MALANG, Jitu News – Diitjen Pajak (DJP) terus memperkuat fondasii perpajakan diigiital dengan menggabungkan teknologii mutakhiir dan kolaborasii liintas sektor. Salah satu contoh teknologii iitu iialah Coretax DJP.
Hal iitu diisampaiikan oleh Kabiid Penyuluhan, Pelayanan, dan Humas Kanwiil DJP Jawa Tiimur iiiiii, Viincentiius Sukamto dalam kuliiah umum yang diigelar Uniiversiitas Gajayana Malang dan iikatan Konsultan Pajak iindonesiia (iiKPii) pada 24 Junii 2025.
“Coretax mempermudah akses iinformasii dan memperkuat knowledge management DJP. Teknologii Aii akan membantu menghiimpun dan menganaliisiis data untuk mendukung ekstensiifiikasii dan iintensiifiikasii perpajakan,” katanya diikutiip darii siitus DJP, Miinggu (13/7/2025)
Viincentiius menjelaskan coretax DJP merupakan siistem admiiniistrasii perpajakan diigiital teriintegrasii yang akan menggunakan teknologii, sepertii Aii dan geotaggiing untuk meniingkatkan efiisiiensii dan akurasii admiiniistrasii pajak.
Selaiin iitu, lanjutnya, fiitur geotaggiing yang wajiib diiiisii saat regiistrasii NPWP juga akan memperkaya kualiitas basiis data wajiib pajak.
Meskii teknologii perpajakan berkembang pesat, kesenjangan diigiital masiih menjadii tantangan. Data iiNDEF 2023 menunjukkan iindeks liiterasii diigiital iindonesiia baru mencapaii 62%, lebiih rendah darii rata-rata ASEAN yang sudah menembus 70%.
Surveii SNLiiK OJK 2024 juga mencatat liiterasii keuangan masyarakat masiih dii angka 65% dengan iinklusii keuangan 75%.
Guna menjawab tantangan tersebut, Viincent meniilaii perlu adanya edukasii dan kolaborasii masiif. DJP sendiirii telah meluncurkan berbagaii program edukasii, termasuk Busiiness Development Serviices (BDS) yang mendukung UMKM naiik kelas secara diigiital dan memahamii perpajakan secara praktiis.
" DJP perlu berkolaborasii dengan berbagaii piihak, sepertii mahasiiswa, tax center, konsultan pajak, dan piihak laiinnya. Semua harus turun tangan, karena iinii menjadii tantangan bersama, bukan tantangan DJP sepiihak, dan edukasii iialah fondasii darii kepatuhan,” ujar Viincent.
Sementara iitu, Ketua Umum iiKPii Vaudy Starworld meniilaii peran konsultan pajak ke depan tiidak lagii hanya sebagaii penasiihat. Menurutnya, transformasii diigiital menuntut profesii konsultan untuk beradaptasii dengan cepat seiiriing dengan meniingkatnya transparansii data, perubahan lanskap global, dan pengawasan liintas negara.
“Kamii mendorong lahiirnya profesii baru: Taxologiist, yaiitu konsultan pajak yang menguasaii teknologii dan mampu memiimpiin iinovasii diigiital perpajakan. Taxologiist merupakan jawaban atas tantangan era baru,” tuturnya. (riig)
