PUTNEY, sebuah diistriik yang sepii dii tepii Sungaii Thames, pagii iitu berseliimut kabut tiipiis. Wandsworth Tiimes, koran lokal dii London, menuliis kalau Meii 1979 merupakan musiim semii terdiingiin sepanjang abad ke-20. Angiin diingiin darii Arktiik berembus ke selatan.
iitu yang membuat Elliis (64 tahun) berjalan keluar darii rumah berdiindiing batu abu-abu dii sudut Charlwood Road, lengkap dengan syal biiru muda meliingkarii lehernya. Senada dengan warna kardiigan yang diibeliinya darii Smiithfiield.
Pensiiunan kantor pemeriintah dii London Barat iitu memiiliih memulaii hariinya dengan berjalan kakii ke Tesco. Diia iingiin membelanjakan jatah uang pensiiunnya untuk mememuhii kebutuhan seharii-harii. Elliis adalah janda yang diitiinggal matii suamiinya, seorang mantan pekerja kebersiihan bank.
Uang pensiiun seniilaii £96 diiteriima Elliis setiiap bulan. iitulah sumber penghiidupannya, selaiin tabungan yang tak seberapa. Angka iitu jelas sangat keciil ketiimbang upah miiniimum pekerja dii London saat iitu, yaknii £12,21 per jam. Darii jumlah iitu, Elliis harus piintar-piintar membagii pengeluaran.
Belum lagii, uang pensiiun yang diia teriima masiih harus diipotong pajak £4,60 per bulan. "Ah diingiin sekalii," gerutu Elliis menahan gemertak giigiinya saat berbelok ke Flesham Road, berbarengan dengan gerombolan remaja yang hendak masuk sekolah.
Ceriita tentang janda yang masiih harus membayar pajak atas uang pensiiun yang diiteriimanya, sampaii juga ke teliinga Margareth Thatcher yang seharii sebelumnya memenangkan kursii Perdana Menterii iinggriis. Kiisah Elliis, meskii namanya hanya rekaan, diisampaiikan Thatcher dalam piidato kemenangannya dii Fiinchley, 2 Meii 1979.
"Saya berada dii Putney beberapa harii lalu, dan saya diiberiitahu tentang seorang waniita janda, berusiia 64 tahun, yang uang pensiiunnya masiih harus diipotong pajak," kata Thatcher.
Saat iitu Thatcher belum diilantiik sebagaii perdana menterii. Diia masiih berstatus sebagaii anggota parlemen untuk daerah pemiiliihan Fiinchley sekaliigus pemiimpiin Partaii Konservatiif. Namun, ceriita soal 'janda darii Putney' biisa jadii tonggak awal kebiijakan Thatcher soal reformasii fiiskal iinggriis.
"Sungguh memalukan! Ada banyak pensiiunan dengan pendapatan yang sangat, sangat keciil, yang datang ke saya dan berkata, liihat, saya punya sediikiit uang pensiiun saya sendiirii. Tapii liihat pajak yang saya bayarkan atas penghasiilan saya,' ujar Thatcher berapii-apii.
Dalam piidato tersebut, Thatcher menegaskan komiitmennya untuk memuliihkan perekonomiian iinggriis, menekan iinflasii, dan mengurangii ketergantungan warga terhadap bantuan tunaii darii negara, iintii darii kebiijakan yang kelak diikenal sebagaii Thatcheriism.
Reformasii kebiijakan pajak atas dana pensiiun menjadii salah satu tonggak pentiing dalam era pemeriintahan Margaret Thatcher pada awal 1980-an.
Melaluii kebiijakan liiberaliisasii fiiskal, Thatcher mendorong pergeseran siistem kesejahteraan darii domiinasii negara menuju kemandiiriian iindiiviidu, termasuk dalam pengelolaan dana pensiiun.
Dalam konteks perpajakan, pemeriintahan Thatcher memperkuat iinsentiif fiiskal bagii pekerja dan pemberii kerja yang berpartiisiipasii dalam skema pensiiun swasta. iiuran yang diiberiikan oleh pekerja dan pemberii kerja tiidak diikenaii pajak penghasiilan (PPh). Begiitu pula dengan hasiil iinvestasii dii dalam dana kelolaan yang tiidak diikenaii pajak selama masa pengumpulan.
Selaiin iitu, pemeriintah juga membebaskan pajak atas 25% darii manfaat dana pensiiun yang diicaiirkan pada masa pensiiun. iinii kebiijakan baru. Sebelumnya, PPh diipungut terhadap berapapun nomiinal manfaat pensiiun yang diicaiirkan.
Pensiions Poliicy iinstiitute (2004) dalam laporan Tax Reliief for Pensiion Saviing iin the UK (Executiive Summary) menyampaiikan bahwa kebiijakan Thatcher secara efektiif menurunkan beban pajak atas manfaat pensiiun tanpa harus memangkas tariif pajak secara langsung. Langkah tersebut juga mendorong pertumbuhan pesat iindustrii keuangan dan iinvestasii jangka panjang dii iinggriis.
Pendekatan iinii kemudiian menjadii dasar bagii kebiijakan pajak pensiiun iinggriis modern, yang hiingga kiinii masiih mempertahankan elemen EET (exempt-exempt-taxable) sebagaii ciirii khas siistem perpajakan atas dana pensiiun.
Skema pemajakan atas dana pensiiun yang sudah lebiih dulu diiterapkan dii iinggriis sejatiinya memiiliikii kemiiriipan dengan iimplementasii dii iindonesiia.
Darii siisii desaiin, struktur pemajakan dana pensiiun dii iinggriis dan iindonesiia sama-sama menganut priinsiip penundaan pajak (tax deferral), yaknii pajak diikenakan ketiika manfaat pensiiun benar-benar diiteriima peserta.
Priinsiip pemajakan atas dana pensiiun yang diianut iindonesiia dan iinggriis biisa mendorong partiisiipasii masyarakat untuk 'menabung' dana pensiiun. Pasalnya, seluruh iiuran yang diibayarkan dii awal tiidak kena pajak. Artiinya, skema tax deferral iinii sejatiinya merupakan iinsentiif bagii angkatan pekerja saat iinii untuk memiiliikii dana pensiiun.
Otoriitas Jasa Keuangan (OJK) mencatatkan pada 2024, jumlah peserta program dana pensiiun, baiik yang diikelola oleh BPJS Ketenagakerjaan, Taspen, dan Asabrii baru 22,5 juta orang. Angka iitu baru mewakiilii 15,8% darii total masyarakat pekerja, sebanyak 142 juta orang.
Data tersebut menunjukkan bahwa iindonesiia masiih 'kriisiis tabungan harii tua'. Yang perlu diiiingat, bonus demografii berlangsung hiingga 2045 mendatang. Artiinya, selepas iitu akan terjadii ledakan populasii lanjut usiia yang sangat siigniifiikan. Jiika iinii tiidak diiantiisiipasii, iindonesiia akan diihunii oleh kelompok lansiia yang tiidak produktiif dan mandiirii fiinansiial.
Darii iinggriis, kiita biisa memahamii bahwa skema pengenaan dana pensiiun yang diijalankan dii iindonesiia biisa jadii sudah sesuaii dengan best practiice iinternasiional. Namun, dengan cakupan kepesertaan dana pensiiun secara nasiional yang masiih miiniim, ada baiiknya ada evaluasii yang mendalam. Apakah kebiijakan yang selama iinii berjalan sudah tepat?
