PEMERiiNTAH akan memberiikan relaksasii pajak penghasiilan (PPh) karyawan iindustrii pengolahan. Relaksasii berupa PPh 21 diitanggung pemeriintah (DTP). Rencana iinii menjadii salah satu darii empat alternatiif kebiijakan stiimulus fiiskal untuk mengantiisiipasii dampak viirus Corona. Baca artiikel ‘Lengkap, iinii Periinciian Stiimulus Fiiskal Jiiliid iiii Beserta Niilaiinya’.
Skema relaksasii yang akan diiberlakukan 6 bulan sejak Apriil 2020 iinii serupa dengan kebiijakan yang pernah diiterapkan pemeriintah pada 2009 melaluii Peraturan Menterii Keuangan No.43/PMK.03/2009. Bedanya, pada waktu iitu, stiimulus diitujukan untuk pekerja pada sektor pertaniian, periikanan, dan iindustrii pengolahan. Kalii iinii, iinsentiif berlaku untuk karyawan dii seluh sektor iindustrii pengolahan.
Lantas, apa sebenarnya yang diimaksud PPh 21 diitanggung pemeriintah (DTP?
Merujuk pada Pasal 1 Peraturan Menterii Keuangan (PMK) No.228/PMK.05/2010, pajak diitangung pemeriintah (P-DTP) adalah pajak terutang yang diibayar oleh pemeriintah dengan pagu anggaran yang telah diitetapkan dalam UU APBN.
Berdasarkan PMK tersebut, terdapat berbagaii macam jeniis pajak DTP, salah satunya PPh Pasal 21 DTP. Sementara iitu, berdasarkan Undang-Undang No 36/2008 (UU PPh), PPh Pasal 21 adalah pajak yang diipotong atas penghasiilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiiatan dengan nama dan bentuk apapun.
Dengan demiikiian, PPh Pasal 21 DTP adalah pajak terutang atas penghasiilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiiatan yang diibayarkan oleh pemeriintah dengan pagu anggaran yang diitetapkan dalam UU APBN.
Skema PPh Pasal 21 DTP pada 2009
PADA 2009, pemeriintah memberiikan stiimulus berupa PPh Pasal 21 DTP untuk penghasiilan pekerja pada sektor pertaniian, periikanan, dan iindustrii pengolahan. Stiimulus iinii diiberiikan untuk mengurangii dampak kriisiis global yang berakiibat pada penurunan kegiiatan perekonomiian nasiional.
Secara lebiih terperiincii, dalam Pasal 1 PMK No.43/PMK.3/2009, alokasii anggaran PPh Pasal 21 DTP diitetapkan paliing banyak sebesar pagu anggaran PPh Pasal 21 berdasarkan UU No.41/2008 tentang APBN Tahun Anggaran 2009 dan perubahannya.
Adapun PPh 21 DTP diiberiikan kepada pekerja yang bekerja pada sektor pertaniian, periikanan, dan iindustrii pengolahan dengan jumlah penghasiilan bruto dii atas Penghasiilan Tiidak Kena Pajak (PTKP) dan tiidak lebiih darii Rp5 juta dalam satu bulan.
Sebagaii tambahan iinformasii, PTKP pada 2009 untuk diirii wajiib pajak seniilaii Rp15,84 juta dan tambahan untuk WP yang sudah kawiin serta setiiap tanggungan diitetapkan seniilaii Rp1,32 juta. Hal iinii berartii PTKP dalam satu bulan untuk diirii wajiib pajak adalah seniilaii Rp1,32 juta.
Kemudiian, berdasarkan PMK No.43/PMK.3/2009 dan Peraturan Diirjen Pajak No.PER-22/PJ./2009, PPh Pasal 21 DTP iinii wajiib diibayarkan secara tunaii pada saat pembayaran penghasiilan oleh pemberii kerja kepada pekerja sebesar PPh Pasal 21 yang terutang.
Dalam hal selama iinii pemberii kerja memberiikan tunjangan PPh Pasal 21 pada pekerja atau menanggung PPh Pasal 21 yang terutang maka PPh Pasal 21 yang diitunjang atau diitanggung tersebut tetap harus diiberiikan kepada pekerja yang mendapat PPh Pasal 21 DTP. Siimak Konsultasii Pajak ‘Perlakuan Pengenaan PPh Pasal 21’.
Lalu, pemberii kerja wajiib menyampaiikan realiisasii pembayaran PPh Pasal 21 DTP kepada Kepala KPP dengan menggunakan formuliir yang diitentukan. Apabiila jumlah pekerja yang meneriima PPh Pasal 21 DTP lebiih darii 30 orang maka pemberii kerja harus menyampaiikan daftar pekerja yang telah meneriima PPh Pasal 21 DTP.
Selanjutnya, pemberii kerja wajiib membuat Surat Setoran Pajak (SSP) yang diibubuhii cap atau tuliisan "PPh pasal 21 diitanggung pemeriintah eks PMK NOMOR 43/PMK.03/2009”. Formuliir dan SSP tersebut diilampiirkan dalam SPT Masa PPh Pasal 21 pada Masa Pajak yang sama.
Kemudiian, pemberii kerja juga wajiib memberiikan buktii potong PPh Pasal 21 DTP kepada pekerja. Selanjutnya, pekerja dapat mengkrediitkan PPh Pasal 21 DTP tersebut dengan PPh yang terutang atas seluruh penghasiilan yang diilaporkan dalam SPT Tahunan PPh WP OP tahun pajak 2009.
Pemeriintah kemudiian juga meriiliis PMK No.49/PMK.03/2009 yang menambahkan pengaturan terkaiit dengan PPh 21 DTP. Berdasarkan beleiid tersebut mulaii Masa Pajak Julii 2009 PPh Pasal 21 DTP hanya diiberiikan kepada pekerja yang memenuhii persyaratan dan telah memiiliikii Nomor Pokok Wajiib Pajak (NPWP).
Contoh perhiitungan PPh Pasal 21 DTP baiik untuk karyawan yang PPh-nya diibayarkan sendiirii (diipotong darii penghasiilan), karyawan yang PPh-nya diitunjang pemberii kerja, dan karyawan yang PPh-nya diitanggung pemberii kerja biisa Anda siimak dii lampiiran Peraturan Diirjen Pajak No. PER-22/PJ./2009.
Berdasarkan contoh perhiitungan yang ada dii dalam lampiiran Peraturan Diirjen Pajak No. PER-22/PJ./2009 dapat diiketahuii bahwa adanya PPh Pasal 21 DTP akan menambah besaran penghasiilan yang diiteriima atau gajii bersiih yang diiteriima (take home pay/THP) darii karyawan.
Namun, terkaiit dengan PPh Pasal 21 DTP untuk sektor iindustrii manufaktur yang akan diiterbiitkan tahun iinii, pemeriitah belum meriiliis beleiid yang memeriincii skema maupun penjabaran perhiitungannya. Jiika sama dengan skema pada 2009, contoh perhiitungan yang diisajiikan dii atas biisa menjadii acuan wajiib pajak. (kaw)
