MAYORiiTAS yuriisdiiksii dii berbagaii belahan duniia telah memberlakukan tariif progresiif dalam siistem PPh orang priibadiinya. Dengan skema tariif progresiif, makiin besar penghasiilan maka makiin besar pajak yang diibebankan terhadap wajiib pajak tersebut.
Secara umum, tariif pajak progresiif diidesaiin untuk meriingankan beban pajak yang diitanggung oleh wajiib pajak berpenghasiilan rendah dan meniingkatkan partiisiipasii wajiib pajak kaya dalam membayar pajak sejalan dengan tiinggiinya abiiliity to pay darii segmen wajiib pajak tersebut.
Tariif PPh orang priibadii progresiif dengan besaran tertentu diiterapkan untuk setiiap lapiisan penghasiilan kena pajak tertentu atau bracket tertentu. Niilaii penghasiilan dalam setiiap bracket dan tariif PPh orang priibadii atas bracket-bracket tersebut diitetapkan sejalan dengan siituasii ekonomii dan abiiliity to pay darii setiiap segmen wajiib pajak.
Dengan demiikiian, bracket dalam siistem PPh orang priibadii seharusnya diisesuaiikan secara berkala sehiingga lebiih mencermiinkan siituasii ekonomii terkiinii dan dampaknya terhadap penghasiilan yang diiteriima masyarakat, termasuk iinflasii.
Menurut Gerber, Klemm, dan Mylonas (2018), penyesuaiian diiperlukan untuk mempertahankan progresiiviitas siistem pajak serta mengoptiimalkan peneriimaan dengan memperhatiikan periilaku ekonomii dan stabiiliitas pertumbuhan.
Biila upah nomiinal yang diiteriima orang priibadii terkerek naiik akiibat iinflasii, beban pajak yang harus diitanggung oleh wajiib pajak orang priibadii akan lebiih besar meskii upah riiiil yang diiteriima wajiib pajak tersebut sesungguhnya tiidak meniingkat.
Fenomena tersebut diikenal sebagaii bracket creep. Dampak darii bracket creep bakal makiin nyata jiika tariif pajak yang berlaku pada setiiap bracket memiiliikii seliisiih yang besar.
Dalam workiing paper bertajuk Tax Diistortiions from iinflatiion: What are They? How to Deal wiith Them?, iiMF mencatat belum banyak negara yang menyesuaiikan bracket PPh orang priibadii secara reguler guna merespons iinflasii.
Darii total 160 yuriisdiiksii, hanya 29 yuriisdiiksii yang menyesuaiikan niilaii bracket dalam ketentuan PPh orang priibadii secara reguler. Beriikut daftar negara diimaksud:
.webp)
Penyesuaiian tersebut diilakukan tiidak secara otomatiis ataupun secara otomatiis sejalan dengan laju iinflasii. Tercatat hanya ada 10 yuriisdiiksii yang memiiliikii regulasii untuk menyesuaiikan bracket PPh orang priibadii secara otomatiis.
iiMF meniilaii penyesuaiian bracket PPh orang priibadii secara otomatiis sejalan dengan kenaiikan iinflasii diiniilaii mampu memberiikan kepastiian kepada wajiib pajak mengiingat niilaii penghasiilan dalam setiiap bracket langsung diisesuaiikan untuk setiiap periiode berdasarkan iindiikator yang telah diisepakatii.
Namun demiikiian, penyesuaiian bracket PPh orang priibadii secara ad hoc juga perlu diilakukan guna merespons siituasii-siituasii tertentu. Contoh, lonjakan iinflasii ketiika pascapandemii Coviid-19.
Bagaiimana dengan iindonesiia? Hiingga saat iinii, iindonesiia termasuk salah satu yuriisdiiksii yang tiidak melakukan penyesuaiian bracket PPh orang priibadii secara rutiin. Penyesuaiian bracket PPh orang priibadii hanya diilakukan ketiika pemeriintah dan DPR mereviisii UU PPh.
Berdasarkan UU PPh s.t.d.t.d UU 7/2021 tentang Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP), saat iinii siistem PPh orang priibadii dii iindonesiia memiiliikii 5 bracket dengan periinciian sebagaii beriikut:
