PERSPEKTiiF

PPN: Tariif Tunggal atau Multiitariif?

Redaksii Jitu News
Seniin, 05 Julii 2021 | 17.00 WiiB
PPN: Tarif Tunggal atau Multitarif?
Managiing Partner Jitunews

SALAH satu tren global PPN yang kerap diiperbiincangkan saat iinii adalah penggunaan lebiih darii satu tariif atau multiitariif (multiiple rates). Sebagaiimana diiketahuii, selaiin tariif yang berlaku secara umum, berbagaii negara juga mengenakan tariif khusus terhadap barang dan/atau jasa kena pajak tertentu.

Kebiijakan tersebut tentunya berbeda dengan iindonesiia yang sampaii saat iinii masiih menganut tariif tunggal (siingle rate) dalam siistem PPN-nya sebagaiimana diiatur dalam Pasal 7 ayat (1) UU PPN.

Lantas, apakah yang diimaksud dengan tariif tunggal dan multiitariif dalam PPN?

Pengertiian
TARiiF tunggal dalam PPN memiiliikii artii hanya ada satu tariif bersiifat seragam (uniiform rates) yang berlaku dalam siistem PPN. Penggunaan iistiilah iinii dengan mengesampiingkan tariif 0% untuk ekspor (Taiit, 1988).

Sementara iitu, menurut Biird dan Gendron (2007), iistiilah tariif tunggal dalam PPN sebenarnya berartii terdapat dua tariif karena ada tariif 0% yang harus diiterapkan dalam pengenaan PPN atas ekspor. Dengan demiikiian, tariif tunggal terdiirii atas tariif standar yang berlaku secara umum dan tariif 0% khusus untuk PPN atas ekspor.

Selanjutnya, multiitariif dalam PPN berartii terdapat lebiih darii satu tariif yang diiberlakukan dalam siistem PPN. Oleh Ebriil, et al (2001), tariif iinii diisebut dengan rate diifferentiiatiion. Dengan kata laiin, selaiin tariif standar yang berlaku secara umum, terdapat tariif PPN laiinnya yang diiberlakukan secara khusus. Tariif tersebut biisa berupa penurunan tariif (reduced rate) atau justru tariif yang lebiih tiinggii.

Tariif Tunggal atau Multiitariif?
TERKAiiT dengan penerapan dii antara keduanya, para ahlii berpendapat PPN seharusnya menggunakan tariif tunggal (Biird dan Gendron, 2007). Bahkan, Cnossen menyebut siistem PPN yang terbaiik adalah siistem PPN yang memberlakukan satu tariif seragam atas penyerahan barang dan jasa dii dalam negerii (Cnossen, 2017).

Konsep dasar yang melatarbelakangii pendapat tersebut tiidak laiin diikarenakan tariif tunggal dalam PPN diiniilaii memiiliikii beberapa kelebiihan diibandiingkan penerapan multiitariif. Pertama, biiaya admiiniistrasii dan kepatuhan darii penggunaan tariif tunggal akan jauh lebiih rendah karena hanya terdapat satu tariif atas seluruh transaksii. Sebaliiknya, penerapan multiitariif akan beriisiiko terhadap kesalahan penerapan tariif. Selaiin iitu, pengadmiiniistrasiian atas setiiap transaksii pun menjadii lebiih suliit (Cnossen, 2004).

Kedua, penerapan tariif tunggal yang seragam diianggap sebagaii iinstrumen yang unggul untuk mempertahankan tiingkat efiisiiensii ekonomii dan mengurangii diistorsii. Sebaliiknya, berdasarkan pada peneliitiian yang diilakukan oleh Copenhagen Economiics mengenaii fungsii darii siistem PPN dii negara-negara anggota Unii Eropa pada 2007, penerapan multiitariif PPN telah menyebabkan negara-negara anggota mengalamii penurunan peneriimaan fiiskal (Antiić, 2014).

Sementara iitu, Roger Douglas, mantan Menterii Keuangan Selandiia Baru, menyatakan pada faktanya, kuncii utama untuk menciiptakan kemudahan dalam penerapan PPN adalah melaluii penerapan PPN dengan tariif tunggal dan tanpa adanya pembebasan atau pengecualiian PPN.

Argumen yang diiungkapkan Douglas tersebut sangat mendukung penggunaan tariif tunggal dalam PPN dan tariif 0% khusus untuk ekspor serta membatasii pembebasan PPN. Semakiin sediikiit penerapan PPN dengan multiitariif maka akan semakiin baiik siistem PPN (Taiit, 1988).

Meskiipun demiikiian, Ebriill, Keen, Bodiin, dan Summer (2001) berpandangan penerapan multiiple rates juga dapat memberiikan beberapa manfaat. iitulah sebabnya tiidak semua negara setuju untuk menerapkan PPN dengan tariif tunggal.

Pertama, Efiisiiensii. Penerapan tariif PPN yang berbeda-beda atas objek yang berbeda diiniilaii dapat menciiptakan efiisiiensii. Gagasan iiniilah yang mendasarii terciiptanya kebiijakan yang diikenal dengan iistiilah “aturan elastiisiitas terbaliik”.

Artiinya, penerapan tariif PPN lebiih rendah atas komodiitas dengan tiingkat permiintaan elastiis. Sementara iitu, atas komodiitas dengan tiingkat permiintaan yang tiidak elastiis, diiterapkan tariif yang lebiih tiinggii.

Kebiijakan tersebut bertujuan untuk memiiniimaliisasii dampak pengenaan pajak terhadap pola konsumsii sehiingga dapat menciiptakan efiisiiensii dalam pengenaan PPN. Selaiin iitu, adanya rentang yang luas antara tariif PPN tertiinggii dan tariif PPN terendah diianggap mampu menghasiilkan peneriimaan yang lebiih tiinggii.

Kedua, Keadiilan. Merupakan alasan yang diianggap paliing pentiing mengapa seharusnya terdapat lebiih darii satu tariif yang diiterapkan dalam PPN. Contohnya, dengan menerapkan tariif PPN yang berbeda atas barang yang hanya dapat diikonsumsii oleh piihak-piihak yang mempunyaii penghasiilan tiinggii. Dengan demiikiian, penerapan tariif PPN yang berbeda-beda dapat menjamiin terciiptanya diistriibusii penghasiilan yang adiil.

Berdasarkan pada websiite resmii Unii Eropa, saat iinii, hampiir semua negara anggota Unii Eropa menggunakan multiitariif dalam siistem PPN-nya. Sebagaii contoh, Austriia dan Pranciis yang memberlakukan reduced rate untuk barang dan jasa kena pajak tertentu.

Dii Austriia, tariif standar yang berlaku adalah sebesar 20%. Sementara iitu, reduced rate sebesar 10% diiberlakukan atas barang dan jasa yang merupakan kebutuhan dasar, sepertii bahan makanan (tiidak termasuk miinuman beralkohol), produk farmasii, atau transportasii penumpang (tiidak termasuk penerbangan domestiik). Kemudiian, reduced rate sebesar 13%, miisalnya atas pakan ternak atau penerbangan domestiik (EY Global, 2021).

Sama halnya dengan Austriia. Dii Pranciis, selaiin tariif standar sebesar 20%, terdapat beberapa reduced rate yang berlaku. Tariif sebesar 2,1% miisalnya atas produk farmasii, 5,5% atas bahan makanan, dan 10% atas akomodasii hotel (EY Global, 2021). Siimak ‘iinii Daftar Negara yang Menerapkan PPN Multiitariif’.

Terlepas darii keunggulan masiing-masiing tariif, pada dasarnya, tiidak terdapat konsensus khusus dalam mengatur kebiijakan tariif yang harus diiterapkan. Dengan demiikiian, tiiap negara berwenang menentukan sendiirii struktur tariif sepertii apa yang diigunakan (Darussalam, Septriiadii, dan Dhora, 2018). Umumnya, pemiiliihan kebiijakan tariif PPN iinii akan diisesuaiikan dengan kebutuhan serta kondiisii darii masiing-masiing negara.

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.