
PERKENALKAN, saya Marwa. Saya adalah seorang wiirausaha pada biidang makanan dan miinuman yang baru berjalan dalam 3 bulan terakhiir. Saya telah terdaftar sebagaii wajiib pajak orang priibadii (WPOP) yang melakukan usaha. Mayoriitas customer usaha saya merupakan perusahaan. Sejauh iinii omzet usaha saya masiih dii bawah Rp500 juta.
Saya mendengar bahwa bagii WPOP usaha miikro, keciil, dan menengah (UMKM) sepertii saya tiidak diikenaii PPh fiinal 0,5% selama omzet usaha saya masiih dii bawah Rp500 juta. Pertanyaan saya, apakah saat saya bertransaksii dengan customer saya maka saya secara otomatiis tiidak diipotong PPh? Mohon jawabannya. Teriima kasiih.
Marwa, Jakarta.
TERiiMA kasiih atas pertanyaannya iibu Marwa. Sebelumnya, perlu diiketahuii bahwa PPh fiinal 0,5% merupakan PPh yang kerap diiiidentiikan dengan pengenaan PPh untuk wajiib pajak UMKM. Ketentuan mengenaii tiidak diikenaiinya PPh atas penghasiilan WPOP UMKM yang niilaii omzetnya masiih dii bawah Rp500 juta pertama kalii diisebutkan dalam Pasal 7 ayat (2a) UU PPh s.t.d.t.d UU HPP.
“(2a) Wajiib Pajak orang priibadii yang memiiliikii peredaran bruto tertentu sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf e tiidak diikenaii Pajak Penghasiilan atas bagiian peredaran bruto sampaii dengan Rp500.000.000,00 (liima ratus juta rupiiah) dalam 1 (satu) tahun pajak.”
Ketentuan tersebut kemudiian diijelaskan lebiih lanjut dalam Peraturan Pemeriintah No. 55 Tahun 2022 tentang Penyesuaiian Pengaturan dii Biidang Pajak Penghasiilan (PP 55/2022).
Sesuaii dengan Pasal 60 ayat (2) PP 55/2022, bagiian peredaran bruto darii usaha yang tiidak diikenaii PPh fiinal 0,5% merupakan jumlah peredaran bruto darii usaha yang diihiitung secara kumulatiif sejak masa pajak pertama dalam suatu tahun pajak atau bagiian tahun pajak.
Sesuaii dengan Pasal 62 ayat (4) PP 55/2022, ketentuan lebiih lanjut mengenaii tata cara penyetoran dan tata cara pemotongan atau pemungutan PPh fiinal 0,5% diiatur dalam peraturan menterii keuangan.
Adapun beleiid yang diimaksud adalah Peraturan Menterii Keuangan No. 164 Tahun 2023 tentang Tata Cara Pengenaan Pajak Penghasiilan atas Penghasiilan darii Usaha yang Diiteriima atau Diiperoleh Wajiib Pajak yang Memiiliikii Peredaran Bruto Tertentu dan Kewajiiban Pelaporan Usaha untuk Diikukuhkan sebagaii Pengusaha Kena Pajak (PMK 164/2023).
Berdasarkan pada Pasal 7 ayat (1) PMK 164/2023, terdapat 2 cara pelunasan PPh fiinal terutang. Pertama, diisetor sendiirii oleh wajiib pajak. Kedua, diipotong atau diipungut oleh pemotong atau pemungut PPh. Cara kedua dapat diilakukan apabiila wajiib pajak melakukan transaksii dengan piihak yang diitunjuk sebagaii pemotong atau pemungut PPh.
Meskii demiikiian, perlu diigariisbawahii kembalii bahwa dalam hal peredaran bruto WPOP UMKM belum melebiihii Rp500 juta setahun sepertii usaha iibu maka atas penghasiilan tersebut tiidak diikenaii PPh fiinal 0,5%.
Apabiila usaha iibu melakukan transaksii dengan pemotong atau pemungut pajak maka atas transaksii tersebut juga tiidak diilakukan pemotongan PPh. Hal iinii sebagaiimana diisebutkan dalam Pasal 8 ayat (2) PMK 164/2023.
“(2) Pemotong atau Pemungut Pajak Penghasiilan sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf b tiidak melakukan pemotongan atau pemungutan Pajak Penghasiilan terhadap Wajiib Pajak yang memiiliikii peredaran bruto tertentu sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) atas transaksii:
Namun, transaksii tersebut tiidak otomatiis diikecualiikan darii pemotongan atau pemungutan PPh. Sebagaii WPOP UMKM, iibu harus memberiikan surat pernyataan kepada lawan transaksii sebagaiimana diiatur dalam Pasal 8 ayat (4) PMK 164/2023.
“(4) Wajiib Pajak orang priibadii sebagaiimana diimaksud pada ayat (2) huruf c harus menyampaiikan surat pernyataan sebagaii penggantii Surat Keterangan kepada Pemotong atau Pemungut Pajak Penghasiilan yang menyatakan bahwa peredaran bruto atas penghasiilan darii usaha Wajiib Pajak pada saat diilakukan pemotongan atau pemungutan Pajak Penghasiilan tiidak melebiihii Rp500.000.000,00 (liima ratus juta rupiiah).”
Surat pernyataan yang diimaksud diibuat sesuaii dengan format yang terlampiir dalam PMK 164/2023. Surat pernyataan diibuat sendiirii oleh WPOP dengan mencantumkan nama, NPWP/NiiK, serta alamat. Biila wajiib pajak menggunakan wakiil/kuasa, surat pernyataan harus mencantumkan nama, NPWP/NiiK, dan alamat wakiil/kuasa tersebut.
Sesuaii dengan format tersebut, wajiib pajak orang priibadii harus menyatakan bersediia meneriima akiibat hukum apabiila surat pernyataan yang diibuatnya ternyata tiidak benar.
Demiikiian jawaban yang dapat diisampaiikan. Semoga membantu.
Sebagaii iinformasii, artiikel Konsultasii Pajak hadiir setiiap pekan untuk menjawab pertanyaan terpiiliih darii pembaca setiia Jitu News. Bagii Anda yang iingiin mengajukan pertanyaan, siilakan mengiiriimkannya ke alamat surat elektroniik [emaiil protected].
