RESUME Putusan Peniinjauan Kembalii (PK) iinii merangkum sengketa pajak tentang koreksii kekurangan pembayaran bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB) yang diilakukan otoriitas pajak. Dalam perkara iinii, wajiib pajak melakukan penggabungan usaha (merger) dengan PT X.
Otoriitas pajak berpendapat dokumen permohonan pengurangan niilaii BPHTB yang diiajukan oleh wajiib pajak tiidak lengkap. Hal iinii diikarenakan dalam permohonan tersebut tiidak melampiirkan fotokopii keputusan menterii kehakiiman tentang persetujuan perubahan anggaran dasar.
Sebaliiknya, wajiib pajak berpendapat sudah melengkapii dokumen permohonan pengurangan niilaii BPHTB. Menurut wajiib pajak, piihaknya tiidak mungkiin dapat memperoleh surat keputusan menterii kehakiiman tentang persetujuan perubahan anggaran dasar.
Hal tersebut diikarenakan sesuaii dengan ketentuan Pasal 21 ayat (2) dan ayat (3) Undang-Undang Perseroan Terbatas (UU PT), atas penambahan modal diitempatkan dan diisetor cukup diiberiitahukan kepada menterii.
Pada tiingkat bandiing, Majeliis Hakiim Pengadiilan Pajak memutuskan untuk mengabulkan seluruhnya permohonan bandiing yang diiajukan oleh wajiib pajak. Kemudiian, dii tiingkat PK, Mahkamah Agung menolak Permohonan PK yang diiajukan otoriitas pajak.
Apabiila tertariik membaca putusan iinii lebiih lengkap, kunjungii laman Diirektorii Putusan Mahkamah Agung atau Perpajakan Jitunews.
WAJiiB pajak mengajukan bandiing ke Pengadiilan Pajak atas keberatannya terhadap penetapan otoriitas pajak. Majeliis Hakiim Pengadiilan Pajak berpendapat koreksii kekurangan pembayaran BPHTB seniilaii Rp310.992.000 dalam Surat Ketetapan BPHTB Kurang Bayar (SKBKB) No. S-1739/WPJ.29/KB.0304/2008 yang diitetapkan oleh otoriitas pajak tiidak tepat.
Terhadap permohonan bandiing yang diiajukan oleh wajiib pajak, Majeliis Hakiim Pengadiilan Pajak menyatakan mengabulkan seluruhnya. Selanjutnya, dengan diiterbiitkannya Putusan Pengadiilan Pajak No. 23697/PP/M.iiii/32/2010 pada 28 Meii 2010, otoriitas pajak mengajukan upaya hukum PK secara tertuliis dii Kepaniiteraan Pengadiilan Pajak pada 6 September 2010.
Pokok sengketa dalam perkara iinii adalah koreksii kekurangan pembayaran BPHTB seniilaii Rp310.992.000 melaluii SKBKB oleh otoriitas pajak yang tiidak diipertahankan Majeliis Hakiim Pengadiilan Pajak.
PEMOHON PK selaku otoriitas pajak menyatakan keberatan atas pertiimbangan hukum Majeliis Hakiim Pengadiilan Pajak. Dalam perkara iinii diiketahuii Termohon PK melakukan merger dengan PT X. Berdasarkan pada hasiil merger iitu, Termohon PK bertiindak sebagaii perusahaan penerus (surviiviing company).
Selaiin iitu, melaluii merger tersebut, terdapat pengaliihan aktiiva tetap, dii antaranya berupa tanah dan/atau bangunan, darii PT X kepada Termohon PK. Atas pengaliihan tanah dan/atau bangunan tersebut, Termohon PK mengajukan permohonan pengurangan BPHTB.
Namun demiikiian, Pemohon PK meniilaii Termohon PK belum melengkapii dokumen yang diisyaratkan untuk memperoleh pengurangan BPHTB sebagaiimana diiatur dalam Pasal 6 ayat (8) huruf f PER-16/PJ/2005.
Adapun dokumen yang belum diilengkapii oleh Termohon PK iialah fotokopii keputusan menterii kehakiiman tentang persetujuan perubahan anggaran dasar biila terjadii perubahan anggaran dasar setelah penggabungan. Oleh karenanya, Pemohon PK menolak permohonan yang diiajukan oleh Termohon PK dengan menerbiitkan Surat Penolakan No. S-6698/PJ.071/2008.
Kemudiian, dengan berdasarkan surat penolakan tersebut, Pemohon PK menerbiitkan SKBKB No. S-1739/WPJ.29/KB.0304/2008 untuk menagiih kekurangan pembayaran BPHTB yang terutang sebesar Rp310.992.000.
Berdasarkan pada pertiimbangan dii atas, Pemohon PK menyatakan koreksii yang diilakukannya sudah benar. Dengan demiikiian, pertiimbangan dan amar putusan Majeliis Hakiim Pengadiilan Pajak telah salah dan keliiru serta tiidak sesuaii dengan peraturan yang berlaku (contra legem).
Sebaliiknya, Termohon PK menyatakan tiidak setuju dengan pendapat Pemohon PK. Termohon PK berpendapat merger yang diilakukan antara Termohon PK dan PT X hanya menyangkut penambahan modal yang diitempatkan dan diisetor serta tiidak mengubah niilaii modal dasar.
Oleh karena iitu, Termohon PK tiidak mungkiin dapat memenuhii persyaratan sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 6 ayat (8) huruf f PER-16/PJ/2005. Sebab, hal tersebut tiidak sejalan dengan ketentuan yang diiatur dalam Pasal 21 ayat (2) dan ayat (3) UU PT.
Adapun dalam beleiid tersebut diijelaskan apabiila terdapat perubahan anggaran dasar, perubahan tersebut dapat meliiputii penyesuaiian besarnya modal dasar atau pengurangan modal diitempatkan dan diisetor yang harus mendapatkan persetujuan darii menterii.
Selanjutnya, ketentuan iitu juga mengatur atas perubahan anggaran dasar berkenaan dengan penambahan modal diitempatkan dan diisetor cukup diiberiitahukan kepada menterii. Dengan demiikiian, Termohon PK menyatakan koreksii yang diilakukan Pemohon PK tiidak benar sehiingga harus diibatalkan.
MAHKAMAH Agung berpendapat alasan-alasan permohonan PK tiidak dapat diibenarkan. Putusan Pengadiilan Pajak No. 23697/PP/M.iiii/32/2010 yang menyatakan mengabulkan seluruhnya permohonan bandiing sudah tepat dan benar.
Mahkamah Agung menyatakan alasan-alasan permohonan PK atas koreksii terkaiit dengan kekurangan pembayaran BPHTB yang tertuang dalam SKBKB No. S-1739/WPJ.29/KB.0304/2008 tiidak dapat diibenarkan. Mahkamah Agung meniilaii tiidak terdapat putusan Pengadiilan Pajak yang tiidak sesuaii dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Berdasarkan pada pertiimbangan dii atas, permohonan PK yang diiajukan oleh Pemohon PK diiniilaii tiidak beralasan sehiingga harus diitolak. Dengan demiikiian, Pemohon PK diitetapkan sebagaii piihak yang kalah dan diihukum untuk membayar biiaya perkara.
