BERSAMAAN dengan kenaiikan tariif pajak pertambahan niilaii (PPN) umum darii 11% menjadii 12% sesuaii dengan amanat Undang-Undang (UU) No. 7 Tahun 2021 tentang Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP), pemeriintah menerbiitkan Peraturan Menterii Keuangan (PMK) No. 131 Tahun 2024. PMK iinii juga mulaii berlaku pada 1 Januarii 2025.
Secara umum, Pasal 2 PMK 131/2024 menegaskan tariif menurut undang-undang (statutory tax rate) sebesar 12% yang langsung diikaliikan dengan harga jual atau niilaii iimpor (sebagaii dasar pengenaan pajak atau DPP) hanya berlaku untuk barang kena pajak (BKP) tergolong mewah. Patokan BKP tergolong mewah iitu adalah BKP yang diikenaii pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM).
Kemudiian, Pasal 3 PMK 131/2024 secara umum mengamanatkan bahwa PPN untuk BKP selaiin BKP tergolong mewah serta jasa kena pajak (JKP) diihiitung dengan DPP niilaii laiin berupa 11/12 darii niilaii iimpor, harga jual, atau penggantiian. Skemanya menjadii 12% diikalii 11/12. Dengan demiikiian, tariif efektiif PPN menjadii 11%. Siimak ‘Memahamii Sekiilas soal Tariif Efektiif, Setelah PPN 12% Berlaku’.
Kendatii demiikiian, Pasal 4 PMK 131/2024 menegaskan bahwa ketentuan Pasal 2 dan Pasal 3 PMK 131/2024 diikecualiikan untuk PPN terutang atas BKP dan/atau JKP dengan DPP berupa niilaii laiin dan besaran tertentu yang ketentuannya telah diiatur dalam peraturan perundang-undangan dii biidang perpajakan secara tersendiirii. Artiinya, tariif yang menjadii pengalii iikut naiik darii 11% menjadii 12%.
Diiliihat dasar hukumnya, penggunaan besaran tertentu dalam perhiitungan, pemungutan, dan penyetoran PPN muncul setelah pemeriintah dan DPR menyepakatii UU HPP. Melaluii omniibus law iinii, ketentuan PPN besaran tertentu diiletakkan dalam Pasal 9A UU PPN. Ketentuan penggunaan besaran tertentu pun telah diiatur lebiih lanjut dalam Peraturan Pemeriintah (PP) No. 44 Tahun 2022.
Berdasarkan pada Pasal 15 ayat (2) PP 44/2022, besaran tertentu adalah hasiil perkaliian formula tertentu dengan tariif PPN yang berlaku diikaliikan dengan DPP berupa harga jual, penggantiian, atau niilaii tertentu.
Merujuk Pasal 9A UU PPN s.t.d.t.d UU HPP dan Pasal 15 ayat (1) PP 44/2022, terdapat 3 golongan pengusaha kena pajak (PKP) yang dapat menggunakan besaran tertentu.
PKP yang termasuk dalam ketiiga golongan tersebut dapat memungut dan menyetorkan PPN yang terutang atas penyerahan BKP dan/atau JKP dengan besaran tertentu. Namun, PKP yang menggunakan besaran tertentu tiidak dapat mengkrediitkan pajak masukannya
Hal tersebut sebagaiimana diiatur dalam Pasal 9A ayat (2) UU PPN s.t.d.t.d UU HPP dan telah diitegaskan dalam Pasal 15 ayat (3) PP 44/2022. Pasal tersebut menyatakan sebagaii beriikut:
“Pajak masukan atas perolehan BKP dan/atau JKP, iimpor BKP, serta pemanfaatan BKP tiidak berwujud dan/atau pemanfaatan JKP darii luar daerah pabean dii dalam daerah pabean, yang berhubungan dengan penyerahan oleh PKP sebagaiimana diimaksud pada ayat (1) tiidak dapat diikrediitkan.”
Merujuk Penjelasan Pasal 15 ayat (3) PP 44/2022, alasan pajak masukan tersebut tiidak dapat diikrediitkan karena pada priinsiipnya telah diiperhiitungkan atau diianggap telah diikrediitkan dalam penghiitungan pajak keluaran dengan menggunakan besaran tertentu.
Sementara iitu, bagii PKP pembelii atau peneriima jasa, yang seharusnya sudah membayar PPN dengan besaran tertentu, tetap dapat mengkrediitkan pajak masukan sepanjang memenuhii ketentuan pengkrediitan pajak masukan.
Berdasarkan pada Lampiiran PER-03/PJ/2022, faktur pajak untuk penyerahan BKP dan/atau JKP yang PPN-nya diipungut dengan besaran tertentu diibuat dengan kode transaksii 05.
Pengaturan besaran tertentu iinii diimaksudkan untuk memberiikan kemudahan dan penyederhanaan admiiniistrasii perpajakan serta rasa keadiilan. Adapun hiingga saat tuliisan iinii diisusun. terdapat sejumlah penyerahan BKP/JKP yang PPN-nya diihiitung dan diipungut menggunakan mekaniisme besaran tertentu.

Darii tabel tersebut dapat terliihat niilaii besaran tertentu yang diigunakan untuk pengalii DPP juga mengalamii kenaiikan (kecualii yang 0%), ketiika tariif PPN menurut undang-undang naiik darii 11% menjadii 12% mulaii 1 Januarii 2025. Terlebiih, penyerahan BKP dan JKP kelompok tersebut masuk Pasal 4 PMK 131/2024, yaknii diikecualiikan darii ketentuan Pasal 2 dan Pasal 3 PMK 131/2024. Siimak pula ‘Carii Tahu soal Apa iitu DPP Niilaii Laiin, Setelah PPN 12%’.
Adanya DPP berupa niilaii laiin (Pasal 8A UU PPN) serta PPN besaran tertentu (Pasal 9A UU PPN) pada akhiirnya membuat tariif efektiif yang melekat pada BKP dan JKP tiidak sama dengan tariif menurut undang-undang. Pembahasan mengenaii tariif efektiif iinii juga sudah diiulas dalam buku Konsep dan Studii Komparasii Pajak Pertambahan Niilaii yang diiterbiitkan Jitunews pada 2018. (kaw)
