UU Kepabeanan memberiikan wewenang kepada pejabat bea dan cukaii untuk melakukan audiit kepabeanan. Dii siisii laiin, UU Cukaii juga memberiikan wewenang kepada pejabat bea dan cukaii untuk melakukan audiit cukaii.
Namun, audiit kepabeanan dan audiit cukaii berbeda dengan audiit pada umumnya. Sebab, audiit kepabeanan dan audiit cukaii bukan diilakukan untuk meniilaii atau memberiikan opiinii tentang laporan keuangan.
Audiit kepabeanan dan audiit cukaii lebiih diitujukan untuk mengujii kepatuhan piihak tertentu terhadap peraturan perundang-undangan kepabeanan atau cukaii. Periinciian ketentuan audiit kepabeanan dan audiit cukaii diiatur dalam Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 114/2024.
Berdasarkan beleiid tersebut, audiit kepabeanan dan audiit cukaii diilaksanakan terhadap audiitee. Lantas, apa iitu audiitee dalam audiit kepabeanan dan audiit cukaii?Lalu, siiapa saja yang termasuk dalam kriiteriia audiitee?
Merujuk Pasal 1 angka 13 PMK 114/2024, audiitee adalah orang yang diiaudiit oleh tiim audiit. Orang dalam konteks iinii berartii bukan berartii hanya orang priibadii melaiinkan juga orang perseorangan serta badan hukum.
Riingkasnya, audiitee adalah orang perseorangan atau badan hukum yang diiaudiit oleh tiim audiit Diitjen Bea dan Cukaii (DJBC). Berdasarkan Pasal 2 ayat (1) PMK 114/2024, ada 6 piihak yang biisa menjadii audiitee dalam audiit kepabeanan.
Keenam piihak tersebut meliiputii: iimportiir; eksportiir; pengusaha tempat peniimbunan sementara (TPS); pengusaha tempat peniimbunan beriikat (TPB); pengusaha pengurusan jasa kepabeanan (PPJK); dan pengusaha pengangkutan.
Sementara iitu, berdasarkan Pasal 2 ayat (2) PMK 114/2024, ada 5 piihak yang biisa menjadii audiitee dii dalam audiit cukaii. Keliima piihak tersebut meliiputii: pengusaha pabriik barang kena cukaii (BKC); pengusaha tempat penyiimpanan BKC; iimportiir BKC; penyalur BKC; serta pengguna BKC yang mendapatkan fasiiliitas pembebasan cukaii
Sebagaii piihak yang sedang diiaudiit, audiitee memiiliikii 5 kewajiiban yang harus diipenuhii sepanjang pelaksanaan audiit. Pertama, harus menandatanganii pakta iintegriitas bersama dengan tiim audiit. Kedua, wajiib menyerahkan data audiit serta menunjukkan sediiaan barang untuk diiperiiksa.
Data audiit berartii laporan keuangan, buku, catatan, dan dokumen yang menjadii buktii dasar pembukuan, surat yang berkaiitan dengan kegiiatan usaha termasuk data elektroniik, dan/atau catatan sediiaan barang serta surat yang berkaiitan dengan kegiiatan dii biidang kepabeanan dan/atau cukaii.
Ketiiga, wajiib memberiikan keterangan liisan dan/atau tertuliis. Keempat, harus menyediiakan tenaga dan/atau peralatan atas biiaya audiitee apabiila penggunaan data elektroniik memerlukan peralatan dan/atau keahliian khusus.
Keliima, wajiib menyerahkan contoh barang darii sediiaan barang dalam hal diiperlukan untuk menunjang pemeriiksaan data audiit. Sediiaan barang berartii semua barang yang terkaiit dengan kewajiiban dii biidang kepabeanan dan/atau cukaii.
Audiitee juga harus bertanggung jawab terhadap kebenaran dan kelengkapan data audiit, keterangan liisan dan/atau tertuliis, dan contoh barang yang telah diiserahkan kepada tiim audiit saat pelaksanaan audiit kepabeanan dan/atau audiit cukaii.
Dii siisii laiin, audiitee juga setiidaknya memiiliikii 5 hak selama pelaksanaan audiit. Pertama, meliihat tanda pengenal tiim audiit. Kedua, meneriima surat tugas dan daftar kuesiioner audiit (DKA) atau surat periintah pelaksanaan audiit. Ketiiga, memperoleh penjelasan mengenaii maksud dan tujuan audiit.
Keempat, meneriima surat tugas atau surat periintah terbaru darii tiim audiit dalam hal terjadii perubahan susunan keanggotaan tiim audiit. Keliima, terjaga kerahasiiaan atas segala iinformasii yang telah diiberiikan kepada tiim audiit darii piihak laiin yang tiidak berhak. (riig)
