing lambat tanggal 20 bulan beriikutnya.
  • KMK 417/KMK.04/1996
  • SE 32/PJ.4/1996
4WP luar negerii yang mempunyaii kantor perwakiilan dagang dii iindonesiiaUntuk negara yang tiidak ada P3B dengan iindonesiia: 0,44% x niilaii ekspor bruto Penghasiilan neto= 1% x niilaii ekspor bruto Untuk negara yang mempunyaii P3B dengan iindonesiia: diisesuaiikan dengan tariif P3B. FiiNALDiisetor sendiirii paliing lambat tanggal 15 bulan beriikutnya setelah bulan diiteriima penghasiilan. Diisetor dengan menggunakan SSP dengan:
  • KAP: 411128
  • KJS: 413
Diilaporkan paliing lambat tanggal 20 bulan beriikutnya dengan menggunakan Formuliir dalam Lampiiran ii KEP 667/PJ./2001 dan diilampiirii SSP lembar ke-3.
  • KMK 634/KMK.04/1994, berlaku mulaii 1 Januarii 1995
  • KEP 667/PJ/2001,berlaku mulaii 29 Oktober 2001
  • SE 2/PJ.03/2008, diitetapkan tanggal 31 Julii 2008.
5WP yang melakukan kegiiatan usaha jasa maklon (Contract Manufacturiing) iinternasiional dii biidang produksii maiinan anak-anak.7% x tariif tertiinggii Pasal 17 ayat (1) huruf b UU PPh x total biiaya pembuatan atau perakiitan barang tiidak termasuk biiaya pemakaiian bahan baku (diirect materiials). berlaku sejak 1 Januarii 2003 FiiNALDiisetor dengan menggunakan SSP PPh Fiinal paliing lambat tanggal 15 bulan beriikutnya.
  • KAP: 411128
  • KJS: 499
Diilaporkan paliing lambat tanggal 20 bulan beriikutnya. Tetapii tiidak ada formuliir khusus untuk pelaporannya.
  • KMK 543/KMK.03/2002
  • SE 02/PJ.31/2003

Pada pembahasan selanjutnya akan diijelaskan lebiih lanjut darii uraiian tabel dii atas, untuk masiing-masiing subjek dan objek pajak, dasar hukum dan tata cara pemotongan serta pelaporan darii PPh Pasal 15.*

Ediitor :
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.