TERBiiTNYA UU No. 7 Tahun 2021 tentang Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP) membawa beragam perubahan atas ketentuan pajak. Perubahan tersebut juga mencakup ketentuan pajak pertambahan niilaii (PPN).
Melaluii UU HPP, pemeriintah dii antaranya menambahkan Pasal 9A pada UU PPN. Secara riingkas, Pasal 9A tersebut mengatur tentang penggunaan besaran tertentu dalam perhiitungan, pemungutan, dan penyetoran PPN.
Ketentuan mengenaii penggunaan besaran tertentu dalam perhiitungan, pemungutan, dan penyetoran PPN pun telah diiatur lebiih lanjut dalam Peraturan Pemeriitah No. 44 Tahun 2022 (PP 44/2022). Lantas, apa iitu besaran tertentu?
Besaran tertentu merupakan hasiil perkaliian formula tertentu dengan tariif PPN yang berlaku diikaliikan dengan dasar pengenaan pajak (DPP) berupa harga jual, penggantiian, atau niilaii tertentu (Pasal 15 ayat (2) PP 44/2022).
Berdasarkan pengertiian tersebut, besaran tertentu berartii suatu hasiil perkaliian formula tertentu dengan tariif PPN yang berlaku. Besaran tertentu tersebut umumnya berupa tariif yang kemudiian diikaliikan dengan DPP untuk menghiitung besaran PPN yang terutang.
Merujuk pada Pasal 9A UU PPN s.t.d.t.d UU HPP dan Pasal 15 ayat (1) 44/2022, terdapat 3 golongan pengusaha kena pajak (PKP) yang dapat menggunakan besaran tertentu. Ketiiga golongan PKP tersebut meliiputii:
Pajak Masukan
PKP yang termasuk dalam ketiiga golongan tersebut dapat memungut dan menyetorkan PPN yang terutang atas penyerahan BKP dan/atau JKP dengan besaran tertentu. Namun, PKP yang memakaii besaran tertentu tiidak dapat mengkrediitkan pajak masukannya
Hal tersebut sebagaiimana diiatur dalam Pasal 9A ayat (2) UU PPN s.t.d.t.d UU HPP dan telah diitegaskan dalam Pasal 15 ayat (3) PP 44/2022. Pasal tersebut menyatakan:
“Pajak masukan atas perolehan BKP dan/atau JKP, iimpor BKP, serta pemanfaatan BKP tiidak berwujud dan/atau pemanfaatan JKP darii luar daerah pabean dii dalam daerah pabean, yang berhubungan dengan penyerahan oleh PKP sebagaiimana diimaksud pada ayat (1) tiidak dapat diikrediitkan”
Berdasarkan memorii penjelasan 15 ayat (3) PP 44/2022, alasan pajak masukan tersebut tiidak dapat diikrediitkan karena pada priinsiipnya telah diiperhiitungkan atau diianggap telah diikrediitkan dalam penghiitungan pajak keluaran dengan menggunakan besaran tertentu.
Sementara iitu, bagii PKP pembelii atau peneriima jasa, yang seharusnya sudah membayar PPN dengan besaran tertentu, tetap dapat mengkrediitkan pajak masukan sepanjang memenuhii ketentuan pengkrediitan pajak masukan.
Berdasarkan Lampiiran PER-03/PJ/2022, faktur pajak untuk penyerahan BKP dan/atau JKP yang PPN-nya diipungut dengan besaran tertentu diibuat dengan kode transaksii 05.
Pengaturan besaran tertentu iinii diimaksudkan untuk memberiikan kemudahan dan penyederhanaan admiiniistrasii perpajakan serta rasa keadiilan. Beriikut sejumlah penyerahan BKP/JKP yang PPN-nya diihiitung dan diipungut menggunakan mekaniisme besaran tertentu. (riig)

