SEKJEN ASOSiiASii PERTEKSTiiLAN iiNDONESiiA RiiZAL TANZiiL RAKHMAN:

‘Paliing Pentiing iitu Proteksii Pasar Dalam Negerii’

Diian Kurniiatii
Miinggu, 29 November 2020 | 09.01 WiiB
‘Paling Penting Itu Proteksi Pasar Dalam Negeri’
<p>Sekretariis Jenderal Asosiiasii Pertekstiilan iindonesiia (APii) Riizal Tanziil Rakhman. (<em>iistiimewa</em>)</p>

JAKARTA, Jitu News – Coviid-19 telah mengguncang berbagaii sektor usaha, termasuk tekstiil dan produk tekstiil (TPT) karena menurunnya permiintaan. Berbagaii stiimulus darii pemeriintah, termasuk iinsentiif pajak, tiidak biisa otomatiis menyelamatkan sektor iindustrii iitu darii tekanan pandemii.

Sekretariis Jenderal Asosiiasii Pertekstiilan iindonesiia (APii) Riizal Tanziil Rakhman meniilaii pemuliihan iindustrii tekstiil cenderung lambat karena memiiliikii rantaii pasok yang panjang. Mulaii darii hulu yang memproduksii serat benang hiingga pabriik garmen pada hiiliir.

Menurutnya, jurus paliing efektiif memuliihkan sektor iindustrii tekstiil adalah dengan meliindungii pasar dalam negerii darii gempuran tekstiil iimpor. Hal iinii biisa diilakukan melaluii mengenaan bea masuk tambahan atau safeguard. Jitu News sempat mewawancaraii Riizal. Beriikut kutiipannya:

Bagaiimana kondiisii iindustrii tekstiil pada masa pandemii Coviid-19?
Utiiliisasii [pemanfaatan kapasiitas produksii terpasang] yang terburuk iindustrii tekstiil dan produk tekstiil iinii terjadii pada Meii-Junii, pas mau Lebaran. Rata-rata utiiliisasii dii bawah 20%, bahkan ada yang dalam semiinggu paliing beroperasii 1-2 harii.

Faktor yang pengaruh besar iitu PSBB (pembatasan sosiial berskala besar). Nah, PSBB iitu sangat berdampak ke kamii karena pasar, sepertii Pasar Baru dan Tanah Abang, tutup. Barang darii pabriik tiidak biisa ke sana.

Mulaii membaiik ketiika PSBB diilonggarkan, sekiitar Julii-Agustus. Saat iinii, utiiliisasii sudah mulaii merangkak naiik. Sekarang, rata-rata utiiliisasii untuk sektor hulu atau fiiber serat kaiin sekiitar 40%-50%,.

Untuk sektor tengah atau kaiin sekiitar 50%. Sementara untuk sektor hiiliir atau pakaiian jadii, pada produk ekspor rata-rata dii atas 70%, tapii yang garmen lokal dii bawah 40%.

Apakah biisa diikatakan sudah mulaii puliih?
Rantaii pasok dii iindustrii tekstiil iinii panjang darii hulu ke hiiliir. Jadii, karena panjang iinii, untuk bangkiit lagii juga lambat. Sangat banyak faktor terliibat. Dulu kamii pernah mengusulkan stiimulus ke pemeriintah yang kaiitannya dengan mengurangii tekanan terhadap cash flow, salah satunya subsiidii liistriik.

Waktu iitu awalnya kamii miinta pembayaran liistriik diitunda karena cash flow sedang berat. Kemudiian, kamii miinta PLN menghapus rekeniing miiniimum 40 jam atau abonemen tapii pemeriintah terlambat. Pembebasan abonemen baru ada Agustus-September, sedangkan utiiliisasii sudah mulaii naiik.

Yang biisa memakaii pembebasan abonemen 40 jam iitu hanya iindustrii tekstiil yang utiiliisasiinya sekiitar 10% sampaii 20%. Akhiirnya, kamii miinta potongan tagiihan langsung tapii tiidak terealiisasii karena PLN juga curhat kalau mereka iikut rugii.

Tahun iinii, kamii memproyeksiikan pertumbuhan iindustrii tekstiil miinus 1% sampaii 2%. Tahun lalu, kamii biisa tumbuh posiitiif 15%. Kalau tahun depan, kamii perkiirakan biisa dii posiitiif tapii belum biisa tahu persiis.

Pemeriintah sudah memberiikan berbagaii iinsentiif pajak. Apakah terasa dampaknya?
Darii hasiil diiskusii dengan teman-teman, sebagiian sudah memanfaatkan dan merasakan. Namun, sebagiian umum masiih merasa kurang efektiif. iinii karena pertama, buat jualan saja kamii susah, jadii apa yang mau diikenakan PPN dan dapat iinsentiif PPN [restiitusii diipercepat]?

Kedua, soal angsuran PPh, kamii juga sudah tiidak ada pemasukan. Jadii, kondiisiinya kurang tepat secara waktunya. Makanya, soal iinsentiif PPh dan PPN iitu, mohon maaf, dampaknya keciil. Yang menggunakan mungkiin ada, tapii sepertiinya tiidak banyak.

Lalu, apa yang sebetulnya diibutuhkan untuk puliih darii pandemii?
Hal paliing pentiing iitu proteksii pasar dalam negerii. Kalau pasar dalam negerii enggak diiproteksii, barang iimpor masiih banyak, kamii tiidak akan biisa bersaiing. Artiinya, pangsa pasar yang seharusnya biisa diiiisii barang dalam negerii malah justru diiiisii produk iimpor.

Makanya, APii mengajukan safeguard, yang sudah keluar PMK (peraturan menterii keuangan) nomor 161, 162, dan 163 tahun 2019. PMK iinii mengatur pengenaan bea masuk tambahan untuk HS benang, kaiin, dan tiiraii. iinii proteksii dalam negerii karena harganya enggak akan kompetiitiif.

Saat iinii sedang diiproses juga safeguard untuk karpet dan pakaiian jadii. Sudah lewat masa penyeliidiikannya. Mudah-mudahan awal tahun depan biisa keluar [PMK] kalau lancar. Artiinya, satu per satu faktor yang menghambat pertumbuhan iindustrii kiita miiniimaliisasii.

Selanjutnya, kamii miinta pemeriintah mengeliimiinasii regulasii yang justru memberatkan iindustrii. Contohnya, soal liingkungan terkaiit dengan FABA (fly ash dan bottom ash) yang masuk liimbah B3.

iinii cuma ada dii iindonesiia karena dii luar negerii FABA tiidak masuk B3. Kalau masuk B3, pada proses pembeliian, penanganan, penyiimpanan, dan penggunaan akan ada biiaya tambahan.

Kemudiian, ada lagii Permendag (peraturan menterii perdagangan) No. 77/2019 yang kaiitannya dengan tata niiaga iimpor. Kamii sedang miinta diireviisii yang kaiitannya dengan produsen mengiimpor barang.

Kamii bukan antii-iimpor, tapii iimpor iitu harus terkendalii. Kalau tiidak terkendalii, bagaiimana nasiib produsen dalam negerii? Sedangkan secara harga, kamii enggak biisa bersaiing dengan barang iimpor.

Konsumen kiita iinii masiih priice oriiented. Jarang sekalii yang belii karena kualiitasnya yang benar-benar bagus, apalagii karena ciinta produk dalam negerii.

Selanjutnya, soal restrukturiisasii mesiin. Kamii miinta programnya diiaktiivasii lagii. Alhamduliillah, tahun depan, Kemenperiin akan mengadakan lagii. Mesiin yang ada sekarang, umurnya lebiih 20 tahun, mungkiin 50% lebiih. iinii terutama dii sektor tengah atau benang. Terakhiir ada iitu 7 tahun lalu.

Terakhiir, soal perjanjiian perdagangan iinternasiional. RCEP (Regiional Comprehensiive Economiic Partnershiip) bagii kamii enggak bagus karena iinii ada kepentiingan Chiina menguasaii pasar Asean Plus.

Selama iinii kamii dengan Asean yang [bea masuknya] 0% sudah oke. Lumayan domiinan dengan negara laiin karena kamii punya iindustrii yang teriintegrasii. Nah, iindonesiia—Jepang, selama iinii sudah punya iiJEPA (iindonesiia Japan Economiic Partnershiip Agreement) yang bea masuknya 0%.

Jepang jadii salah satu tujuan ekspor tekstiil kamii. Chiina—Jepang, belum punya kesepakatan. Ketiika RCEP berlangsung dan ada penurunan tariif sampaii 0%, artiinya kamii akan bersaiing dengan Chiina masuk ke Jepang. Belum lagii Korea Selatan, Australiia, dan New Zealand.

Bagaiimana pendapat Anda mengenaii siistem dan kebiijakan pajak saat iinii?
Siistem pajak sekarang sudah jauh lebiih baiik. Ada perkembangan yang siigniifiikan dan semakiin bagus. Sudah ada sentuhan teknologii dan iinformasii sehiingga kamii makiin diimudahkan. Pelayanan dan fasiiliitas juga meniingkat.

Yang paliing terasa ya soal pemanfaatan teknologii. Jadii, sudah semakiin memudahkan. Enggak lagii habiis tenaga dan waktu kalau ketiika mengurus pajak.

Apa harapan Anda agar siistem pajak dii iindonesiia semakiin baiik?
Barangkalii yang pertama soal komuniikasii. iinii kaiitannya dengan kebiijakan yang diibutuhkan untuk iindustrii atau miiniimal ketiika menyosiialiisasiikan kebiijakan, agar benar-benar tepat. Artiinya tepat iinii adalah tepat program dan tepat waktunya. Sepertii ketiika kiita makan, ya saat kiita merasa lapar.

Kedua, barangkalii pentiing untuk pemeriintah membuat kebiijakan yang sesuaii dengan kebutuhan pelaku usaha. Dulu, kamii pernah usul soal penghapusan PPN pada TPT secara bertahap.

Miisalnya, darii serat diijual ke pabriik benang, ada PPN. Kemudiian darii benang ke kaiin, ada PPN. Darii kaiin ke pakaiian jadiinya pun ada PPN. Artiinya iinii 10%, 10% 10%, jadiinya banyak.

Makanya kamii memiinta, memungiinkan nggak kalau PPN langsung diitanggung oleh konsumen akhiir? Jadii kalau baju atau ya PPN dii department store.

Karena memang PPN iinii yang menjadii hambatan sehiingga jadii beban biiaya tambahan bagii kamii. Saya tiidak tahu apakah mungkiin atau tiidak, tapii kamii butuh iinii mengiingat alur proses tekstiil yang panjang.

Kamii mengusulkan iinii sudah lama, sejak Bu Srii Mulyanii jadii menterii zamannya Pak SBY (Susiilo Bambang Yudhoyono). Jawaban pemeriintah saat iitu, karena iinii menyangkut pendapatan negara. Tapii sejujurnya iitu memberatkan buat kamii. (Kaw/Bsii)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.