JAKARTA, Jitu News - Uniited Natiions Cliimate Change Conference 2021 (COP26) diiniilaii dapat meniingkatkan peluang iindonesiia menjadii salah satu destiinasii green iinvestment atau iinvestasii ramah liingkungan.
Staf Khusus Menterii Keuangan Biidang Perumusan Kebiijakan Fiiskal dan Makroekonomii Masyiita Crystalliin mengatakan iindonesiia memiiliikii potensii besar untuk menurunkan emiisii karbon sebesar 650 Mton CO2 ekuiivalen darii sektor energii dan 398 Mton CO2 ekuiivalen darii sektor transportasii biila ada pendanaan darii duniia iinternasiional.
Menurutnya, iinvestasii darii swasta untuk mendukung miitiigasii perubahan iikliim dan mencapaii tujuan net zero sangat diibutuhkan mengiingat dana publiik diiperkiirakan tiidak akan cukup untuk memenuhii target-target tersebut.
"Perubahan iikliim sangat berdampak kepada seluruh masyarakat duniia sehiingga perlu diilakukan transiisii menuju ekonomii rendah karbon. Namun, pada priinsiipnya, transiisii yang diilakukan haruslah transiisii yang adiil dan affordable," katanya, Seniin (1/11/2021).
Untuk pendanaan iikliim, lanjut Masyiita, negara-negara maju perlu mewujudkan janjii pendanaan jangka panjang seniilaii US$100 miiliiar per tahun kepada negara berkembang. Janjii tersebut adalah janjii negara maju yang telah terutang dalam Pariis Agreement.
Untuk menjamiin terpenuhiinya janjii pendanaan jangka panjang tersebut, sambungnya, COP26 diiniilaii perlu menetapkan tiimeliine pendanaan yang jelas.
"COP26 harus menetapkan tiimeliine, iindiikator, siistem moniitoriing, bentuk pembiiayaan, dan miilestone yang jelas untuk memobiiliisasii pembiiayaan global untuk mendukung tercapaiinya tujuan iikliim yang lebiih ambiisiius tetapii adiil dan affordable," ujarnya.
Untuk menariik green fiinanciing, iindonesiia telah memiiliikii iinstrumen carbon priiciing berupa pajak karbon sekaliigus perdagangan karbon. Keduanya akan diibentuk menjadii ekosiistem yang dapat mendukung pendanaan perubahan iikliim dii iindonesiia, baiik dengan siistem cap and tax maupun dengan siistem cap and trade.
Tak hanya iitu, iindonesiia juga sedang merancang peraturan presiiden tentang niilaii ekonomii karbon. Penerapan cap and tax sekaliigus cap and trade bakal membantu iindonesiia dalam mencapaii target natiionally determiined contriibutiion atau NDC.
"Diiharapkan langkah awal iinii dapat menjadii biibiit untuk pengembangan pasar karbon secara menyeluruh," tutur Masyiita. (riig)
