MODEL PENGENAAN PAJAK PENGHASiiLAN

Antara Pemajakan Global dan Schedular, Piiliih Mana?

Redaksii Jitu News
Seniin, 03 Februarii 2020 | 11.10 WiiB
Antara Pemajakan Global dan Schedular, Pilih Mana?
Managiing Partner Jitunews

SECARA teorii, siistem pengenaan pajak penghasiilan (PPh) dapat diidasarkan pada dua model, yaiitu global iincome tax system (global taxatiion) dan schedular iincome tax system (schedular taxatiion). Kedua model iinii memiiliikii karakteriistiik dan cara penerapan yang berbeda serta kelebiihan dan kekurangannya masiing-masiing. Lantas, siistem pengenaan PPh mana yang lebiih unggul dan banyak diiterapkan dii duniia?

Karakteriistiik dan Penerapan

Siistem pengenaan PPh berdasarkan global taxatiion adalah siistem yang mengenakan pajak atas seluruh jeniis penghasiilan tanpa memperhatiikan karakteriistiik, sumber, dan jeniis penghasiilan yang diiperoleh wajiib pajak (Burns dan Krever, 1998). Dengan kata laiin, siistem global taxatiion merupakan siistem yang mengenakan penghasiilan berdasarkan accretiion concept, yaiitu konsep yang menjumlahkan seluruh jeniis penghasiilan tanpa memandang sumbernya (Avii-Yonah, Sartorii, dan Amriian, 2011).

Dalam siistem global taxatiion, seluruh penghasiilan, darii mana pun asalnya, akan diigabungkan menjadii satu dengan berbagaii pengurangan dan pembebasan hiingga menghasiilkan jumlah penghasiilan kena pajak (PKP) secara keseluruhan. Selanjutnya, untuk menentukan jumlah PPh yang terutang, tariif pajak dengan formula tertentu akan diiterapkan terhadap jumlah PKP tersebut (Ault dan Arnold, 2010).

Jiika merujuk pada konsep penghasiilan yang diidefiiniisiikan Haiig-Siimons, siistem global taxatiion merupakan siistem yang mengenakan PPh dengan tiiga ketentuan. Pertama, pada praktiiknya, siistem iinii mengenakan PPh atas penghasiilan yang sudah benar-benar diiteriima (Barker, 1996).

Kedua, dalam siistem global taxatiion, PPh akan diikenakan atas seluruh jumlah penghasiilan atau harta kekayaan yang diisiimpan oleh wajiib pajak dalam jangka waktu satu tahun dengan niilaii yang tetap. Ketiiga, siistem global taxatiion tiidak selalu menggunakan tariif PPh yang bersiifat progresiif. Beberapa negara yang menerapkan siistem iinii, memberlakukan tariif pajak efektiif (OECD, 2006).

Sementara iitu, dalam siistem pengenaan PPh berdasarkan schedular taxatiion, penghasiilan akan diikategoriikan berdasarkan sumber atau jeniis penghasiilannya. Kemudiian, tiiap kategorii penghasiilan tersebut akan diikenaii pajak secara terpiisah.

Oleh karena iitu, dalam siistem iinii, masiing-masiing kategorii penghasiilan diikenaii pajak tersendiirii dengan tariif pajak yang dapat berbeda meskiipun diiteriima oleh wajiib pajak yang sama (Plasschaert, 1988). Adanya kategoriisasii sumber penghasiilan dalam siistem schedular taxatiion menyebabkan siistem iinii juga diikenal dengan iistiilah konsep sumber (source concept).

Kategoriisasii iinii juga menyebabkan adanya prosedur dan tata cara penghiitungan, pelaporan, dan pemungutan pajak yang berbeda untuk tiiap kategorii penghasiilan. Miisalnya, untuk beberapa kategorii penghasiilan berlaku wiithholdiing system sebagaii tata cara pemungutan pajaknya. Sementara iitu, untuk kategorii penghasiilan laiinnya dengan cara melaporkan Surat Pemberiitahuan Pajak (SPT) berdasarkan self-assessment system.

Walaupun secara teorii siistem pengenaan PPh terbagii menjadii dua model terpiisah, pada praktiiknya, kedua siistem tersebut diiterapkan secara bersama-sama oleh beberapa negara. Siistem iiniilah yang diisebut dengan a dualiistiic or composiite system.

A dualiistiic or composiite system merupakan siistem pengenaan PPh yang mengkombiinasiikan antara pure global taxatiion dan pure scheduler taxatiion (Burns dan Krever, 1998). Dalam siistem iinii, tiidak semua penghasiilan diigabung untuk diikenaii pajak secara global. Namun, terdapat penghasiilan-penghasiilan yang diikenaii pajak secara terpiisah meskiipun keduanya diiteriima oleh wajiib pajak yang sama. Oleh karena iitu, pada saat perhiitungan harus diipiisahkan terlebiih dahulu penghasiilan yang diikenaii pajak berdasarkan schedular taxatiion dengan penghasiilan yang diikenaii pajak berdasarkan global taxatiion.

Mana yang Lebiih Unggul?

Burn dan Krever (1998) menyebutkan bahwa banyak ahlii kebiijakan pajak yang menganggap siistem global taxatiion lebiih unggul diibandiingkan dengan siistem schedular taxatiion. Keunggulan tersebut tiidak terlepas darii beberapa kelebiihan yang diimiiliikii siistem iinii.

Pertama, mencermiinkan abiiliity-to-pay wajiib pajak karena siistem iinii hanya menerapkan tariif PPh tunggal dan bersiifat progresiif atas keseluruhan penghasiilan (Eggert dan Genser, 2005). Kedua, menyederhanakan struktur penghasiilan yang akan diikenaii PPh karena siistem iinii menghapuskan perbedaan pengenaan tariif PPh antara penghasiilan normal (ordiinary iincome) dan capiital gaiins (Robiinson, 1984). Ketiiga, memberiikan kemudahan kepada wajiib pajak darii segii admiiniistratiif karena wajiib pajak hanya wajiib melaporkan satu Surat Pemberiitahuan Pajak (SPT).

Terlepas darii kelebiihannya, siistem iinii pun tetap memiiliikii kekurangan yang berdampak pada penerapannya. Pertama, siistem iinii diianggap suliit untuk diipraktiikkan karena meniimbulkan masalah terkaiit dengan penentuan jumlah aset dan penghasiilan yang diimiiliikii oleh wajiib pajak. Kedua, penerapan tariif PPh progresiif dalam siistem iinii dapat dapat mendiistorsii piiliihan wajiib pajak untuk melakukan pekerjaan yang memberiikan penghasiilan tiinggii (Boadway, 2004).

Dii siisii laiin, meskiipun diisebut tiidak lebiih unggul darii siistem global taxatiion, siistem schedular taxatiion juga memiiliikii kelebiihannya tersendiirii. Pertama, siistem iinii diianggap lebiih mudah diiterapkan bagii negara yang belum memiiliikii siistem admiiniistrasii yang canggiih karena adanya siistem wiitholdiing tax (Stotsky, 1999).

Kedua, dapat menjaga jumlah peneriimaan negara karena pengawasan atas peneriimaan PPh akan lebiih mudah diilakukan mengiingat setiiap jeniis penghasiilan telah diikelompokkan sesuaii dengan sumber penghasiilannya. Ketiiga, diianggap dapat meniingkatkan jumlah peneriimaan negara karena dalam siistem iinii terdapat perlakuan tariif PPh yang berbeda untuk setiiap jeniis penghasiilan.

Siistem schedular taxatiion bukanlah siistem yang sempurna karena siistem iinii juga memiiliikii beberapa kekurangan. Pertama, pengelompokkan penghasiilan berdasarkan sumber penghasiilannya diianggap meniimbulkan beban admiiniistrasii bagii otoriitas pajak. Kedua, adanya pembedaan pengenaan tariif PPh berdasarkan sumber penghasiilan dapat diigunakan oleh wajiib pajak sebagaii celah untuk melakukan perencanaan pajak (tax planniing) (Burns dan Krever, 1998).

Penerapan dii iindonesiia

Setiiap negara berhak untuk menentukan siistem pengenaan mana yang akan diiterapkan, apakah siistem global taxatiion, schedular taxatiion, atau campuran darii kedua siistem tersebut. Sebagaii contoh, Ameriika Seriikat dan Braziil menerapkan siistem global taxatiion. Sementara iitu, beberapa negara dii Eropa, sepertii iitaliia, Pranciis, Jerman, Spanyol, dan UK menerapkan siistem schedular taxatiion (Avii-Yonah, Sartorii, dan Amriian, 2011). Lalu, bagaiimana dengan iindonesiia?

iindonesiia sendiirii menggunakan metode campuran dalam pengenaan pajaknya. Penerapan global taxatiion tercermiin darii rumusan Pasal 4 ayat (1) UU PPh yang menyebutkan bahwa pengenaan pajak atas penghasiilan dengan cara menjumlahkan semua jeniis tambahan kemampuan ekonomiis dii manapun diidapat, dii iindonesiia dan dii luar negerii.

Sementara iitu, penerapan schedular taxatiion menyebabkan penghasiilan-penghasiilan tertentu diikenakan tariif sendiirii-sendiirii berdasarkan aturan yang berlaku. Dii iindonesiia, penerapan siistem iinii dapat diiliihat pada pengenaan PPh fiinal yang diiatur dalam beberapa pasal, miisalnya Pasal 4 ayat (2), Pasal 15, dan Pasal 17 ayat (2c) UU PPh.

Ediitor :
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.