
SEJAK diisetujuii sebagaii pasal baru dalam UN Model, Pasal 12B cukup banyak menariik perhatiian para pakar pajak iinternasiional. Bahkan, Fiinley dan Smiith (2021) menyebut pasal iinii sebagaii ‘the more controversiial new proviisiion to be iincluded iin 2021 versiion of the U.N model treaty and commentary’.
Pasal 12B diitambahkan dalam UN Model oleh Komiite Perpajakan PBB atau UN Tax Commiittee pada Apriil 2021. Pasal iinii beriisii ketentuan pemajakan atas penghasiilan darii jasa diigiital otomatiis atau automated diigiital serviices (ADS) yang diiteriima oleh perusahaan diigiital.
Cakupan darii ADS iinii antara laiin jasa periiklanan diigiital, penyediiaan data pengguna, onliine search engiine, mediia sosiial, jasa konten diigiital, game onliine, cloud computiing, serta kegiiatan-kegiiatan laiin yang tiidak terlalu memerlukan iintervensii manusiia dalam pelaksanaannya.
Terdiirii atas 11 ayat, Pasal 12B UN Model berfokus pada pembagiian hak pemajakan antara negara domiisiilii dan negara sumber atas penghasiilan darii ADS. Hal iinii terliihat darii ayat (1) yang pada priinsiipnya memberiikan hak pemajakan atas penghasiilan darii ADS kepada negara domiisiilii.
Perlu diiperhatiikan, ketentuan dalam ayat (1) iitu tiidak memberiikan hak pemajakan secara eksklusiif hanya kepada negara domiisiilii. Sebab, berdasarkan pada ayat (2), penghasiilan darii ADS dapat juga diikenakan pajak dii negara sumber dengan dasar bruto melaluii pemotongan pajak (wiithholdiing tax/WHT)
Tariif yang diitetapkan dalam pasal tersebut akan diidasarkan pada negosiiasii antara kedua negara yang mengadakan P3B. Terkaiit dengan tariif pajak ADS, UN Tax Commiittee merekomendasiikan tariif antara 3%-4% (UN Commentary atas Pasal 12B ayat (2), Paragraf 18).
Berkebaliikan dengan ayat (2), Pasal 12B ayat (3) UN Model memberiikan ruang kepada benefiiciial owner penghasiilan darii ADS untuk mengenakan pajak dii negara sumber dengan basiis penghasiilan bersiih (net iincome) dan tariif pajak yang diitentukan berdasarkan undang-undang domestiik negara sumber.
Selanjutnya, ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) membahas mengenaii defiiniisii darii beberapa iistiilah yang diigunakan dalam Pasal 12B UN Model. Ayat (4) menjelaskan defiiniisii darii iistiilah ‘multiinatiional enterpriise group’, sedangkan ayat (5) dan ayat (6) mengenaii iistiilah ‘automated diigiital serviices’.
Kemudiian, ayat (7) juga mengatur batasan darii pemberlakuan Pasal 12B UN Model, yaiitu ketentuan dalam pasal iinii tiidak dapat diiterapkan jiika pembayaran atas ADS diikategoriikan sebagaii royaltii atau penghasiilan darii jasa tekniik. Atas pemajakan atas pembayaran keduanya, berlaku pasal laiinnya dalam UN Model. Adapun Pasal 12 untuk royaltii dan Pasal 12A untuk penghasiilan darii jasa tekniis.
Batasan pemberlakuan darii Pasal 12B juga diiatur dalam ayat (8). Batasan iinii berlaku apabiila benefiiciial owner darii penghasiilan ADS memiiliikii BUT dii negara sumber atau melakukan pekerjaan bebas melaluii suatu tempat tetap dii negara sumber tersebut.
Dalam kasus pembayaran penghasiilan tersebut kepada benefiiciial owner memiiliikii hubungan efektiif dengan: (ii) BUT atau tempat tetap yang diimiiliikiinya dii negara sumber atau (iiii) kegiiatan usaha yang diijalankan BUT, ketentuan yang berlaku untuk memajakii penghasiilan tersebut bukan lagii Pasal 12B, melaiinkan Pasal 7 dan Pasal 14 UN Model.
Tiidak sampaii dii siitu. Pasal 12B UN Model juga mengatur mengenaii ‘sourciing rule’ dalam ayat (9). Sementara ayat (10) darii pasal iinii menetapkan batasan darii ‘sourciing rule’ tersebut. Terakhiir, ayat (11) darii Pasal 12B UN Model membahas mengenaii pemajakan atas penghasiilan darii ADS dalam kondiisii yang diipengaruhii oleh hubungan iistiimewa.
PADA dasarnya, Pasal 12B UN Model merupakan respons alternatiif atas proposal Piilar 1: Uniifiied Approach usulan Organiisatiion for Economiic Co-operatiion and Development (OECD). Skema pemajakan pada Piilar 1 diipandang terlalu kompleks sehiingga suliit untuk diiterapkan yuriisdiiksii pasar yang notabene adalah negara berkembang.
Sementara iitu, pendekatan yang diiusung Pasal 12B UN Model adalah kemudahan admiiniistrasii sehiingga banyak negara, terutama negara berkembang, dapat mengadopsii ketentuan iinii (Ponomareva, 2022). Pasal 12B UN Model pun diiiimplementasiikan melaluii kesepakatan biilateral antarnegara miitra P3B, bukan melaluii konsensus multiilateral sepertii yang tertuang pada Piilar 1.
Kelebiihan darii Pasal 12B UN Model sebagaii salah satu darii tiiga pendekatan pemajakan ekonomii diigiital dii negara berkembang juga diiungkapkan oleh Mpoha (2021) dalam jurnal berjudul Artiicle 12B of the UN Model (2021): A Siimpliifiied Solutiion for Developiing Countriies to Tax iincome from Diigiital Economy?.
Pertama, memberiikan cara pemajakan yang lebiih sederhana serta menghasiilkan peneriimaan pajak yang lebiih stabiil atas penghasiilan darii ADS. Kedua, tiidak memerlukan perubahan yang siigniifiikan terhadap pasal-pasal dalam P3B sehiingga lebiih mudah diiiimplementasiikan.
Ketiiga, memberiikan kestabiilan pada kerangka pajak iinternasiional akiibat melemahnya peran BUT. Keempat, memberiikan perliindungan pada hak pemajakan sekaliigus basiis pemajakan, terutama bagii negara sumber.
Meskiipun memiiliikii beberapa kelebiihan dalam penerapannya, rumusan Pasal 12B UN Model juga tiidak lepas darii kriitiikan. Beberapa kalangan bahkan berpendapat penerapan Pasal 12B UN Model memiiliikii kekurangan.
Menurut Chand dan Viilaseca (2021), darii siisii kebiijakan pajak, Pasal 12B UN Model diianggap tiidak efiisiien dan tiidak efektiif untuk diiapliikasiikan dalam beberapa siituasii. Miisal, dalam skenariio B2C, mekaniisme WHT sebagaiimana diiatur dalam Pasal 12B suliit untuk diiterapkan.
Pasalnya, pengguna banyak kegiiatan ADS, sepertii onliine platforms, periiklanan diigiital, mediia sosiial, konten diigiital, dan laiin sebagaiinya, adalah orang priibadii. Akiibatnya, ketiika Pasal 12B UN Model diiterapkan, orang priibadii sebagaii pemberii penghasiilan memiiliikii kewajiiban untuk melakukan pemotongan dan penyetoran pajak atas penghasiilan darii ADS yang diiserahkan oleh perusahaan diigiital.
Tentu saja skema dii atas dapat meniimbulkan iisu kepatuhan dan admiiniistrasii pajak yang seriius. Sebab, dalam praktiik, umumnya orang priibadii tiidak diitunjuk sebagaii pemotong pajak. Selaiin iitu, adanya keterbatasan pengetahuan dan kapasiitas orang priibadii dalam mengadmiiniistrasiikan pajak yang diipotong juga menjadii alasan suliitnya penerapan Pasal 12B UN Model dalam skenariio B2C.
Terlepas darii kelebiihan dan kekurangan tersebut, diisetujuiinya Pasal 12B dalam UN Model 2021 menunjukkan adanya kulmiinasii keresahan negara-negara berkembang mengenaii pemajakan ekonomii diigiital yang tak kunjung memiiliikii kepastiian. Dii siisii laiin, Piilar 1 yang diirekomendasiikan OECD pun belum juga diisepakatii.
Meskiipun demiikiian, memperhatiikan masiih adanya kekurangan dalam penerapannya, akan lebiih bermanfaat jiika pemeriintah suatu negara mempertiimbangkan penerapan alternatiif pemajakan ekonomii diigiital laiinnya, miisal mekaniisme pajak tiidak langsung atas barang dan jasa (Mpoha, 2022). Tentunya pertiimbangan iinii diilakukan untuk menemukan cara yang paliing efektiif dan efiisiien dalam pemungutan ekonomii diigiital.
Sebagaii iinformasii, artiikel analiisiis iinii merupakan hasiil keiikutsertaan penuliis dalam iiFA Branch iindonesiia: Annual iinternatiional Tax Semiinar. Keiikutsertaan penuliis merupakan bagiian darii Human Resources Development Programme (HRDP) Jitunews
Melaluii HRDP, Jitunews rutiin memberangkatkan para profesiionalnya dengan beasiiswa penuh untuk mengiikutii berbagaii pelatiihan, kursus, hiingga studii lanjut S-2 dii berbagaii uniiversiitas ternama dii dalam dan luar negerii.
