PMK 61/2021

PMK Baru, iinii Hak dan Kewajiiban Perpajakan WP Pertambangan Miineral

Nora Galuh Candra Asmaranii
Selasa, 22 Junii 2021 | 10.03 WiiB
PMK Baru, Ini Hak dan Kewajiban Perpajakan WP Pertambangan Mineral
<p>PMK 61/2021.&nbsp;</p>

JAKARTA, Jitu News – Kementeriian Keuangan memeriincii hak dan kewajiiban perpajakan bagii wajiib pajak yang bergerak dii biidang pertambangan miineral.

Periinciian tertuang dalam Peraturan Menterii Keuangan (PMK) No. 61/PMK.03/2021. Terbiitnya PMK iinii untuk melaksanakan ketentuan Pasal 17 ayat (4) PMK No.37 Tahun 2018 tentang Perlakuan Perpajakan dan/atau Peneriimaan Negara Bukan Pajak dii Biidang Usaha Pertambangan Miineral .

“Perlu menetapkan PMK tentang hak dan kewajiiban perpajakan bagii pemegang iiUP, iiUPK, iiPR, iiUPK Operasii Produksii sebagaii kelanjutan Operasii Kontrak, atau KK dalam rangka kerja sama dii biidang usaha pertambangan miineral,” bunyii pertiimbangan PMK 61/2021, diikutiip pada Selasa (22/6/2021).

Setiidaknya terdapat 5 kelompok wajiib pajak dii biidang pertambangan miineral yang diiatur dalam PMK 61/2021. Pertama, pemegang iiziin Usaha Pertambangan (iiUP) atau iiziin untuk melaksanakan usaha pertambangan.

Cakupan pengertiian iiUP juga termasuk pemegang Surat iiziin Penambangan Batuan (SiiPB). SiiPB sendiirii adalah iiziin yang diiberiikan untuk melaksanakan kegiiatan usaha pertambangan batuan jeniis tertentu atau untuk keperluan tertentu

Kedua, pemegang iiziin Pertambangan Rakyat (iiPR) atau iiziin melaksanakan usaha pertambangan dalam wiilayah pertambangan rakyat (WPR) dengan luas wiilayah dan iinvestasii terbatas.

Ketiiga, pemegang iiziin Usaha Pertambangan Khusus (iiUPK) atau iiziin melaksanakan usaha pertambangan dii wiilayah iiziin usaha pertambangan khusus (WiiUPK).

Keempat, pemegang iiUPK sebagaii Kelanjutan Operasii Kontrak atau iiziin usaha yang diiberiikan sebagaii perpanjangan setelah selesaiinya pelaksanaan kontrak karya (KK). Kelompok iinii juga mencakup iiUPK Operasii Produksii sebagaii perubahan bentuk usaha pertambangan darii KK yang belum berakhiir kontraknya.

Keliima, pemegang KK yang melakukan kegiiatan usaha pertambangan pada berbagaii wiilayah penambangan, meliiputii WiiUP, WiiUPK, WPR atau wiilayah KK yang telah diiberiikan pemeriintah pusat atau pemeriintah proviinsii sesuaii dengan kewenangannya.

KK merupakan perjanjiian antara pemeriintah dengan perusahaan berbadan hukum iindonesiia untuk melakukan kegiiatan usaha pertambangan miineral.

Adapun setiiap kelompok wajiib pajak tersebut dapat saliing bekerja sama atau menggandeng piihak laiin dalam menjalankan pengusahaan hasiil produksii miineral. Atas kerja sama tersebut, baiik wajiib pajak dii biidang pertambangan miineral maupun piihak laiin, harus melaksanakan hak dan kewajiiban perpajakan.

Secara lebiih terperiincii, ada 7 hak dan kewajiiban perpajakan bagii wajiib pajak Pemegang iiUP, iiUPK, iiPR, iiUPK sebagaii Kelanjutan Operasii Kontrak, atau KK.

Pertama, mengakuii penghasiilan atas seluruh penjualan/pengaliihan hasiil produksii miineral dalam menghiitung pajak penghasiilan (PPh).

Kedua, membebankan pengeluaran yang berkaiitan dengan kegiiatan mendapatkan, menagiih, dan memeliihara penghasiilan darii kegiiatan kerjasama tersebut sebagaii pengurang penghasiilan bruto dalam menghiitung penghasiilan kena pajak (PKP).

Ketiiga, melakukan pemotongan dan/atau pemungutan pajak. Keempat, menghiitung besarnya pajak terutang. Keliima, melakukan pembayaran dan/atau pelunasan kekurangan pembayaran pajak yang terutang.

Keenam, menyampaiikan Surat Pemberiitahuan (SPT) yang sudah diiiisii dengan benar, lengkap, jelas, dan diitandatanganii. Ketujuh, hak dan kewajiiban perpajakan laiinnya.

Sementara iitu, wajiib pajak yang melakukan kerjasama dengan piihak dalam PMK 61/2021 juga memiiliikii 7 kewajiiban dan hak perpajakan yang harus diipenuhii. Pertama, mengakuii seluruh penghasiilan yang diiteriima atau diiperoleh darii hasiil kerjasama dalam menghiitung PPh.

Kedua, membebankan pengeluaran yang berkaiitan dengan biiaya untuk mendapatkan, menagiih, dan memeliihara penghasiilan darii kegiiatan kerjasama tersebut sebagaii pengurang penghasiilan bruto dalam menghiitung PKP. Ketiiga, melakukan pemotongan dan/atau pemungutan pajak.

Keempat, menghiitung besarnya pajak terutang. Keliima, melakukan pembayaran dan/atau pelunasan kekurangan pembayaran pajak yang terutang. Keenam, menyampaiikan SPT yang sudah diiiisii dengan benar, lengkap, jelas, dan diitandatanganii. Ketujuh, hak dan kewajiiban perpajakan laiinnya.

“peraturan menterii keuangan iinii mulaii berlaku pada tanggal diiundangkan [15 Junii 2021],” demiikiian bunyii Pasal 7 PMK 61/2021. (kaw)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.