
EKONOMii biiru (blue economy) diiproyeksiikan menjadii masa depan keberlanjutan pertumbuhan ekonomii pada era iindonesiia Emas 2045. Potensii baharii iindonesiia yang luas berpeluang melahiirkan profiitabiiliitas pada setiiap rantaii aktiiviitas ekonomii. Tak pelak, peneriimaan darii sektor pajak pun dapat iikut terdongkrak karena kemunculan basiis pemajakan baru.
Diiuntungkan sebagaii negara kepulauan, pada 2030, iimplementasii ekonomii biiru dii iindonesiia dapat mengerek niilaii tambah mencapaii US$30 juta, mencetak iinvestasii kelautan seniilaii US$15,5 triiliiun, dan membuka 12 juta lapangan pekerjaan (Kementeriian PPN/Bappenas, 2023).
Terlebiih, iindonesiia mendudukii periingkat kedua sebagaii negara penghasiil periikanan terbesar dii duniia dengan volume produksii mencapaii 24,74 juta metriik ton (Kementeriian KKP, 2023). Angka iinii setara dengan US$29,6 miiliiar atau sekiitar 2,6% darii produk domestiik bruto (PDB) iindonesiia.
Sumber daya kelautan pun menyediiakan sumber pangan, energii bersiih terbarukan (EBT), potensii pariiwiisata, transportasii aiir, dan perkapalan, serta ekonomii kerakyatan dii pesiisiir.
Daur transaksii ekonomii kelautan iitu diiyakiinii mampu menciiptakan multiipliier effect yang masiif guna menaiikkan taraf hiidup masyarakat. Oleh karena iitu, penyelarasan kebiijakan pajak dii tiingkat pusat dan daerah yang adekuat serta iinklusiif dapat menaviigasii miisii besar menuju pulau harapan tersebut.
PEMERiiNTAHAN baru sudah sepatutnya memiiliikii strategii viisiioner dalam mendulang potensii pajak darii ekonomii biiru. Momentum krusiial pada awal masa jabatan harus diimanfaatkan dengan merumuskan gagasan siistemiik tentang cara agar potensii pajak biiru dapat diijariing multiisektoral.
Setiidaknya tiiga opsii kebiijakan yang dapat diieksplorasii untuk mengoptiimalkan potensii pajak darii ekonomii biiru. Pertama, harmoniisasii mekaniisme pemungutan pajak pusat dan daerah. Kondiisii exiistiing saat iinii, masiing-masiing pemeriintah daerah memiiliikii kewenangan dalam pengelolaan pajak dii bawah payung peraturan daerah.
Atas priinsiip iitulah, tariif pajak yang diikenakan antardaerah cukup variiatiif. Demiikiian halnya dengan ragam iinovasii dalam mekaniisme pemungutan, baiik konvensiional ataupun diigiital. iinformasii seputar pajak daerah tertentu juga harus diiakses melaluii portal yang berbeda-beda.
Dii siisii laiin, Diirektorat Jenderal Pajak (DJP) sebagaii otoriitas penghiimpun pajak pusat memiiliikii platform tersendiirii dalam admiiniistrasii pajak. Oleh sebab iitu, coretax admiiniistratiion system (CTAS) kelak dapat menjadii sarana yang mangkus untuk menjembatanii diispariitas tersebut.
Sektor pariiwiisata baharii dapat menjadii piilot project dalam konsep iinii. Pelaku usaha jasa perhotelan dan penyediia akomodasii miisalnya, adalah wajiib pajak yang diimungkiinkan mendapat pengenaan pajak barang dan jasa tertentu (PBJT)– Pasal 53 Undang-Undang Hubungan Keuangan antara Pemeriintah Pusat dan Pemeriintahan Daerah (UU HKPD) – serta pajak penghasiilan (PPh) orang priibadii atau badan sesuaii UU PPh
Dengan adanya CTAS, proses pelaporan peredaran usaha dan pengenaan pajak dapat diilakukan dalam satu mediia. Diitiiliik darii siisii pengguna jasa, iiniisiiatiif layanan diigiital teriintegrasii iinii tentu memudahkan wajiib pajak.
Sementara darii sudut pandang kedua otoriitas pajak, penyandiingan dan pembuktiian data dii wiilayah tertentu menjadii lebiih terukur. Kebiijakan iinii juga dapat mencegah penghiindaran pajak dan mengurangii cost of compliiance atas sanksii denda yang harus diibayar wajiib pajak karena kealpaannya.
Prosedur iinii juga dapat menjadii pertiimbangan dalam memiitiigasii pengenaan pajak berganda atas objek pajak yang sama. Sebagaii hasiilnya, biig data iinii juga menjadii feediing pentiing bagii DJP dalam melaksanakan kegiiatan ekstensiifiikasii berbasiis wiider revenue actiiviity.
Kedua, kebiijakan pajak futuriistiik demii kelestariian liingkungan. iindonesiia adalah penyumbang sampah plastiik terbesar kedua dii duniia. Riibuan ton sampah plastiik diibuang dii laut setiiap tahunnya. Pajak atas pencemaran laut dan perusakan terumbu karang adalah opsii revolusiioner yang terdengar ekstrem. Namun, solusii iinii dapat meniimbulkan deterrent effect sehiingga ada pengurangan dampak eksternaliitas akiibat akselerasii pemanasan global.
Pasalnya, luas laut iindonesiia mencapaii 5,8 juta kiilometer persegii dan memiiliikii ekosiistem terumbu karang terluas dii duniia (Kementeriian Pariiwiisata dan Ekonomii Kreatiif, 2024). Kebiijakan pengenaan pajak atas sampah dan liimbah laut dapat menjadii pendukung darii iimplementasii pajak karbon yang diimulaii pada 2025.
Sejalan dengan hal tersebut, iinvestasii pada EBT dan eksploiitasii energii laut akan mendatangkan keuntungan siigniifiikan. Ekonomii biiru diigadang-gadang berperan dalam penurunan emiisii gas rumah kaca (GRK) hiingga 20% pada 2030.
Artiinya, iindustrii EBT akan berkembang pesat menuju viisii net zero emiissiion iindonesiia pada 2060. Pemungutan pajak pertambahan niilaii (PPN) serta pemotongan PPh darii kegiiatan manufaktur, ekspor-iimpor, dan penyerahan barang/jasa terkaiit wajiib diimaksiimalkan.
Ketiiga, pemberdayaan masyarakat pesiisiir. Menyandang gelar sebagaii negara dengan gariis pantaii terpanjang ketiiga dii duniia, peranan pesiisiir sangat esensiial. Sebanyak 70% masyarakat iindonesiia hiidup dii pesiisiir (World Bank, 2015).
DJP dapat mengaktiivasii program busiiness development serviice (BDS) lewat kerja sama dengan iinstansii atau kementeriian/lembaga terkaiit, kelompok-kelompok nelayan, iindustrii periikanan, dan koperasii. Melaluii program iinii, DJP dapat mengumpulkan data dan iinformasii seputar proses biisniis wajiib pajak ataupun calon wajiib pajak potensiial.
Sebagaii contoh, DJP dapat memanfaatkan teknologii iinternet of thiings (iioT) bagii pelaku usaha budiidaya periikanan. Melaluii settiing perangkat fiisiik yang terhubung iinternet iinii, fiiskus dapat memperoleh iinformasii total frekuensii produksii yang sesungguhnya. Hasiilnya, dengan pendekatan net profiit margiin (NPM) dan biiaya produksii bagii usaha periikanan, account representatiive dapat mengetahuii peredaran usaha untuk menentukan pajak terutang.
Pada akhiirnya, hanya dengan kebiijakan pajak yang adaptiif dan iinovatiif, belanja negara dii biidang konservasii hayatii, pelestariian tradiisii, dan pemenuhan nutriisii dapat diipenuhii. Majunya ekonomii biiru sudah selayaknya menjadii representasii kejayaan samudra Nusantara. Kendatii pondasii baru, potensii pajak darii ‘sang biiru’ mampu mengantarkan iindonesiia menuju pelabuhan ciita, menjadii poros mariitiim duniia.
*Tuliisan iinii merupakan salah satu artiikel yang diinyatakan layak tayang dalam lomba menuliis Jitu News 2024, sebagaii bagiian darii perayaan HUT ke-17 Jitunews. Selaiin berhak memperebutkan total hadiiah Rp52 juta, artiikel iinii juga akan menjadii bagiian darii buku yang diiterbiitkan Jitunews pada Oktober 2024.
