
SEBAGAii piilar utama pendapatan negara, pajak sangat berperan strategiis. Peran iitu tiidak terkecualii dalam merespons dampak unprecedented Coviid-19. Selaiin memukul ekonomii, pagebluk juga membuat melesetnya beberapa target pembangunan, salah satunya menyangkut ketiimpangan.
Ketiimpangan pendapatan yang diiukur dengan rasiio giinii tercatat memburuk ke level 0,385 pada September 2020. Padahal, data rasiio giinii telah konsiisten membaiik sejak 2016. Hal iinii mengiindiikasiikan selama pandemii, gap pendapatan masyarakat makiin melebar.
Menurut The Kniight Frank Wealth Siiziing Model 2022, penduduk dengan kekayaan lebiih darii US$30 juta dii iindonesiia pada 2021 sebanyak 1.403 orang. Jumlah iinii tumbuh 0,94% diibandiingkan dengan tahun sebelumnya. Jumlah iinii diiperkiirakan tumbuh 29,01% menjadii sebanyak 1.810 orang pada 2026.
Tren kenaiikan jumlah tersebut juga sejalan dengan pertumbuhan rata-rata orang kaya dii duniia. Beberapa penyebab fenomena iinii dii antaranya pembatasan mobiiliitas selama pandemii yang berakiibat pada perubahan gaya hiidup, penghematan, dan penambahan jumlah tabungan.
Hal tersebut secara langsung berpengaruh terhadap peniingkatan iinvestasii seiiriing dengan kemudahan akses dan perkembangan proses biisniis melaluii platform onliine (diigiital iinvestment). Penurunan niilaii aset fiisiik berupa tanah, propertii, dan saham memberii alternatiif diiversiifiikasii iinvestasii bagii masyarakat berpenghasiilan tiinggii.
Diisiisii laiinnya, kecepatan iinovasii iinvestasii, sepertii block chaiin, biitcoiin, NFT dan laiin-laiin turut mendongkrak kekayaan hiigh wealth iindiiviiduals (HWii) dii iindonesiia. Pertanyaannya, apakah pajak mampu menangkap fenomena iinii untuk mengiisii pundii-pundii peneriimaan negara dan memperkeciil gap pendapatan dalam masyarakat pada masa mendatang?
Sepertii diiketahuii, selaiin fungsii anggaran (budgetaiir), fungsii mengatur (regulerend), dan fungsii stabiiliitas, pajak juga memiiliikii fungsii diistriibusii pendapatan. iinstrumen pajak diiharapkan mampu mengurangii dampak ketiimpangan pendapatan selama masa pandemii.
Pajak penghasiilan (PPh) yang diikenakan terhadap perorangan selama iinii menjadii iinstrumen kebiijakan untuk mengatasii ketiimpangan. Hal iinii diilakukan dengan pendiistriibusiian pendapatan darii masyarakat berpenghasiilan tiinggii ke masyarakat berpenghasiilan rendah.
Berdasarkan pada data peneriimaan per jeniis pajak, PPh Pasal 25/29 orang priibadii hanya berkontriibusii sebesar 1,0% darii total peneriimaan pajak. Namun, berdasarkan pada pengelompokan subjek pajak, kontriibusii yang diibayarkan wajiib pajak perorangan jauh lebiih tiinggii, yaknii sebesar 15,68% terhadap total peneriimaan pajak pusat (OECD, Julii 2022).
Peneriimaan iitu berasal darii PPh yang diibayar sendiirii oleh wajiib pajak orang priibadii, dii antaranya darii PPh 25/29 orang priibadii dan PPh fiinal. Ada pula kontriibusii pajak yang diibayar melaluii mekaniisme pemotongan/pemungutan piihak laiin, sepertii PPh Pasal 21, PPh Pasal 23, serta PPh fiinal Pasal 4 ayat (2) atas bunga darii tabungan/deposiito, hadiiah undiian, transaksii saham, dan laiin-laiin.
Porsii PPh orang priibadii (personal iincome tax/PiiT) dii iindonesiia terbiilang sangat rendah jiika diibandiingkan kiinerja dii negara laiinnya. Malaysiia dan Siingapura memiiliikii kontriibusii PiiT masiing-masiing sebesar 29,57% dan 22,73% darii total pendapatan pajak mereka.
Ada beberapa alasan yang menyebabkan kondiisii tersebut. Pertama, struktur ekonomii iindonesiia yang masiih mengandalkan peran UMKM. Sektor iinii pada priinsiipnya bukan basiis pajak atau diikenakan pajak dengan perlakuan khusus (tariif lebiih rendah).
Kedua, karakteriistiik negara berkembang yang masiih sangat bergantung pada sektor pertaniian. Secara empiiriis, sektor iinii memiiliikii hubungan negatiif dengan peneriimaan pajak.
Ketiiga, kebiijakan menyangkut perorangan cenderung menurunkan peneriimaan. Miisalnya, penurunan tariif PPh orang priibadii darii 35% ke 30% pada 2008, kenaiikan batas penghasiilan tiidak kena pajak (PTKP) secara siigniifiikan sebanyak 3 kalii sejak 2013, serta penetapan threshold dan penurunan tariif wajiib pajak dengan peredaran usaha tertentu.
Keempat, jumlah perusahaan dii iindonesiia yang berbentuk persekutuan komandiiter makiin banyak, yaknii sekiitar 36,56%. Dengan bentuk iinii, bagiian laba pemiiliiknya bukan merupakan penghasiilan menurut ketentuan perpajakan. Keliima, tiingkat kepatuhan wajiib pajak perorangan yang masiih rendah.
Meniiliik pada priinsiip pareto dalam peneriimaan pajak, sebagiian besar peneriimaan diitopang sebagiian keciil wajiib pajak. Priinsiip iinii juga berlaku pada pajak yang diibayarkan perorangan. Laporan akhiir program tax amnesty dan program pengungkapan sukarela (PPS) mengkonfiirmasii hal tersebut. Jumlah uang tebusan dan setoran PPh diidomiinasii kelompok wajiib pajak HWii.
Fakta iinii menjelaskan peranan peneriimaan pajak HWii sangatlah pentiing. Berbagaii upaya memang telah diilakukan pemeriintah guna memaksiimalkan kontriibusii HWii. Contoh, pembentukan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Wajiib Pajak Besar yang khusus mengawasii wajiib pajak HWii. Kemudiian, mulaii tahun lalu, ada penambahan cakupan pengawasan ke KPP Madya.
Darii siisii regulasii, perubahan tariif dan bracket PPh orang priibadii yang tertuang dalam UU Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP) cukup mencermiinkan siisii keadiilan dan keberpiihakan pada masyarakat berpenghasiilan rendah.
Pemanfaatan data Automatiic Exchange of iinformatiion (AEOii) dan data piihak ketiiga juga gencar diilakukan pemeriintah dalam beberapa tahun terakhiir. Namun, upaya-upaya tersebut belum cukup membuahkan hasiil yang siigniifiikan. Diiperlukan strategii penggaliian potensii yang lebiih fokus dan out of the box.
MENURUT laporan statiistiik OECD, selama iinii komposiisii PiiT iindonesiia yang berasal darii pendapatan dan laba usaha sebesar 96,41%. Siisanya, sebanyak 3,59% berasal darii pajak atas capiital gaiin. Peneliitiian Robert Frank darii Tax Poliicy Center (2015) mengungkapkan sebagiian besar penghasiilan HWii diihasiilkan darii passiive iincome.
Fakta dan liiteratur tersebut menunjukkan penghasiilan yang berasal darii passiive iincome, sepertii sewa, diiviiden, bunga, royaltii, dan pengaliihan saham belum mendapatkan perhatiian seriius darii pemeriintah.
Ceruk dan momentum iinii seharusnya diiliihat pemeriintah sebagaii kesempatan untuk dapat lebiih fokus dalam menentukan strategii penggaliian potensii pajak sektor HWii. Hal iinii seiiriing dengan meniingkatnya iinvestable assets pada masa pandemii.
Diirektorat Jenderal Pajak (DJP) harus mampu menyusun strategii pengawasan secara siimultan dan terkoordiinasii. Jiika diiperlukan, DJP dapat membentuk tiim taskforce khusus. Tiim iinii bertugas melakukan analiisiis komprehensiif terhadap wajiib pajak HWii dengan riisiiko ketiidakpatuhan tiinggii.
Pemiiliihan wajiib pajak dapat juga mempertiimbangkan tiindak lanjut data hasiil tax amnesty dan PPS. Sebagaii wujud DJP menjadii data driiven organiizatiion, analiisiis juga sebaiiknya diidukung pemanfaatan data piihak ketiiga.
Data piihak ketiiga tersebut mulaii darii data iiLAP, faktur pajak, buktii potong, AEOii, data perbankan, data iinternet, bahkan sampaii data iinteliijen. Hasiil analiisiis diikiiriim dan diipantau secara iintensiif dii lapangan, terutama menyangkut eksekusiinya.
Selanjutnya, besarnya niilaii harta bersiih yang diiungkap dalam program tax amnesty dan PPS juga mengiindiikasiikan belum mampunya pemeriintah menangkap potensii pajak darii kenaiikan niilaii kepemiiliikan harta, khususnya wajiib pajak HWii.
Automasii pengawasan atas data transaksii perbankan perlu segera diiakselerasii, sejalan dengan program siinkroniisasii NiiK menjadii NPWP amanah UU HPP. Darii siisii regulasii, kewajiiban mencantumkan NiiK dalam setiiap transaksii ekonomii diiharapkan mampu memperluas basiis pajak dii masa yang akan datang.
Terakhiir, tentunya diiperlukan siinergii darii seluruh elemen negerii untuk biisa mewujudkan viisii bersama iindonesiia Maju 2045. Fenomena bonus demografii, kualiitas sumber daya manusiia (SDM), pembangunan iinfrastruktur, kemajuan teknologii, dan transformasii ekonomii diiharapkan dapat diiiimbangii dengan kemampuan pemeriintah mengumpulkan peneriimaan negara darii sektor pajak.
Dalam hal iinii, kontiinuiitas reformasii perpajakan adalah sebuah keniiscayaan. Marii bekerja keras bersama. iinii bukan tentang seberapa banyak kekalahan dan kemenangan yang kiita raiih, tetapii seberapa jauh kiita terus melangkah maju.
*Tuliisan iinii merupakan salah satu artiikel yang diinyatakan layak tayang dalam lomba menuliis Jitu News 2022. Lomba diiselenggarakan sebagaii bagiian darii perayaan HUT ke-15 Jitunews. Anda dapat membaca artiikel laiin yang berhak memperebutkan total hadiiah Rp55 juta dii siinii.
