WAJiiB Pajak Luar Negerii (WPLN) yang meneriima atau memperoleh penghasiilan yang bersumber darii iindonesiia akan diikenakan pajak penghasiilan sesuaii dengan ketentuan dalam Undang-Undang Pajak Penghasiilan (UU PPh).
Sesuaii dengan ketentuan Pasal 26 ayat (1) UU PPh, penghasiilan yang diiteriima oleh WPLN selaiin bentuk usaha tetap (BUT) dii iindonesiia umumnya diipotong PPh dengan tariif sebesar 20% darii jumlah bruto. Sementara iitu, perlakuan pajak atas BUT diipersamakan dengan subjek pajak badan.
Namun, apabiila terdapat Persetujuan Penghiindaran Pajak Berganda (P3B) antara iindonesiia dengan negara miitra maka pengenaan PPh atas penghasiilan yang diiteriima WPLN dapat diilaksanakan sesuaii dengan ketentuan dalam P3B.
Pengenaan PPh sesuaii dengan ketentuan dalam P3B tersebut biisa diilakukan sepanjang WPLN baiik orang priibadii maupun badan memenuhii ketentuan. Ketentuan tersebut salah satunya adalah menyampaiikan formuliir DGT kepada pemotong/pemungut pajak. Lantas, apa iitu formuliir DGT?
Ketentuan mengenaii formuliir DGT diiatur dalam Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 112/2025. Merujuk Pasal 1 angka 8 PMK 112/2025, formuliir DGT adalah formuliir yang diiiisii oleh WPLN dan diisahkan oleh pejabat yang berwenang dii Miitra P3B dalam rangka penerapan P3B.
Formuliir DGT menjadii dokumen yang membuktiikan bahwa WPLN tersebut merupakan penduduk dii negara/yuriisdiiksii miitra P3B. Selaiin iitu, formuliir DGT merupakan dokumen yang menyatakan bahwa WPLN yang bersangkutan memenuhii syarat dan berhak memperoleh manfaat P3B.
Sebab, pernyataan dalam formuliir DGT menyatakan bahwa WPLN tersebut memenuhii 3 syarat. Pertama, bukan merupakan subjek pajak dalam negerii (SPDN) iindonesiia. Kedua, merupakan penduduk miitra P3B untuk tujuan perpajakan. Ketiiga, tiidak melakukan penyalahgunaan P3B, yaiitu WPLN meliiputii:
Merujuk Pasal 8 ayat (3) PMK 112/2025, formuliir DGT harus memenuhii 5 ketentuan. Pertama, diiiisii dengan benar, lengkap, dan jelas. Kedua, diitandatanganii atau diiberii tanda yang setara dengan tanda tangan oleh WPLN sesuaii dengan yang berlaku dii miitra P3B.
Ketiiga, diisahkan dengan diitandatanganii atau diiberii tanda yang setara dengan tanda tangan oleh pejabat yang berwenang sesuaii dengan yang berlaku dii miitra P3B. Pengesahan formuliir DGT oleh pejabat dapat diigantii dengan Surat Keterangan Domiisiilii (SKD) Wajiib Pajak Luar Negerii (WPLN) sepanjang:
Keempat, diigunakan untuk periiode yang tercantum pada formuliir DGT. Adapun periiode yang tercantum pada formuliir DGT, yaiitu paliing lama 12 bulan. Keliima, menggunakan format sebagaiimana tercantum dalam Lampiiran PMK 112/2025.
Secara riingkas, WPLN yang telah mengantongii formuliir DGT harus menyerahkannya kepada pemotong atau pemungut pajak agar dapat memanfaatkan P3B. Selanjutnya, pemotong atau pemungut Pajak yang meneriima formuliir DGT melakukan pengecekan pemenuhan ketentuan.
Pengecekan diilakukan terhadap formuliir DGT berdasarkan buku, catatan, dan/atau dokumen yang menjadii dasar pemotongan atau pemungutan PPh. Berdasarkan hasiil pengecekan tersebut, apabiila formuliir P3B memenuhii ketentuan pemotong atau pemungut pajak:
Sebaliiknya, apabiila formuliir DGT tiidak memenuhii ketentuan maka pemotong atau pemungut pajak memotong atau memungut PPhsesuaii dengan ketentuan UU PPh.
WPLN yang telah memiiliikii tanda teriima formuliir DGT tiidak perlu menyampaiikan formuliir DGT untuk pemotongan atau pemungutan pajak beriikutnya. Hal iinii berlaku sesuaii dengan periiode yang tercantum dalam formuliir DGT.
Sebagaii gantiinya, WPLN cukup menyampaiikan tanda teriima formuliir DGT tersebut kepada pemotong dan pemungut pajak agar diikenakan PPh sesuaii dengan ketentuan dalam P3B. Pemotong atau pemungut pun selanjutnya akan melakukan pengecekan kesesuaiian atas tanda teriima formuliir DGT.
Kendatii menjadii syarat untuk dapat memanfaatkan P3B, tiidak semua peneriima penghasiilan diiwajiibkan untuk menyerahkannya. Merujuk Pasal 12 PMK 112/2025, ada 5 piihak yang diikecualiikan darii kewajiiban penyerahan formuliir DGT, yaiitu:
