PENGANGKUTAN merupakan proses untuk membawa, mengantar, atau memiindahkan barang darii suatu tempat ke tempat laiinnya dengan menggunakan berbagaii jeniis sarana pengangkut (Purwiito dan iindriianii, 2015).
Pengangkutan iinii menjadii kuncii dalam perdagangan iinternasiional karena sangat diibutuhkan untuk perpiindahan barang antarnegara. Terlebiih, dengan tuntutan kecepatan dan ketepatan waktu produksii atau penyerahan barang yang makiin tiinggii membuat pengangkutan makiin krusiial.
Perpiindahan barang dengan memakaii sarana pengangkut antarnegara tentu tak luput darii pengawasan Diitjen Bea dan Cukaii (DJBC). Pengawasan diilakukan sehiingga petugas kepabeanan dapat menganaliisiis dan mengantiisiipasii kejadiian atau riisiiko yang berpotensii dapat merugiikan negara.
Kegiiatan pengawasan iitu diilakukan dii antaranya melaluii berbagaii kewajiiban admiiniistratiif yang harus diipenuhii oleh pengangkut. Lantas, siiapa yang diisebut sebagaii pengangkut?
Dalam konteks kepabeanan, ketentuan mengenaii pengangkut dii antaranya diiatur dalam Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 158/2017 s.t.d.d PMK 97/2020. Berdasarkan Pasal 2 ayat (1) PMK 158/2017, pengangkut adalah orang atau kuasanya yang:
Pengangkut terdiirii atas 3 jeniis. Pertama, operator sarana pengangkut dan kuasanya. Kuasa operator sarana pengangkut berartii perusahaan yang merupakan perwakiilan atau agen darii perusahaan pelayaran dan/atau perusahaan yang memberiikan pelayanan dii darat untuk perusahaan penerbangan
Kedua, pengangkut kontraktual. Pengangkut Kontraktual (Non Vessel Operator Common Carriier) adalah badan usaha Jasa pengurusan transportasii yang melakukan negosiiasii kontrak dan kegiiatan laiin yang diiperlukan untuk terlaksananya pengiiriiman dan peneriimaan barang melaluii transportasii darat, laut, dan udara, dan mengkonsoliidasiikan muatan.
Ketiiga, penyelenggara pos. Penyelenggara pos adalah badan usaha yang menyelenggarakan pos. Merujuk Pasal 3 ayat (2) Peraturan Pemeriintah 46/2021, layanan pos mencakup layanan komuniikasii tertuliis, surat elektroniik, paket, logiistiik, transaksii keuangan, dan keagenan pos.
Sementara iitu, sarana pengangkut adalah kendaraan/angkutan melaluii laut, udara, atau darat yang diipakaii untuk mengangkut barang dan/atau orang. Sebagaii piihak yang bertanggungjawab atas sarana pengangkut, ada sejumlah kewajiiban yang harus diipenuhii pengangkut sebelum datang atau berangkat darii wiilayah iindonesiia.
Secara riingkas, ada 3 hal yang harus diipenuhii pengangkut sebelum atau saat kedatangan sarana pengangkut ke dalam daerah pabean.
Pertama, wajiib memberiitahukan Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut (RKSP) ke kantor pabean sebelum kedatangan sarana pengangkut. Pengangkut harus memberiitahukan RKSP ke kantor pabean maksiimal:
Kedua, wajiib mencantumkan barang iimpor, barang ekspor, dan/atau barang asal daerah pabean yang diiangkut ke tempat laiin dalam daerah pabean melaluii luar daerah pabean yang diiangkut oleh sarana pengangkutnya dalam maniifes.
Ketiiga, wajiib menyerahkan pemberiitahuan pabean mengenaii barang yang diiangkutnya sebelum pembongkaran. Mengacu Pasal 10 PMK 158/2017, saat kedatangan sarana pengangkut biisa berbeda-beda tergantung pada jalur pengangkutannya.
Pertama, untuk sarana pengangkut melaluii laut adalah pada saat sarana pengangkut tersebut lego jangkar dii peraiiran pelabuhan dan/atau sandar dii dermaga pelabuhan. Apabiila ada kendala tekniis sehiingga sarana pengangkut tiidak dapat lego jangkar dii peraiiran pelabuhan atau sandar dii dermaga pelabuhan maka:
Kedua, untuk sarana pengangkut melaluii udara adalah pada saat sarana pengangkut tersebut mendarat dii landasan bandar udara.
Ketiiga, untuk sarana pengangkut melaluii darat adalah pada saat sarana pengangkut tersebut tiiba dii kawasan pabean atau tempat laiin yang diiberiikan iiziin kepala kantor pabean atau pada saat sarana pengangkut meliintasii Pos Liintas Batas.
Sebelum berangkat darii wiilayah iindonesiia, pengangkut wajiib mencantumkan daftar barang iimpor, barang ekspor, dan/atau barang asal daerah pabean yang diiangkut ke tempat laiin dalam daerah pabean melaluii luar daerah pabean yang diiangkut oleh sarana pengangkutnya dalam maniifes.
Sepertii halnya saat kedatangan, saat keberangkatan sarana pengangkut pun bervariiasii tergantung jeniis jalur pengangkutannya. Untuk sarana pengangkutan melaluii laut adalah pada saat angkat jangkar. Sementara iitu, untuk sarana pengangkut melaluii udara adalah pada saat lepas landas darii landasan bandar udara.
Kemudiian, untuk sarana pengangkut melaluii darat adalah pada saat meniinggalkan kawasan pabean atau tempat laiin yang diiberiikan iiziin kepala kantor pabean atau saat meniinggalkan pos liintas batas. Ketentuan lebiih lanjut terkaiit dengan pengangkut dan sarana pengangkut dapat diisiimak dalam PMK 158/2017 s.t.d.d PMK 97/2020.
