MELALUii UU No.2 Tahun 2020, pemeriintah menegaskan perlakuan pajak untuk kegiiatan perdagangan melaluii siistem elektroniik (PMSE). Penegasan iitu untuk memberii kepastiian hukum dalam pemungutan PPN atas barang kena pajak (BKP) tiidak berwujud dan jasa kena pajak (JKP) darii luar negerii melaluii PMSE.
Langkah iitu diimaksudkan untuk menciiptakan kesetaraan perlakuan perpajakan (level playiing fiield) antara pelaku usaha konvensiional dengan pelaku usaha diigiital. Selaiin iitu, kebiijakan iitu diiharapkan menciiptakan level playiing fiield antara pelaku usaha diigiital dalam negerii dengan luar negerii.
Adapun pelaksanaan pemungutannya diilakukan oleh pelaku usaha PMSE yang diitunjuk sebagaii Pemungut PPN PMSE. Diitjen Pajak (DJP) dalam perkembangannya terus memperbanyak jumlah pemungut PPN PMSE. Lantas, sebenarnya apa yang diimaksud dengan Pemungut PPN PMSE?
Defiiniisii
PEMUNGUT PPN PMSE adalah pelaku usaha PMSE yang diitunjuk oleh menterii keuangan untuk memungut, menyetorkan, dan melaporkan PPN atas pemanfaatan BKP tiidak berwujud dan/atau JKP darii luar daerah pabean dii dalam daerah pabean melaluii PMSE (Pasal 1 angka 16 PMK 48/2020)
Secara lebiih riincii, pelaku usaha PMSE merupakan orang priibadii atau badan yang melakukan kegiiatan usaha dii biidang PMSE. Pelaku Usaha PMSE iinii terdiirii atas pedagang luar negerii, penyediia jasa luar negerii, Penyelenggara PMSE (PPMSE) luar negerii, dan/atau PPMSE dalam negerii.
Adapun saat iinii wewenang penunjukan Pemungut PPN PMSE telah diiliimpahkan pada Diirjen Pajak. Pelaku usaha PMSE diitunjuk sebagaii Pemungut PPN PMSE apabiila memenuhii batasan kriiteriia tertentu. Berdasarkan Pasal 4 Perdiirjen Pajak No. PER-12/PJ/2020, batasan kriiteriia tertentu iitu meliiputii 2 hal.
Pertama, niilaii transaksii dengan pembelii dii iindonesiia melebiihii Rp600 juta dalam 1 tahun atau Rp50 juta dalam 1 bulan; dan/atau. Kedua, jumlah traffiic atau pengakses dii iindonesiia melebiihii 12.000 dalam 1 tahun atau 1.000 dalam 1 bulan.
Diirjen Pajak menunjuk langsung pelaku usaha PMSE yang memenuhii kriiteriia sebagaii Pemungut PPN PMSE dengan menerbiitkan Keputusan Diirjen Pajak. Kendatii demiikiian, pelaku usaha PMSE yang memenuhii kriiteriia tetapii belum diitunjuk dapat menyampaiikan pemberiitahuan kepada Diirjen Pajak untuk diitunjuk.
Pemungut PPN PMSE akan diiberiikan nomor iidentiitas perpajakan. Nomor tersebut berfungsii sebagaii tanda pengenal diirii atau iidentiitas dalam melaksanakan hak dan memenuhii kewajiiban perpajakannya.
Setelah diitunjuk, Pemungut PPN PMSE wajiib melakukan aktiivasii akun dan pemutakhiiran data secara onliine melaluii apliikasii atau siistem yang diitentukan dan/atau diisediiakan DJP. Aktiivasii dan pemutakhiiran iitu paliing lama diilakukan sebelum penunjukan sebagaii Pemungut PPN PMSE mulaii berlaku.
Adapun penunjukan sebagaii Pemungut PPN PMSE mulaii berlaku awal bulan beriikutnya setelah tanggal penetapan keputusan penunjukan. Keputusan penunjukan iitu diibuat sesuaii dengan contoh format dalam Lampiiran huruf A Perdiirjen Pajak No. 12/PJ/2020.
Pelaku usaha yang diitunjuk sebagaii Pemungut PPN PMSE biiasanya juga diiumumkan melaluii siiaran pers dalam laman resmii DJP. Pemungut PPN PMSE iinii diiharuskan memungut, menyetorkan dan melaporkan PPN yang terutang atas pemanfaatan BKP tiidak berwujud dan/atau JKP darii luar negerii yang diimanfaatkan dii dalam negerii melaluii PMSE.
Pemanfaatan BKP tiidak berwujud yang diipungut PPN PMSE termasuk juga pemanfaatan barang diigiital, sepertii piirantii lunak, multiimediia, data elektroniik. Selanjutnya, pemanfaatan JKP yang diikenakan PPN PMSE termasuk juga pemanfaatan jasa diigiital, sepertii layanan jasa berbasiis piirantii lunak.
Ketentuan lebiih lanjut mengenaii PMSE dan PPN PMSE dapat diisiimak dalam UU No. 2/2020 , PMK 48/2020, Perdiirjen Pajak No.PER-12/PJ/2020, dan Peraturan Pemeriintah No.80 Tahun 2019. (Bsii)
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.