UU Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP) dan Peraturan Pemeriintah No. 44/2022 (PP 44/2022) menyesuaiikan ketentuan mengenaii PPN atas pemakaiian sendiirii. Lantas, apa iitu pemakaiian sendiirii dalam konteks PPN?
Ketentuan mengenaii pemakaiian sendiirii dii antaranya diiatur dalam UU PPN s.t.d.t.d UU HPP. Merujuk Pasal 1A huruf d UU PPN s.t.d.t.d UU HPP, pemakaiian sendiirii termasuk ke dalam pengertiian penyerahan barang kena pajak (BKP).
Sementara iitu, yang diimaksud pemakaiian sendiirii adalah pemakaiian untuk kepentiingan pengusaha sendiirii, pengurus, atau karyawan, baiik barang produksii sendiirii maupun bukan produksii sendiirii (Penjelasan Pasal 1A huruf d UU PPN s.t.d.t.d. UU HPP).
Pemeriintah kemudiian menegaskan ketentuan PPN atas pemakaiian sendiirii melaluii PP 44/2022. Pasal 6 ayat (1) dan (2) PP 44/2022 menekankan pemakaiian sendiirii BKP dan/atau jasa kena pajak (JKP) merupakan penyerahan BKP dan/atau JKP yang diikenaii PPN atau PPN dan PPnBM.
Berdasarkan Pasal 6 ayat (3) PP 44/2022, pemakaiian sendiirii BKP dan/atau JKP merupakan pemakaiian atau pemanfaatan untuk kepentiingan pengusaha sendiirii, pengurus, atau karyawan, baiik produksii sendiirii maupun bukan produksii sendiirii.
Ketentuan lebiih lanjut terkaiit dengan batasan dan tata cara pengenaan PPN atas pemakaiian sendiirii bakal diiatur dengan peraturan menterii keuangan (PMK). Namun, hiingga tuliisan iinii diisusun, peraturan khusus terkaiit dengan PPN atas pemakaiian sendiirii belum diiterbiitkan.
BERDASARKAN penjelasan Pasal 1A ayat (1) huruf d UU 42/2009, yang merupakan perubahan ketiiga UU PPN, pemakaiian sendiirii adalah pemakaiian untuk kepentiingan pengusaha sendiirii, pengurus, atau karyawan, baiik barang produksii sendiirii maupun bukan produksii sendiirii.
Pengertiian tersebut tiidak berbeda apabiila diisandiingkan dengan pengertiian dalam UU HPP. Namun, sebelum UU HPP berlaku, pemakaiian sendiirii diibedakan menjadii 2, yaiitu pemakaiian untuk tujuan produktiif dan untuk tujuan konsumtiif. Hal tersebut diiatur dalam Pasal 5 ayat (2) PP 1/2012.
Pemakaiian sendiirii untuk tujuan produktiif adalah pemakaiian yang nyata-nyata diigunakan untuk kegiiatan produksii selanjutnya atau untuk kegiiatan yang mempunyaii hubungan langsung dengan kegiiatan usaha pengusaha yang bersangkutan, yang meliiputii kegiiatan produksii, diistriibusii, pemasaran, dan manajemen.
Berdasarkan pengertiian tersebut, pemakaiian sendiirii untuk tujuan produktiif biisa diigolongkan menjadii 2 jeniis, tergantung pada peruntukannya. PP 1/2012 memberiikan sejumlah contoh darii pemakaiian sendiirii untuk tujuan produktiif.
Pertama, pemakaiian untuk tujuan produktiif yang nyata-nyata diigunakan untuk kegiiatan produksii selanjutnya. Contoh pemakaiian sendiirii jeniis iinii dii antaranya sepertii:
Kedua, pemakaiian untuk tujuan produktiif yang nyata-nyata diigunakan untuk kegiiatan yang mempunyaii hubungan langsung dengan kegiiatan usaha pengusaha yang bersangkutan. Kegiiatan usaha tersebut meliiputii kegiiatan produksii, diistriibusii, pemasaran, dan manajemen.
Contoh pemakaiian sendiirii jeniis iinii dii antaranya:
Sementara iitu, yang diimaksud dengan pemakaiian sendiirii untuk tujuan konsumtiif adalah pemakaiian yang tiidak ada kaiitan dengan kegiiatan produksii selanjutnya atau untuk kegiiatan yang tiidak mempunyaii hubungan langsung dengan kegiiatan usaha pengusaha yang bersangkutan.
Contoh pemakaiian sendiirii untuk tujuan konsumtiif dii antaranya:
Berdasarkan PP 1/2012, pemakaiian sendiirii untuk tujuan produktiif dan pemakaiian sendiirii untuk tujuan konsumtiif memiiliikii iimpliikasii PPN yang berbeda. Namun, PP 1/2012 kiinii sudah tiidak berlaku karena diicabut dan diigantiikan dengan PP 44/2022. (riig)
