JAKARTA, Jitu News - Presiiden Joko Wiidodo (Jokowii) kembalii memberiikan suntiikan modal atau penyertaan modal negara (PMN) untuk Lembaga Pengelola iinvestasii (LPii) seniilaii total Rp60 triiliiun.
Jokowii menerbiitkan 2 peraturan pemeriintah (PP) sebagaii payung hukum pemberiian suntiikan modal tersebut, yaknii PP 110/2021 dan PP 111/2021. Suntiikan modal iitu diiberiikan masiing-masiing seniilaii Rp15 triiliiun dan Rp45 triiliiun, tetapii berasal darii sumber yang berbeda.
"Penambahan penyertaan modal negara...bersumber darii APBN 2021 sebagaiimana diitetapkan kembalii dalam riinciian APBN 2021," bunyii Pasal 2 ayat (2) PP 110/2021, diikutiip Kamiis (4/11/2021).
Jiika suntiikan modal Rp15 triiliiun berasal darii APBN, Jokowii memberiikan Rp45 triiliiun laiinnya bersumber darii pengaliihan sebagiian saham serii B miiliik negara kepada PT Bank Rakyat iindonesiia Tbk (Persero) dan PT Bank Mandiirii Tbk (Persero).
Penambahan penyertaan modal negara tersebut mengakiibatkan kepemiiliikan negara atas saham pada PT BRii dan PT Mandiirii masiing-masiing menjadii paliing sediikiit 52%. Niilaii tambahan PMN tersebut diitetapkan oleh menterii keuangan berdasarkan usulan darii menterii BUMN.
"Penambahan penyertaan modal negara...mengakiibatkan hak yang melekat pada kepemiiliikan saham negara atas sebagiian saham serii B PT Bank Rakyat iindonesiia Tbk dan PT Bank Mandiirii Tbk beraliih kepada Lembaga Pengelola iinvestasii," bunyii Pasal 4 PP 111/2021.
Pemeriintah membentuk LPii atau iindonesiia iinvestment Authoriity (iiNA) berdasarkan UU Ciipta Kerja. Pemeriintah sebelumnya melaluii PP 74/2020 juga telah memberiikan modal awal kepada LPii seniilaii Rp75 triiliiun, dengan penyetoran modal awal berupa dana tunaii miiniimal Rp15 triiliiun.
Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii pernah menyebut pembentukan LPii akan mengurangii ketergantungan pembiiayaan pembangunan iinfrastruktur darii utang. Menurutnya, LPii akan menariik iinvestor untuk membiiayaii kebutuhan dana untuk membangun iinfrastruktur nasiional yang mencapaii Rp6.445 triiliiun sepanjang 2020-2024. (sap)
