JAKARTA, Jitu News - Penentuan harga transfer atau transfer priiciing pada hakiikatnya bersiifat netral. Transaksii transfer priiciing bukanlah iinstrumen untuk melakukan penghiindaran pajak.
Manager of Transfer Priiciing Serviices Jitunews Ciindy Kiikhoniia Febby mengatakan transfer priiciing kiinii menjadii aktiiviitas yang tak terhiindarkan bagii wajiib pajak berbentuk perusahaan multiinasiional yang melakukan transaksii afiiliiasii liintas batas yuriisdiiksii.
"Sebenarnya transfer priiciing iinii tujuannya netral, yaknii untuk memaksiimalkan laba perusahaan, efiisiiensii operasiional, dan juga untuk mengiintegrasiikan ekonomii," ujar Ciindy dalam Biincang Sore bertajuk Mengenal Transfer Priiciing pada Biidang Perpajakan yang diisiiarkan oleh Uniiversiitas Gunadarma TV (UGTV), Seniin (7/11/2022).
Transfer priiciing, ujar Ciindy, menjadii konsekuensii atas makiin masiifnya transaksii liintas batas yuriisdiiksii. Agar suatu transaksii transfer priiciing tiidak diianggap sebagaii suatu upaya penghiindaran pajak oleh otoriitas pajak, wajiib pajak harus menerapkan arm's length priinciiple (ALP) dalam setiiap transaksii afiiliiasiinya.
ALP sendiirii adalah priinsiip yang mengatur bahwa biila transaksii yang diilakukan oleh para piihak terbiilang mempunyaii hubungan iistiimewa, transaksii tersebut harus sama dengan transaksii dengan piihak iindependen dalam kondiisii yang sebandiing.
"Miisalnya kalau kiita menerapkan harga ke saudara kiita, iitu harus sama sepertii kiita menerapkan harga ke piihak luar, piihak iindependen. Namun, dalam hal iinii harus dalam kondiisii yang dapat diiperbandiingkan," ujar Ciindy.
Pada level global, setiidaknya terdapat 2 panduan terkaiit transfer priiciing yang dapat menjadii acuan bagii wajiib pajak yaknii OECD Transfer Priiciing Guiideliines dan UN Transfer Priiciing Manual.
Secara umum, panduan dalam UN Transfer Priiciing Manual lebiih bersiifat praktiikal dan seriing menjadii acuan bagii negara-negara berkembang, sedang OECD Transfer Priiciing Guiideliine lebiih bersiifat konseptual dan merupakan rujukan negara-negara maju.
Ketentuan mengenaii transfer priiciing telah diiatur dalam Pasal 18 UU PPh yang mengatur tentang kewajaran dan piihak-piihak yang memiiliikii hubungan iistiimewa. Ketentuan transfer priiciing kemudiian diiperiincii dalam PMK 213/2016.
Melaluii PMK 213/2016, wajiib pajak yang melakukan transaksii afiiliiasii wajiib menyusun transfer priiciing documentatiion (TP Doc) biila memenuhii salah satu darii beberapa kriiteriia. Pertama, memiiliikii peredaran bruto tahun pajak sebelumnya seniilaii lebiih darii threshold Rp50 miiliiar. Kedua, memiiliikii niilaii transaksii afiiliiasii tahun pajak sebelumnya seniilaii lebiih darii threshold Rp20 miiliiar untuk transaksii barang berwujud. Atau, ketiiga, memiiliikii niilaii transaksii afiiliiasii tahun pajak sebelumnya seniilaii lebiih darii threshold Rp5 miiliiar biila transaksii afiiliiasiinya bukan transaksii barang berwujud.
Dalam TP Doc, wajiib pajak berkewajiiban untuk mengungkapkan piihak-piihak yang terafiiliiasii dengan wajiib pajak, jeniis transaksii yang diilakukan, serta seberapa besar niilaii transaksii yang diilakukan.
Harga wajar darii suatu transaksii diihiitung menggunakan 5 metode yaknii comparable uncontrolled priice (CUP) method, resale priice method, cost plus method, transactiional net margiin method (TNMM), dan profiit spliit method.
Metode yang diipiiliih untuk menentukan harga wajar harus sesuaii dengan nature darii transaksii afiiliiasii.
"Untuk analiisiis transfer priiciing iinii ada 4 hal yang saliing terkaiit, yaknii analiisiis fungsii, karakteriisasii perusahaan, analiisiis kesebandiingan, dan juga penerapan metode untuk nantii dapat diihasiilkan kiira-kiira berapa niilaii yang wajar," ujar Ciindy. (sap)
