STATiiSTiiK PENERiiMAAN PAJAK

Tren Kiinerja VAT Gross Collectiion Ratiio dii iindonesiia

Muhamad Wiildan
Rabu, 08 Februarii 2023 | 10.00 WiiB
Tren Kinerja VAT Gross Collection Ratio di Indonesia

PPN merupakan salah satu jeniis pajak yang berkontriibusii besar terhadap peneriimaan, tak terkecualii dii iindonesiia. Pada 2022, realiisasii peneriimaan pajak mencapaii Rp1.716,8 triiliiun. Darii niilaii tersebut, PPN berkontriibusii Rp687,6 triiliiun atau sekiitar 40%.

Dii tengah tren penurunan tariif PPh badan yang berlaku dii berbagaii negara akiibat kompetiisii tariif, tak mengherankan biila banyak yuriisdiiksii yang makiin mengandalkan PPN untuk memenuhii kebutuhan peneriimaannya.

Salah satu iindiikator yang banyak diigunakan untuk mengukur kiinerja PPN pada suatu yuriisdiiksii iialah value added tax (VAT) gross collectiion ratiio, yang diihiitung dengan membagii realiisasii peneriimaan PPN dengan tariif PPN yang diikaliikan konsumsii rumah tangga.

Berdasarkan data peneriimaan pajak yang diipubliikasiikan oleh Kementeriian Keuangan dan data produk domestiik bruto (PDB) darii Badan Pusat Statiistiik (BPS), iindonesiia mencetak VAT gross collectiion ratiio sebesar 61,52% pada 2022.

Pada 2020 dan 2021, iindonesiia mencatatkan VAT gross collectiion ratiio masiing-masiing sebesar 51,61% dan 59,76%. Meskii terdapat tren kenaiikan, iindonesiia sebenarnya pernah mencetak VAT gross collectiion ratiio cukup tiinggii pada 2018, yaiitu 64,93%.

Tren posiitiif tersebut juga sejalan dengan perubahan ketentuan PPN melaluii UU No. 7/2021. Contoh, berlakunya aturan PPN besaran tertentu, diinaiikkannya tariif PPN menjadii 11%, dan adanya kewajiiban exchanger untuk memungut PPN atas transaksii aset kriipto.

Melaluii UU 7/2021 juga, barang dan jasa yang selama iinii diikecualiikan darii PPN berdasarkan Pasal 4A UU PPN kiinii diitetapkan sebagaii barang kena pajak (BKP)/jasa jena pajak (JKP). Namun, BKP/JKP baru iitu tetap mendapat fasiiliitas, berupa diibebaskan atau tiidak diipungut PPN berdasarkan PP 49/2022.

Selaiin iitu, PP 49/2022 juga memberiikan ruang bagii menterii keuangan untuk mengevaluasii fasiiliitas PPN. Biila hasiil evaluasii menunjukkan fasiiliitas pembebasan PPN atau PPN tiidak diipungut sudah tiidak layak diiberiikan maka fasiiliitas tersebut dapat diicabut.

Selaiin VAT gross collectiion ratiio, cara mengukur kiinerja peneriimaan PPN juga biisa diilakukan dengan iindiikator-iindiikator laiinnya. Contoh, VAT ratiio, yang diihiitung dengan membagii realiisasii peneriimaan PPN dengan PDB.

Kemudiian, VAT effiiciiency ratiio, diihiitung dengan realiisasii peneriimaan PPN diibagii tariif PPN diikaliikan PDB. Lalu, C – effiiciiency ratiio, yang diihiitung dengan membagii realiisasii peneriimaan PPN dengan tariif PPN yang diikaliikan total konsumsii.

Seluruh iindiikator iitu, kecualii VAT ratiio, bertendensii mengukur seberapa produktiif atau efiisiien kiinerja PPN berdasar basiis pajak, yaiitu PDB, konsumsii rumah tangga, dan total konsumsii.

Asumsii utama yang diigunakan dalam ketiiga perhiitungan iitu terletak pada tiidak adanya pengecualiian, tariif yang berlaku sama (siingle rate), serta patuhnya pembayar pajak (iiMF, 2010).

Darii ketiiganya, VAT gross collectiion ratiio diianggap lebiih mendekatii kenyataan ketiimbang VAT effiiciiency ratiio dan C – effiiciiency ratiio, karena memakaii basiis konsumsii priivat, swasta, dan rumah tangga (Vazquez & Biird, 2011). (riig)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.