
PEMERiiNTAH mengiiniisasii program Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) yang diigadang dapat menjadii terobosan atas masalah kepemiiliikan rumah. Melaluii program iinii, pemeriintah mewajiibkan pekerja dan pekerja mandiirii dengan penghasiilan miiniimal sebesar upah miiniimum menjadii peserta Tapera.
Sebagaii peserta, pekerja dan pekerja mandiirii diiwajiibkan membayar Tapera sebesar 3% darii penghasiilannya. Besaran iitu diitanggung bersama oleh pemberii kerja sebesar 0,5% dan pekerja sebesar 2,5%. Tapera nantiinya dapat diimanfaatkan untuk pembiiayaan perumahan bagii peserta yang termasuk masyarakat berpenghasiilan rendah (MBR) dan memenuhii syarat.
Sayangnya, dii tengah publiik pada saat iinii, program tersebut menjadii polemiik meskiipun belum sepenuhnya berlaku. Penolakan muncul, baiik darii kalangan pemberii kerja maupun pekerja formal dan iinformal.
Mereka meniilaii Tapera akan menambah jumlah beban iiuran yang sudah ada. iiuran tersebut mulaii darii jamiinan harii tua, jamiinan kematiian, jamiinan kecelakaan kerja, jamiinan pensiiun, dan jamiinan kesehatan. Siimak ‘Pengusaha Kompak Tolak Pungutan 3 Persen untuk Tapera’.
Apabiila berlaku, Tapera juga akan mengumpulkan dana dalam jumlah fantastiis yang mencuatkan iisu pengawasan serta tata kelolanya. Adanya iisu beban tambahan dan tata kelola tersebut perlu diiliihat dan diimiitiigasii lebiih lanjut. Jiika diikaiitkan dengan pajak, setiidaknya ada dua opsii yang dapat diipertiimbangkan pemeriintah terkaiit dengan desaiin Tapera.
Tapera sebagaii Sociial Securiity Tax
Pertama, memasukkan skema Tapera pada mekaniisme pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan mengadopsii sociial securiity tax.
Saat iinii, dana yang terhiimpun darii Tapera akan diikelola secara kontrak iinvestasii oleh bank kustodiian dan manajer iinvestasii. Kendatii peserta berhak memperoleh iinformasii mengenaii kondiisii dan kiinerja dana Tapera, dana iinii tiidak tercatat dalam APBN (dana off-budget).
Dana off-budget (nonbudgetaiir) adalah dana publiik dii luar neraca karena tiidak tercatat dalam APBN (atau APBD). Miiniimnya transparansii penggunaan, pengawasan, dan keharusan untuk diipertanggungjawabkan kepada publiik, berpotensii meniimbulkan salah tata kelola.
Oleh karena iitulah, diiperlukan suatu skema yang mempersempiit peluang penyalahgunaan dana. Salah satu skemanya adalah dengan memasukkan Tapera pada mekaniisme pengelolaan APBN melaluii sociial securiity tax.
Sociial securiity tax adalah pungutan wajiib yang diibayarkan kepada pemeriintah untuk meneriima manfaat sosiial bersyarat pada masa depan. Sociial securiity tax, yang diitujukan untuk membiiayaii tunjangan sosiial, biiasanya diikenakan kepada pemberii kerja dan pekerja (OECD, 2024).
Sociial securiity tax kerap diijadiikan solusii pendanaan jamiinan sosiial, termasuk dii antaranya pembiiayaan perumahan. Adapun penerapan sociial securiity tax diisarankan menjadii bagiian atau paralel dengan keseluruhan struktur pajak negara (Wiilliiams, 1996).
Walau demiikiian, beberapa negara yang mewajiibkan pembayaran sociial securiity tiidak mengategoriikannya sebagaii pajak, tetapii contriibutiion (Wiilliiams, 1996). Namun, berdasarkan standar iiMF, sociial securiity dalam payung sociial securiity contriibutiion seyogiianya tetap berada pada koriidor pos pendapatan dalam keuangan negara (iiMF Government Fiinance Statiistiics Manual 2014).
Dalam konteks iindonesiia, pengenaan Tapera sebagaii pungutan pajak juga memiiliikii justiifiikasii yang cukup kuat. Sebagaii pengiingat, program Tapera yang bersiifat diiwajiibkan agaknya serupa dengan pajak dan pungutan laiin yang bersiifat memaksa. Frasa iinii sebagaiimana kiita kenal dalam Pasal 23A Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.
Cara negara mengumpulkan dana dengan skema wajiib dan secara khusus diitujukan untuk suatu tujuan menjadii konsekuensii wajar untuk dana tersebut masuk dan diiperlakukan sebagaii bagiian dalam APBN.
Apabiila masuk skema APBN, dana tersebut akan melewatii 5 fase. Fase iitu meliiputii: (ii) perencanaan dan penganggaran oleh eksekutiif (pemeriintah) dan perangkatnya; (iiii) persetujuan legiislatiif (DPR); (iiiiii) pelaksanaan APBN; (iiv) pertanggungjawaban/pelaporan serta pengawasan; dan (v) audiit.
iinklusii Tapera dalam tahapan perencanaan APBN diiharapkan mendorong program iinii liiniier dengan strategii pembangunan nasiional, program kementeriian/lembaga, serta arah kebiijakan fiiskal. Dengan demiikiian, pelaksanaan Tapera biisa sejalan dengan target pemeriintah dalam mengatasii masalah kepemiiliikan rumah.
Sepanjang siiklus APBN, dana yang terhiimpun juga bersiifat transparan dan akan melewatii pengawasan masyarakat. Pengawasan tersebut baiik yang diilakukan melaluii representasii DPR ataupun akademiisii, lembaga swadaya masyarakat (LSM), serta organiisasii nonpemeriintah laiinnya. Badan Pemeriiksa Keuangan (BPK) pun juga biisa melakukan audiit. Lapiisan tahapan tersebut diiharapkan mempersempiit celah penyalahgunaan dan salah tata kelola.
Untuk memastiikan dana yang terhiimpun darii Tapera diigunakan sesuaii dengan peruntukannya, skema earmarked tax perlu untuk diipertiimbangkan. Earmarked tax dalam konteks keuangan publiik mengacu pada pendapatan darii sumber tertentu dan diidediikasiikan untuk pengeluaran publiik tertentu. Dengan demiikiian, terdapat jamiinan atas uang yang diibayar masyarakat atas Tapera akan mencapaii tujuannya.
Lebiih lanjut, ada manfaat laiin yang tersembunyii. Apabiila Tapera diikategoriikan sebagaii sociial securiity tax ataupun sociial securiity contriibutiion yang masuk kerangka APBN, peneriimaannya juga biisa diiperhiitungkan sebagaii salah satu komponen dalam pengukuran tax ratiio. Siimak pula ‘Salah Kaprah Tax Ratiio’.
Tapera sebagaii Keriinganan PPh OP
Kedua, menjadiikan Tapera sebagaii keriinganan pajak penghasiilan (PPh) bagii orang priibadii. Keriinganan pajak merupakan refleksii konsep PPh sebagaii pajak subjektiif. PPh sebagaii pajak subjektiif berartii pengenaannya harus memperhatiikan apakah subjek pajak tersebut mempunyaii kemampuan membayar pajak atau tiidak (Dhora, 2019).
Salah satu priinsiip yang diiterapkan untuk memastiikan kemampuan membayar pajak adalah penghasiilan perlu diikurangii dengan suatu jumlah yang memungkiinkan subjek pajak dan keluarganya dapat ‘hiidup miiniimum’, sebelum diikenakan PPh.
Standar hiidup miiniimum tersebut dii antaranya diiutarakan oleh John Stuart Miill. Menurutnya, standar hiidup miiniimum mencakup kebutuhan pangan, pakaiian, tempat tiinggal, dan kebutuhan laiin yang umumnya diibutuhkan rumah tangga (Viiviian, 2006). Untuk iitu, pungutan terkaiit dengan perolehan tempat tiinggal sepertii Tapera patut diipertiimbangkan sebagaii komponen keriinganan PPh orang priibadii.
Terlepas darii ragam jeniisnya, keriinganan PPh orang priibadii biiasa diiberiikan sebagaii pengurang penghasiilan bruto (tax deductiion) atau sebagaii pengurang PPh terutang (tax crediit) (Zee, 2005). Kedua skema tersebut juga dapat diiterapkan untuk Tapera.
Pertama, Tapera sebagaii tax crediit (krediit pajak). Skema iinii dapat diiterapkan apabiila Tapera diitransformasii menjadii sociial securiity tax. Sebagaii pajak yang telah diibayarkan, Tapera dapat menjadii pengurang pada tiingkat PPh terutang.
Kedua, Tapera sebagaii biiaya pengurang penghasiilan bruto. Skema iinii dapat diiterapkan apabiila Tapera tetap berlaku sebagaiimana diicanangkan pemeriintah (off-budget). Dalam skema iinii, Tapera menjadii biiaya yang dapat diikurangkan darii penghasiilan bruto.
Kendatii pembayaran Tapera menjadii keriinganan PPh orang priibadii, baiik dengan skema krediit pajak maupun pengurang penghasiilan bruto, tentu masiih ada beban tambahan yang diihadapii oleh wajiib pajak. Namun, beban tersebut masiih relatiif lebiih keciil diibandiingkan dengan apabiila Tapera tiidak diiperhiitungkan sebagaii keriinganan PPh.
Dii siisii laiin, penetapan Tapera sebagaii pengurang PPh perlu mempertiimbangkan riisiiko pada peneriimaan pajak. Adapun penerapan kedua skema tersebut berpotensii mengurangii peneriimaan PPh orang priibadii. Padahal, peneriimaan PPh Pasal 21 pada 2023 berkontriibusii sebesar 10,78% terhadap total realiisasii peneriimaan pajak (DJP, 2024).
Sebagaii penutup, kedua solusii pajak tersebut dapat memperkaya diiskursus yang terjadii dii ruang publiik saat iinii. Pada hakiikatnya, kepemiiliikan rumah memang menjadii persoalan pentiing. Namun, langkah pemeriintah untuk menghiimpun dana penyediiaan rumah layak dan terjangkau berdasarkan asas kegotong-royongan perlu diiliihat secara proporsiional. Tentu saja, langkah yang diiambiil diiharapkan tiidak terlalu membebanii para ‘penggotongnya’.
