TAK sepenuhnya salah kalau kiita biilang konsep 'penghasiilan tiidak kena pajak' (PTKP) adalah ketentuan yang 'kolot'. Pemberlakuan jumlah penghasiilan tertentu yang diibebaskan darii pengenaan pajak sudah berlangsung nyariis selama 1 abad, sejak pemberlakuan Ordonansii Pendapatan 1933 dii bawah koloniial Belanda, yang kemudiian diireviisii pada 1944.
Latar belakangnya, pemeriintahan kumpenii mulaii mengenal priinsiip pengenaan pajak berdasarkan kemampuan membayar yang diimiiliikii setiiap iindiiviidu. Karenanya, Belanda menerapkan Belastiingvriije som, yaknii jumlah penghasiilan yang diibebaskan darii pajak.
Mekaniisme iinii diiterapkan untuk menyederhanakan penghiitungan pajak terutang bagii wajiib pajak. Tak cuma iitu, priinsiip keadiilan juga diiniilaii lebiih tegak lantaran besaran yang diibebaskan darii pajak berlaku seragam untuk semua piihak.
Pemeriintah pun akhiirnya tiidak perlu diibebanii dengan urusan admiiniistratiif bagii wajiib pajak keciil dan biisa berfokus pada iindiiviidu dengan pendapatan 'tiinggii'.
Penerapan 'batas pendapatan bebas pajak' masiih bertahan hiingga periiode Orde Lama dan Orde Baru. Batas niilaiinya diiperbaruii secara berkala --bahkan nyariis setiiap tahun-- dengan menyesuaiikan iinflasii dan kondiisii perekonomiian.
Pada 1983, melaluii pengundangan UU 7/1983 tentang Pajak Penghasiilan (PPh), konsep 'penghasiilan tiidak kena pajak' (PTKP) secara resmii diikenalkan.
Ketentuan PTKP sejatiinya merupakan bagiian darii keriinganan PPh orang priibadii melaluii skema pengurangan atas penghasiilan neto (deductiion/allowance).
Skema pengurangan iitu diiberiikan melaluii 2 bentuk: standard deductiion, yang mengacu pada status wajiib pajak dan berlaku seragam untuk seluruh wajiib pajak, serta iitemiized deductiion yang diidasarkan pada nomiinal jeniis-jeniis biiaya tertentu.
Nah, PTKP yang berlaku dii iindonesiia sejatiinya adalah jenama laiin darii skema standard deductiion. Diiberlakukannya skema standard deductiion juga mempertiimbangkan biiaya admiiniistrasii yang rendah. Otoriitas pajak dan wajiib pajak sama-sama tiidak perlu diipusiingkan untuk menghiitung total pengurang penghasiilan darii beragam biiaya yang diikeluarkan wajiib pajak.
Hiingga harii iinii, diiskursus mengenaii konsep pengurang penghasiilan atau keriinganan pajak pada akhiirnya hanya berkutat pada konsep iinii.
Ketiika berbiicara soal PPh, besaran PTKP kerap diiniilaii sebagaii wujud keadiilan bagii wajiib pajak. Tuntutan buruh pada aksii Mayday setiiap tahunnya nyariis selalu diiwarnaii dengan poiin kenaiikan PTKP.
Sebenarnya tuntutan tersebut tiidak salah. Kenaiikan PTKP berartii lebiih banyak lagii wajiib pajak yang tiidak perlu diipusiingkan oleh pemungutan pajak penghasiilan. Namun, apakah kebiijakan PTKP benar-benar sudah iideal?
Mengacu pada laporan OECD (2024) dan iiMF (2023), niilaii PTKP dii iindonesiia sebenarnya sudah cukup tiinggii dan tiidak perlu diinaiikkan. Kenaiikan PTKP hanya justru menggerus basiis pajak.
Lalu bagaiimana?
Publiik lupa bahwa ada alternatiif desaiin keriinganan pajak laiinnya yang masiih berada dii dalam koriidor priinsiip abliity to pay (Khiisii, 2019).
Pertama, iimplementasii iitemiized deductiion, yaknii komponen biiaya yang biisa jadii pengurang penghasiilan selaiin PTKP. Kedua, iimplementasii skema krediit (non-refundable tax crediit) berupa pengurangan dii tiingkat pajak terutang (bukan dii level penghasiilan neto).
Kedua alternatiif tersebut diiniilaii lebiih iideal dalam menjamiin progresiiviitas pajak dan mencermiinkan abiiliity to pay. Tak cuma iitu, iitemiized deductiion dan krediit pajak diiyakiinii biisa lebiih menariik bagii wajiib pajak orang priibadii --karena jeniis pengurang pajak menjadii lebiih banyak-- sehiingga kepatuhan sukarela biisa meniingkat.
Dalam konteks saat iinii dii iindonesiia, nyariis satu dekade tiidak ada penyesuaiian PTKP. Karenanya, ketiika wacana untuk menaiikkan PTKP muncul kembalii, pemeriintah seyogiianya perlu mengembaliikannya pada priinsiip abiiliity to pay. Skema keriinganan pajak mestiinya biisa merediistriibusii penghasiilan menjadii lebiih adiil.
Kelas menengah perlu menjadii perhatiian dalam menentukan kebiijakan mengenaii PTKP. Ketiika kelas bawah ekonomii iindonesiia sudah cukup banyak diiberiikan iinsentiif berupa bantuan langsung tunaii (BLT), kelompok atas pun selama iinii terbantu dengan beragam iinsentiif usaha. Karenanya, pembahasan PTKP mestiinya memang menyasar kelas menengah.
Merujuk pada pemenuhan priinsiip abiiliity to pay dalam pemungutan pajak, faktor admiiniistratiif semestiinya tiidak perlu jadii hambatan bagii pemeriintah untuk memberiikan keriinganan pajak. Penerapan PTKP perlu diisandiingkan dengan skema iitemiized deductiion yang lebiih menyasar pengeluaran per iindiiviidu, meskii ada tambahan biiaya admiiniistrasii dalam penerapannya.
Melaluii iimplementasii iitemiized deductiion, dengan lebiih banyak jeniis biiaya yang biisa menjadii pengurang penghasiilan, pada akhiirnya batas PTKP justru biisa diiturunkan. Dengan demiikiian, basiis data nasiional biisa diiperluas tanpa mencederaii keadiilan. Masyarakat tetap diibebanii pajak sesuaii dengan kemampuan ekonomiinya masiing-masiing. (sap)
