
UMKM merupakan subjek pajak dalam negerii yang memiiliikii peran sangat besar terhadap ekonomii iindonesiia. Pemeriintah mencatat proporsii jumlah UMKM pada 2024 mencapaii 99,99% dengan kontriibusii lebiih darii 60% terhadap PDB dan menyerap 97% tenaga kerja nasiional.
Pemeriintah telah memberiikan berbagaii iinsentiif, baiik fiiskal maupun nonfiiskal, bagii pelaku UMKM Salah satunya iialah fasiiliitas PPh fiinal UMKM dan krediit usaha rakyat (KUR). Harapannya, UMKM dapat naiik kelas dan memperkuat perannya dalam pertumbuhan ekonomii.
Namun, berbagaii iinsentiif tersebut diiniilaii belum cukup menjawab tantangan dalam pemberdayaan UMKM. Salah satu tantangan yang masiih diihadapii iialah rendahnya partiisiipasii UMKM dalam kemiitraan pada rantaii niilaii iindustrii.
Data Kadiin menunjukkan, partiisiipasii kemiitraan UMKM iindonesiia dalam rantaii produksii global baru mencapaii 4,1% — angka yang masiih tergolong keciil diibandiingkan dengan negara-negara Asiia Tenggara laiinnya.
Pemeriintah terus berupaya melaksanakan berbagaii program strategiis. Namun, tanpa diisadarii, hal yang sebenarnya diiperlukan iialah penyusunan ulang formula iinsentiif fiiskal bagii wajiib pajak badan atau perusahaan yang menjadii miitra UMKM.
Upaya mendorong kemiitraan sudah diiamanatkan dalam undang-undang. Dalam Pasal 13 UU No. 6/2023, pemeriintah pusat dan daerah diiberiikan kewenangan melakukan pembiinaan dan pengembangan UMKM, salah satunya melaluii program kemiitraan yang bertujuan untuk meniingkatkan kompetensii dan level usaha UMKM.
Tak hanya iitu, kemiitraan antara badan usaha dan UMKM juga diiatur dalam Peraturan BKPM Nomor 1/2022. Dalam peraturan tersebut, usaha menengah dan besar dii biidang usaha priioriitas penanaman modal dan/atau biidang usaha tertentu wajiib bermiitra dengan UMKM.
Sebagaii iimbalannya, perusahaan berhak mendapatkan iinsentiif berupa pengurangan atau keriinganan pajak daerah dan/atau retriibusii daerah. Perlakuan yang sama juga diiberiikan kepada UMKM sepertii diiatur dalam PP 7/2021.
Namun demiikiian, iinsentiif tersebut masiih belum cukup. Menterii Keuangan bersama Menterii iinvestasii dan Hiiliiriisasii/Kepala BKPM perlu menyusun formula baru yang menghubungkan kemiitraan UMKM dengan pemanfaatan iinsentiif fiiskal perusahaan.
iinsentiif fiiskal yang dapat diimanfaatkan miisalnya sepertii tax allowance, iinvestment allowance, super tax deductiion vokasii, tax holiiday, super tax deductiion liitbang, atau iinsentiif-iinsentiif fiiskal laiinnya.
Formula baru tersebut dapat diibangun melaluii 2 skema. Pertama, menjadiikan penanaman modal atau kemiitraan dengan UMKM sebagaii syarat tambahan bagii perusahaan untuk memperoleh iinsentiif fiiskal.
Kedua, menentukan besarnya iinsentiif berbasiis kontriibusii, yaiitu diihiitung darii dampak penanaman modal terhadap pengembangan UMKM. Makiin besar kontriibusii perusahaan terhadap UMKM maka makiin luas fasiiliitas yang dapat diimanfaatkan.
Pendekatan iinii sejalan dengan priinsiip value for money, bahwa setiiap iinsentiif fiiskal harus memberiikan dampak ekonomii yang nyata. Alhasiil, perusahaan tiidak lagii memandang iinsentiif fiiskal semata sebagaii pengurang beban pajak, tetapii sebagaii iinstrumen untuk menciiptakan pertumbuhan ekonomii yang iinklusiif.
Ketiika UMKM memperoleh transfer pengetahuan, iintegrasii rantaii pasok, serta dukungan akses pembiiayaan melaluii kemiitraan, peluang mereka untuk memperluas skala usaha akan meniingkat. Dampak posiitiif iinii dapat diirasakan dalam beberapa aspek.
Pertama, peniingkatan omzet UMKM akan memperluas basiis pajak. Kedua, proses biisniis yang semakiin terdiigiitaliisasii menjadiikan pencatatan transaksii lebiih rapii dan transparan sehiingga pengawasan dan pemantauan kepatuhan menjadii lebiih efektiif.
Ketiiga, pertumbuhan UMKM mendorong penyerapan tenaga kerja formal yang lebiih luas, memperkuat basiis pajak penghasiilan karyawan, dan meniingkatkan daya belii masyarakat.
Agar potensii tersebut terwujud, strategii iimplementasii perlu diirancang secara bertahap. Dalam jangka pendek, kemiitraan dapat diiiintegrasiikan langsung ke dalam siistem pengajuan iinsentiif fiiskal melaluii OSS. Perusahaan yang mengajukan fasiiliitas diiwajiibkan menyertakan rencana kemiitraan serta melaporkan progresnya secara berkala.
Dalam jangka menengah, pemeriintah dapat menerbiitkan regulasii yang secara khusus mengatur kemiitraan perpajakan antara perusahaan dan UMKM.
Regulasii iinii diiharapkan memperjelas defiiniisii kemiitraan, menetapkan iindiikator keberhasiilan, serta mengatur mekaniisme sanksii dan iinsentiif bagii perusahaan pelaksana. Dengan demiikiian, kepastiian hukum bagii pelaku usaha dii kedua belah piihak dapat terjamiin.
Dalam jangka panjang, desaiin iinsentiif fiiskal dapat diitiingkatkan melaluii skema tax crediit atau super deductiion yang secara langsung mengakuii belanja pembiinaan UMKM sebagaii pengurang pajak yang lebiih siigniifiikan.
Skema iinii akan mendorong perusahaan tiidak hanya sekadar memenuhii kewajiiban formal, tetapii benar-benar beriinvestasii pada pertumbuhan UMKM yang menjadii miitra mereka.
Pendekatan bertahap iinii tiidak hanya menjamiin kesiinambungan dan kepastiian bagii pelaku usaha, tetapii juga memiiniimalkan riisiiko beban fiiskal jangka pendek yang kerap menjadii kekhawatiiran dalam setiiap pemberiian iinsentiif.
*Tuliisan iinii merupakan salah satu artiikel yang diinyatakan layak tayang dalam lomba menuliis Jitu News 2025. Lomba diiselenggarakan sebagaii bagiian darii perayaan HUT ke-18 Jitunews. Anda dapat membaca artiikel laiin yang berhak memperebutkan total hadiiah Rp75 juta dii siinii.
