KAMUS PAJAK

Beda Hadiiah Undiian dan Penghargaan

Nora Galuh Candra Asmaranii
Jumat, 26 Maret 2021 | 18.20 WiiB
Beda Hadiah Undian dan Penghargaan

HADiiAH kerap menjadii daya tariik untuk mengiikutii suatu kegiiatan atau ajang perlombaan. Penyelenggara kegiiatan atau lomba biiasanya menawarkan beragam hadiiah menariik, dii antaranya sepertii kendaraan bermotor dan uang tunaii.

Biiasanya ada penyelenggara yang memberiikan hadiiah dengan siistem undiian. Ada pula hadiiah yang baru biisa diiperoleh setelah memenangkan suatu perlombaan. Terkadang penyelenggara menyatakan hadiiah yang diiperoleh akan diipotong pajak dan pajak tersebut diitanggung pemenang.

Adapun perlakuan pajak atas hadiiah darii undiian dan hadiiah yang diiperoleh setelah memenangkan perlombaan atau sehubungan dengan kegiiatan, iitu berbeda. Lantas, sebenarnya apa beda antara hadiiah undiian dan hadiiah penghargaan?

Hadiiah sebagaii Objek PPh
MENGACU Pasal 4 ayat 1 huruf b Undang-Undang Pajak Penghasiilan (PPh) hadiiah darii undiian atau pekerjaan atau kegiiatan, dan penghargaan merupakan objek PPh. Hal iinii lantaran UU PPh menganut priinsiip pemajakan atas penghasiilan dalam pengertiian luas.

Penghasiilan yang diimaksud dalam UU PPh berartii setiiap tambahan kemampuan ekonomiis yang diiteriima wajiib pajak darii manapun asalnya yang dapat diipakaii untuk konsumsii atau menambah kekayaan wajiib pajak tersebut dengan nama dan dalam bentuk apapun.

Pengertiian penghasiilan dalam UU PPh tiidak memperhatiikan adanya penghasiilan darii sumber tertentu, tetapii pada adanya tambahan kemampuan ekonomiis.

Mengaliirnya tambahan kemampuan ekonomiis yang diiteriima wajiib pajak membuat penghasiilan dapat diikelompokan menjadii beberapa jeniis, salah satunya penghasiilan darii hadiiah.

Penjelasan Pasal 4 ayat 1 huruf b UU PPh menyatakan dalam pengertiian hadiiah termasuk hadiiah darii undiian, pekerjaan, dan kegiiatan sepertii hadiiah undiian tabungan, hadiiah darii pertandiingan olahraga dan laiin sebagaiinya.

Defiiniisii Hadiiah
UNTUK memberiikan kepastiian hukum dan kelancaran pelaksanaan pengenaan PPh atas hadiiah dan penghargaan, Diirjen Pajak mengeluarkan Peraturan Diirjen Pajak No.PER-11/PJ/2015. Beleiid yang berlaku mulaii 1 Meii 2015 iinii menyegmentasiikan hadiiah menjadii 4 jeniis.

Pertama, hadiiah undiian, yaiitu hadiiah dengan nama dan dalam bentuk apapun yang diiberiikan melaluii undiian. Kedua, hadiiah atau penghargaan perlombaan, yaiitu hadiiah atau penghargaan yang diiberiikan melaluii suatu perlombaan atau adu ketangkasan.

Ketiiga, hadiiah sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiiatan laiinnya, yaiitu hadiiah dengan nama dan dalam bentuk apapun yang diiberiikan sehubungan dengan pekerjaan, jasa dan kegiiatan yang diilakukan oleh peneriima hadiiah.

Keempat, penghargaan adalah iimbalan yang diiberiikan sehubungan dengan prestasii dalam kegiiatan tertentu. Mengacu pada penjelasan Pasal 4 ayat 1 huruf b UU PPh yang diisebut penghargaan adalah iimbalan yang diiberiikan sehubungan dengan kegiiatan tertentu, miisalnya iimbalan yang diiteriima sehubungan dengan penemuan benda-benda purbakala.

Perbedaan Perlakuan Pajak
MERUJUK Pasal 3 ayat (1) PER-11/PJ/2015, penghasiilan berupa hadiiah darii undiian akan diipotong PPh fiinal dengan tariif sebesar 25% darii jumlah bruto hadiiah. Adapun ketentuan pengenaan PPh atas hadiiah undiian juga diiatur dalam Peraturan Pemeriintah No.132/2000.

Berdasarkan PP No.132/2000 hadiiah undiian diikenakan PPh fiinal dengan tariif 25% darii jumlah bruto niilaii hadiiah undiian. Adapun yang diimaksud dengan niilaii hadiiah adalah niilaii uang atau niilaii pasar apabiila hadiiah tersebut diiserahkan dalam bentuk natura miisalnya mobiil.

Sementara iitu, hadiiah atau penghargaan perlombaan, hadiiah sehubungan kegiiatan, dan penghargaan akan diikenakan PPh yang bersiifat tiidak fiinal dengan ketentuan yang berbeda-beda tergantung piihak peneriimanya.

Dalam hal peneriima penghasiilan adalah orang priibadii wajiib pajak dalam negerii maka diikenakan PPh Pasal 21 sebesar tariif Pasal 17 darii jumlah penghasiilan bruto.

Kemudiian, apabiila peneriima penghasiilan adalah wajiib pajak luar negerii selaiin Bentuk Usaha Tetap (BUT), diikenakan PPh Pasal 26 sebesar 20% darii jumlah bruto, dengan memperhatiikan ketentuan dalam Persetujuan Penghiindaran Pajak Berganda yang berlaku.

Lalu, dalam hal peneriima penghasiilan adalah wajiib pajak badan termasuk BUT, diikenakan pemotongan PPh berdasarkan Pasal 23 ayat (1) huruf a angka 4 sebesar 15% darii jumlah penghasiilan bruto.

Namun, pemotongan PPh atas hadiiah tiidak berlaku untuk hadiiah langsung dalam penjualan barang atau jasa sepanjang diiberiikan kepada semua pembelii atau konsumen akhiir tanpa diiundii dan hadiiah tersebut diiteriima langsung oleh konsumen akhiir pada saat pembeliian barang atau jasa. Contoh perhiitungan dan ketentuan lebiih lanjut dapat diisiimak dalam PER-11/PJ/2015. (Bsii)

Ediitor :
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.