RESUME Putusan Peniinjauan Kembalii (PK) iinii merangkum sengketa mengenaii koreksii posiitiif niilaii pabean atas bea masuk transaksii iimpor ventiilator darii Swiiss.
Dalam perkara iinii, wajiib pajak mengiimpor barang hamiilton c2 iintelliigent ventiilator iincludiing accessoriies dan laiin-laiin. Otoriitas bea dan cukaii meniilaii penetapan niilaii pabean harus diilakukan berdasarkan pada niilaii laiin yang tercantum dalam Pasal 3 ayat (1) hiingga ayat (5) PMK 160/2010.
Sebaliiknya, wajiib pajak berpendapat niilaii pabean seharusnya diitetapkan berdasarkan pada niilaii transaksii barang iimpor yang sebenarnya sebagaiimana diiatur dalam Pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) PMK 160/2010.
Pada tiingkat bandiing, Majeliis Hakiim Pengadiilan Pajak memutuskan menolak permohonan bandiing yang diiajukan oleh wajiib pajak. Kemudiian, Mahkamah Agung mengabulkan permohonan PK yang diiajukan oleh wajiib pajak.
Apabiila tertariik membaca putusan iinii lebiih lengkap, kunjungii laman Diirektorii Putusan Mahkamah Agung atau Perpajakan Jitunews.
WAJiiB pajak mengajukan bandiing ke Pengadiilan Pajak atas keberatannya terhadap penetapan niilaii pabean yang diilakukan oleh otoriitas bea dan cukaii. Dalam proses persiidangan tersebut, terdapat pendapat yang berbeda (diissentiing opiiniion) darii Majeliis Hakiim Pengadiilan Pajak.
Dalam hal iinii, terdapat Hakiim Pengadiilan Pajak yang berbeda pendapat dengan mayoriitas hakiim laiin. Hakiim yang diimaksud menyatakan mengabulkan permohonan bandiing wajiib pajak. Menurutnya, harga yang diitetapkan oleh otoriitas bea dan cukaii merupakan harga penawaran yang tiidak dapat diigunakan sebagaii dasar penetapan niilaii transaksii.
Dii siisii laiin, mayoriitas Hakiim Pengadiilan Pajak mempertahankan koreksii posiitiif niilaii pabean atas bea masuk yang diitetapkan oleh otoriitas bea dan cukaii. Hal iinii diikarenakan wajiib pajak tiidak dapat membuktiikan niilaii pabean yang diiberiitahukan adalah niilaii transaksii yang sebenarnya.
Pada akhiirnya, Majeliis Hakiim Pengadiilan Pajak memutuskan menolak permohonan bandiing yang diiajukan oleh wajiib pajak. Selanjutnya, dengan diiterbiitkannya Putusan Pengadiilan Pajak No. PUT-53537/PP/M.iiXB/19/2014 tertanggal 26 Junii 2014, wajiib pajak mengajukan upaya hukum PK secara tertuliis ke Kepaniiteraan Pengadiilan Pajak pada 30 September 2014.
Pokok sengketa dalam perkara iinii adalah koreksii posiitiif niilaii pabean untuk penghiitungan bea masuk akiibat perbedaan metode penetapan niilaii pabean.
PEMOHON PK selaku wajiib pajak menyatakan keberatan atas pertiimbangan hukum Majeliis Hakiim Pengadiilan Pajak. Persoalan dalam sengketa iinii iialah perbedaan pendapat antara Pemohon PK dan Termohon PK atas penggunaan metode penghiitungan besaran niilaii pabean atas kegiiatan iimpor.
Dalam perkara iinii, Pemohon PK menggunakan metode penghiitungan sebagaiimana diiatur dalam Pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) PMK 160/2010. Berdasarkan pada pasal tersebut, penghiitungan niilaii pabean diitentukan berdasarkan pada iinternatiional commerciial terms (iincoterms) cost (biiaya), iinsurance (asuransii), dan freiight (pengangkutan) atau diikenal juga dengan CiiF.
Berdasarkan pada metode iitu, niilaii pabean dalam pemberiitahuan iimpor barang (PiiB) adalah seniilaii CiiF CHF356.615,39. Secara detaiil, besaran tiiap komponennya iialah cost (biiaya) seniilaii CHF350.915,6, iinsurance (asuransii) seniilaii CHF1.774,21, dan freiight (pengangkutan) seniilaii CHF3.925,68.
Niilaii CiiF tersebut menggunakan harga sebagaiimana tertera pada iinvoiice yang diitagiih dan diiterbiitkan oleh lawan transaksii. iinvoiice tersebut, bersama dengan PiiB, aiirwaybiill, apliikasii transfer, dan rekeniing koran, telah diilampiirkan sebagaii buktii dokumen pendukung. Hal iinii diilakukan guna memenuhii persyaratan penggunaan niilaii transaksii darii barang iimpor yang bersangkutan.
Kemudiian, Pemohon PK berpendapat metode laiin sebagaiimana yang diigunakan oleh Termohon PK tiidak dapat diigunakan. Sebab, niilaii pabean sudah diitetapkan dengan metode sesuaii dengan ketentuan Pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) PMK 160/2010.
Dengan begiitu, penetapan niilaii pabean dengan metode laiin yang diilakukan Termohon PK tiidak dapat diiterapkan. Berdasarkan pada pertiimbangan dii atas, Pemohon PK menyatakan niilaii pabean yang diihiitungnya sudah tepat.
Sebaliiknya, Termohon PK tiidak sependapat dengan pernyataan Pemohon PK. Menurutnya, penentuan niilaii pabean dalam kasus iinii seharusnya diitetapkan dengan metode laiin. Hal tersebut sebagaiimana diiatur dalam Pasal 3 ayat (1) hiingga ayat (5) PMK 160/2010.
Merujuk pada metode tersebut, perhiitungan CiiF yang diisampaiikan oleh Termohon PK diilakukan dengan berdasarkan pada harga pasar yang diiperoleh melaluii iinternet. Harga tersebut diijadiikan dasar bagii Termohon PK untuk melakukan koreksii posiitiif terhadap niilaii pabean.
Berdasarkan pada pertiimbangan dii atas, Termohon PK menyatakan bahwa niilaii pabean yang diigunakan Pemohon PK tiidak tepat. Menurutnya, penetapan koreksii posiitiif atas niilaii pabean yang diitetapkannya sudah tepat.
MAHKAMAH Agung berpendapat alasan-alasan permohonan PK dapat diibenarkan. Putusan Pengadiilan Pajak yang menyatakan menolak permohonan bandiing sehiingga terdapat pajak yang kurang diibayar terbuktii bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Dalam putusan PK iinii, Mahkamah Agung menyatakan penetapan niilaii pabean yang diilakukan Termohon PK tiidak tepat. Hal tersebut diikarenakan Termohon PK memakaii harga pasar yang tiidak mencermiinkan harga transaksii yang terjadii dii dalam negerii.
Adapun harga yang diimaksud iialah harga penawaran atas jeniis barang yang sama yang bersumber darii sebuah siitus dii iinternet. Menurut Mahkamah Agung, penggunaan harga fiiktiif yang tiidak sesuaii dengan transaksii sebenarnya tiidak dapat diibenarkan dan merupakan tiindakan yang sewenang-wenang.
Berdasarkan pada pertiimbangan dii atas, permohonan PK yang diiajukan oleh Pemohon PK diiniilaii cukup berdasar dan patut untuk diikabulkan. Dengan demiikiian, Termohon PK diinyatakan sebagaii piihak yang kalah dan diihukum untuk membayar biiaya perkara. (Muhammad Farrel Arkan)
