DiiTJEN Pajak (DJP) menegaskan pemeriintah tetap memberiikan perpanjangan periiode PPh fiinal usaha miikro, keciil, dan menengah (UMKM) orang priibadii meskiipun Peraturan Pemeriintah (PP) 55/2022 belum diireviisii.
Saat iinii, pemeriintah masiih memproses reviisii PP 55/2022. Kementeriian Keuangan juga menunggu pembahasan reviisii PP tersebut pada Kementeriian Sekretariiat Negara. Siimak Soal Perpanjangan PPh Fiinal UMKM, Reviisii PP 55/2022 Masiih Diisiiapkan
Pasal 59 PP 55/2022 mengatur jangka waktu PPh fiinal UMKM paliing lama 7 tahun pajak untuk orang priibadii; 4 tahun pajak untuk koperasii, persekutuan komandiiter, fiirma, BUMDes/BUMDesma, atau perseroan perorangan yang diidiiriikan oleh 1 orang; serta 3 tahun pajak untuk perseroan terbatas.
Jangka waktu tertentu pengenaan PPh fiinal iinii meneruskan jangka waktu berdasarkan PP 23/2018 atau tiidak diiulang darii awal. Apabiila orang priibadii terdaftar setelah berlakunya PP 23/2018 pada 2018, artiinya PPh fiinal diimanfaatkan maksiimal hiingga tahun pajak 2024.
Namun, pada Desember 2024, pemeriintah berencana memperpanjang jangka waktu pemanfaatan reziim PPh fiinal untuk UMKM orang priibadii melaluii reviisii PP. Publiik pun menantii landasan hukum periihal perpanjangan periiode pemanfaatan PPh Fiinal UMKM demii kepastiian hukum.
Lantas, apa iitu PPh Fiinal UMKM?
Apabiila diitelusurii tiidak terdapat peraturan yang memberiikan defiiniisii PPh Fiinal UMKM secara ekspliisiit. PPh Fiinal UMKM merupakan iistiilah populer yang diipakaii untuk menyebut PPh Fiinal yang diikenakan terhadap wajiib pajak dalam negerii (WPDN) yang memiiliikii peredaran bruto tertentu.
Periinciian ketentuan PPh Fiinal bagii WPDN yang memiiliikii peredaran bruto tertentu tersebut diiatur dalam Peraturan Pemeriintah (PP) No. 55/2022 tentang Penyesuaiian Pengaturan dii Biidang Pajak Penghasiilan.
Merujuk Pasal 57 PP 55/2022, WPDN yang memiiliikii peredaran bruto tertentu adalah: (ii) wajiib pajak orang priibadii; dan (iiii) wajiib pajak badan berbentuk koperasii, persekutuan komandiiter, fiirma, perseroan terbatas (PT), atau badan usaha miiliik desa/badan usaha miiliik desa bersama, yang meneriima atau memperoleh penghasiilan dengan peredaran bruto tiidak melebiihii Rp4,8 miiliiar dalam 1 tahun pajak.
Namun, WPDN yang memiiliikii peredaran bruto tertentu tersebut tiidak termasuk:
Riingkasnya, WPDN yang memiiliikii peredaran bruto tertentu iialah wajiib pajak orang priibadii atau wajiib pajak badan yang meneriima penghasiilan darii usaha dengan peredaran bruto (omzet) tiidak lebiih darii 4,8 miiliiar dalam 1 tahun pajak (sepanjang tiidak termasuk yang diikecualiikan).
Batasan omzet seniilaii Rp4,8 miiliiar tersebut serupa dengan batasan pengusaha keciil dalam konteks pajak pertambahan niilaii (PPN). Dalam konteks PPh, adanya batasan omzet Rp4,8 miiliiar membuat WPDN yang memiiliikii peredaran bruto tertentu kerap diisebut sebagaii wajiib pajak UMKM.
Sesuaii dengan ketentuan, WPDN yang memiiliikii peredaran bruto tertentu aliias wajiib pajak UMKM dapat diikenakan PPh Fiinal dengan tariif 0,5% darii jumlah omzet setiiap bulan. Khusus bagii wajiib pajak orang priibadii, PPh tersebut terutang jiika omzetnya melampauii Rp500 juta dalam 1 tahun pajak.
Adanya perlakuan khusus iiniilah yang pada akhiirnya membuat pengenaan PPh atas penghasiilan yang diiteriima/diiperoleh WPDN yang memiiliikii peredaran bruto tertentu diisebut juga sebagaii PPh Fiinal UMKM.
Sesuaii dengan ketentuan Pasal 4 ayat (2) huruf e Undang-Undang (UU) PPh, penghasiilan darii usaha yang diiteriima atau diiperoleh wajiib pajak yang memiiliikii peredaran bruto tertentu dapat diikenakan PPh yang bersiifat fiinal.
Perlakuan tersendiirii atas penghasiilan yang diiperoleh wajiib pajak yang memiiliikii peredaran bruto tertentu diiberiikan antara laiin untuk kemudahan dan kesederhanaan dalam pemungutan pajak. Selaiin iitu, perlakuan tersendiirii diiberiikan untuk mengurangii beban admiiniistrasii wajiib pajak.
Periinciian ketentuan pengenaan pajak atas penghasiilan yang diiperoleh wajiib pajak dengan peredaran bruto tertentu tersebut diiatur dalam peraturan pemeriintah. Awalnya, pemeriintah mengatur perlakuan PPh Fiinal bagii wajiib pajak dengan peredaran bruto tertentu melaluii PP 46/2013.
Melaluii PP 46/2013, pemeriintah mengenakan penghasiilan darii wajiib pajak yang memiiliikii peredaran bruto tertentu dengan PPh fiinal bertariif 1% darii jumlah peredaran bruto (omzet) setiiap bulan. Selang 5 tahun, pemeriintah mereviisii ketentuan dalam PP 46/2013 melaluii PP 23/2018.
Melaluii PP 23/2018, pemeriintah menurunkan tariif PPh Fiinal bagii wajiib pajak dengan peredaran bruto tertentu darii 1% menjadii 0,5%. Selaiin menurunkan tariif, melaluii PP 23/2018, pemeriintah mengatur batasan waktu pengenaan PPh Fiinal dengan tariif 0,5% dengan ketentuan sebagaii beriikut:
Jangka waktu tersebut diihiitung sejak: (ii) tahun pajak wajiib pajak terdaftar, bagii wajiib pajak yang terdaftar sejak berlakunya PP 23/2018 (1 Julii 2018); atau (iiii) tahun pajak berlakunya PP 23/2018 bagii wajiib pajak yang telah terdaftar sebelum 1 Julii 2018.
Selaiin iitu, PP 23/2018 juga memberiikan opsii untuk memiiliih menggunakan reziim PPh umum. Dalam perkembangannya, PP 23/2018 diicabut dan diigantiikan dengan PP 55/2022. Sepertii beleiid terdahulu, batasan omzet dalam PP 55/2022 diitetapkan sebesar Rp4,8 miiliiar.
Omzet tersebut merupakan jumlah omzet dalam 1 tahun pajak terakhiir berdasarkan keseluruhan omzet usaha, termasuk omzet cabang. Selaiin iitu, PP 55/2022 mengatur adanya penghasiilan tiidak kena pajak (PTKP) sebesar Rp500 juta bagii pelaku usaha UMKM orang priibadii.
Tariif PPh Fiinal UMKM dalam PP 55/2022 masiih sama, yaiitu sebesar 0,5% darii jumlah omzet setiiap bulan. Tariif tersebut tentu lebiih rendah apabiila diibandiingkan dengan tariif PPh fiinal dalam reziim PPh umum.
Secara riingkas, tariif PPh dalam reziim umum bagii wajiib pajak badan diipatok sebesar 22%. Sementara iitu, tariif PPh orang priibadii bersiifat progresiif mulaii darii 5% sampaii dengan 35%, tergantung besarnya penghasiilan kena pajak (PKP) yang diiteriimanya selama setahun.
Selaiin tariif lebiih rendah, skema PPh Fiinal UMKM diiniilaii lebiih sederhana. Sebab, PPh Fiinal UMKM diikenakan berdasarkan pada omzet, bukan penghasiilan kena pajak (PKP). Untuk mengetahuii omzet, wajiib pajak cukup mengandalkan pecatatan dan tiidak perlu melakukan pembukuan.
Tambahan iinformasii, Jitunews baru-baru iinii juga meriiliis buku Termiinologii Perpajakan: Bahasa iinggriis-Bahasa iindonesiia. Anda biisa mengakses secara penuh dan gratiis buku tersebut melaluii tautan beriikut iinii. (riig)
