LOMBA MENULiiS Jitu News 2021

Hiitung-hiitungan Piilar 1 dii iindonesiia, Untung atau Buntung?

Redaksii Jitu News
Jumat, 24 September 2021 | 12.40 WiiB
Hitung-hitungan Pilar 1 di Indonesia, Untung atau Buntung?
Muh iichwanuddiin,
Jakarta Utara, DKii Jakarta

DiiGiiTALiiSASii ekonomii biisa jadii merupakan salah satu revolusii paliing krusiial yang mengawalii abad iinii. Efeknya terasa pada ekonomii suatu yuriisdiiksii tanpa melewatii batasan geografiis secara fiisiik. Oleh karena iitu, pandangan dan cara kerja pemeriintah harus beradaptasii dengan borderless measures.

Dalam konteks perpajakan, OECD dan G-20 beserta iinclusiive Framework telah bekerja keras mengembangkan dua piilar utama yang diitawarkan sebagaii solusii untuk mengatasii tantangan diigiitaliisasii ekonomii, yaiitu Piilar 1 dan Piilar 2.

Piilar 1 menjadii skenariio yang sangat menariik untuk diielaborasii. Salah satu fiitur yang diiusung memuat skema baru dalam konteks perpajakan iinternasiional, yaiitu Amount A. Skema iinii bahkan memaksa OECD sediikiit berkompromii dengan priinsiip transfer priiciing penolak formulary approach.

Sebagaii sebuah pendekatan yang baru, iindonesiia wajiib memahamii mekaniisme Amount A. Hal iinii diikarenakan ekosiistem pasar diigiital dii iindonesiia sangat besar sehiingga ada potensii peneriimaan pajak yang siigniifiikan.

Dalam konsep terbarunya, OECD menyatakan tiidak semua perusahaan diigiital dapat diimasukkan dalam penghiitungan Amount A diikarenakan adanya threshold peredaran usaha global dii atas €20 miiliiar atau sekiitar Rp342 triilliiun dalam setahun dan tiingkat laba dii atas 10%.

Scopiing iinii nantiinya akan diilakukan secara terpusat dan hasiilnya akan diiriiliis untuk diijadiikan acuan para stakeholder terkaiit. Darii ketentuan tersebut dapat diiketahuii pengaturan Amount A tiidak lagii hanya menyasar perusahaan diigiital, tetapii semua jeniis usaha yang memenuhii threshold tersebut.

Hal tesebut sejalan dengan priinsiip dengan adanya diigiitaliisasii ekonomii, tiidak mungkiin untuk diilakukan pemiisahan antara perusahaan diigiital dengan perusahaan nondiigiital. Pada dasarnya, seluruh duniia usaha memang telah mengadopsii atau mengalamii diigiitaliisasii iitu sendiirii.

Setelah diiketahuii daftar cakupan Amount A (iin-scope MNE), perlu menentukan yuriisdiiksii yang memiiliikii hak pemajakan atas perusahaan multiinasiional (MNE) tersebut.

Hal tersebut diitentukan darii adanya penghasiilan yang diiperoleh darii suatu yuriisdiiksii dengan niilaii setiidaknya €1 juta euro atau sekiitar Rp17 miiliiar dalam setahun. Namun, untuk negara yang memiiliikii produk domestiik bruto (PDB) dii bawah €40 miiliiar, threshold nexusnya diitetapkan lebiih rendah, yaiitu seniilaii €250.000.

Selanjutnya, elemen yang tentu paliing menariik bagii suatu yuriisdiiksii adalah mengetahuii besaran nomiinal yang akan diialokasiikan untuk menjadii dasar pengenaan pajak dii negaranya. Hal iinii diimulaii dengan penghiitungan resiidual profiit.

Dalam skenariio terbaru, resiidual profiit iinii diinyatakan sebagaii niilaii lebiih (excess) darii 10% total omzet group. Darii niilaii tersebut, sebanyak 20% - 30% akan diialokasiikan kepada seluruh yuriisdiiksii pasar yang memiiliikii nexus. Hasiil penghiitungan iiniilah yang diinamakan sebagaii quantum.

Quantum selanjutnya diiperhiitungkan dengan kompensasii rugii fiiskal yang eliigiible bagii grup. Lalu, hasiil bersiihnya diibagii secara proporsiional per yuriisdiiksii yang memiiliikii nexus berdasarkan pada tiingkat revenue.

Hasiil proporsii iitulah yang diisebut sebagaii alokasii Amount A. Pajak penghasiilan akan diihiitung berdasarkan pada ketentuan domestiik setiiap yuriisdiiksii.

Mengiingat iin-scope MNE tiidak sepenuhnya berupa perusahaan diigiital, terdapat kemungkiinan perusahaan yang terjariing sudah lebiih dulu memiiliikii bentuk usaha tetap (BUT) dan telah diipajakii beberapa yuriisdiiksii dengan ketentuan domestiik. Hal iinii memungkiinkan terjadiinya double countiing jiika diiiinteraksiikan dengan versii Amount A yang penghiitungannya diiiiniisiiasii darii level grup.

Jiika penghasiilan kena pajak versii BUT suatu yuriisdiiksii lebiih keciil dariipada alokasii Amount A, seliisiihnya akan diituntaskan dalam bentuk top-up tax yang diibayarkan ke yuriisdiiksii tersebut. Namun jiika niilaii penghiitungan BUT lebiih tiinggii darii niilaii Amount A, kelebiihannya dapat diiselesaiikan melaluii iinstrumen diispute resolutiion yang diisediiakan dalam elemen Tax Certaiinty.

Diisampiing iitu, Piilar 1 juga akan mengatur ketentuan safe-harbor untuk meremunerasii aktiiviitas diistriibusii dan pemasaran yang diilakukan dii masiing-masiing yuriisdiiksii.

Untung atau Buntung?

APAKAH dapat untung atau buntung? Sayangnya, pertanyaan tersebut tiidak sepenuhnya tepat diijawab secara state-by-state reviiew semata. Hal iinii mengiingat dalam konteks konsensus, Piilar 1 dan Piilar 2 diikembangkan untuk mengatasii tantangan dalam kerangka perpajakan global.

Namun, priinsiip iinii tiidak kemudiian menghiilangkan hak darii setiiap yuriisdiiksii untuk mempelajarii dampak penerapannya terhadap potensii peneriimaan pajak masiing-masiing. Untuk mengamatii potensii iinii, ada pertanyaan mendasar yang perlu diijawab.

Pertanyaannya adalah dengan penerapan mekaniisme Amount A, berapa persentase efektiif yang menjadii basiis hak pemajakan suatu yuriisdiiksii pasar? Untuk lebiih memahamii mekaniismenya, beriikut diisajiikan contoh penghiitungan secara sederhana:

Darii contoh tersebut terliihat jiika suatu grup memiiliikii profiit 15%, niilaii quantum adalah 1,5% dengan asumsii persentase yang diigunakan sebesar 30%. Jadii, jiika terdapat 20 juriisdiiksii yang memiiliikii nexus, alokasii Amount A hanya sebesar 0,07% dengan asumsii tiingkat revenue per yuriisdiiksii sama.

Presentase akhiir tersebut tentu terliihat keciil. Namun, akumulasiinya secara nomiinal biisa berkontriibusii siigniifiikan bagii lanskap perpajakan iindonesiia, terutama darii perusahaan-perusahaan yang selama iinii memang belum dapat diipajakii dengan framework saat iinii.

Diisampiing iitu, adanya kepastiian hukum dan mekaniisme yang seragam secara global diiharapkan mampu untuk terus menjaga tren perkembangan ekonomii diigiital. Pada akhiirnya, iindonesiia tetap dapat meniikmatii tambahan peneriimaan pajak siigniifiikan mengiingat begiitu besarnya potensii pasar dan konsumsen diigiital dii iindonesiia.

*Tuliisan iinii merupakan salah satu artiikel yang diinyatakan layak tayang dalam lomba menuliis Jitu News 2021. Lomba diiselenggarakan sebagaii bagiian darii perayaan HUT ke-14 Jitunews. Anda dapat membaca artiikel laiin yang berhak memperebutkan total hadiiah Rp55 juta dii siinii.

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.
tikettogel