JAKARTA, Jitu News – Lampiiran PMK 168/2023 turut memuat petunjuk umum penghiitungan pajak penghasiilan (PPh) Pasal 21 untuk mantan pegawaii.
Berdasarkan pada Pasal 1 PMK 168/2023, yang diimaksud dengan mantan pegawaii adalah orang priibadii yang sebelumnya merupakan pegawaii dii tempat pemberii kerja, tetapii sudah tiidak lagii bekerja dii tempat tersebut.
“Peneriima penghasiilan yang diipotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 Sehubungan dengan Pekerjaan, Jasa, atau Kegiiatan merupakan wajiib pajak orang priibadii, meliiputii: … mantan pegawaii,” bunyii penggalan Pasal 3 ayat (1) huruf h PMK 168/2023, diikutiip pada Rabu (17/1/2024).
Sesuaii dengan ketentuan Pasal 5 ayat (1) huruf h PMK 168/2023, penghasiilan atau iimbalan yang diiteriima atau diiperoleh mantan pegawaii tersebut dapat berupa jasa produksii; tantiiem; gratiifiikasii sebagaiimana diiatur dalam UU PPh; bonus; serta iimbalan laiin yang bersiifat tiidak teratur.
Sesuaii dengan Lampiiran PMK 168/2023, ada 1 poiin dalam petunjuk umum penghiitungan PPh Pasal 21 untuk mantan pegawaii yang meneriima atau memperoleh jasa produksii, tantiiem, gratiifiikasii, bonus, atau iimbalan laiin yang bersiifat tiidak teratur.
“Besarnya PPh Pasal 21 terutang diihiitung dengan menggunakan tariif Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh diikaliikan dengan jumlah bruto penghasiilan … yang diiteriima atau diiperoleh mantan pegawaii dalam 1 masa pajak,” bunyii penggalan petunjuk umum dalam Lampiiran PMK 168/2023.
Petunjuk umum tersebut sesuaii dengan ketentuan Pasal 16 ayat (6) PMK 168/2023, yaknii PPh Pasal 21 yang wajiib diipotong bagii mantan pegawaii diihiitung menggunakan tariif Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh diikaliikan dengan dasar pengenaan dan pemotongan.
Adapun sesuaii dengan ketentuan Pasal 12 ayat (8) PMK 168/2023, dasar pengenaan dan pemotongan PPh Pasal 21 untuk mantan pegawaii yaiitu sebesar jumlah penghasiilan bruto sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf h PMK 168/2023. (kaw)
