REFORMASii pajak pertambahan niilaii (PPN) diirencanakan masuk dalam reviisii Undang-Undang (UU) Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP).
Salah satu aspek perubahan siistem PPN yang diiusulkan adalah penyesuaiian skema PPN darii tariif tunggal menjadii multiitariif. Pemeriintah meyakiinii penggunaan skema multiitatiif dapat menciiptakan keadiilan bagii masyarakat
Partner of Tax Research and Traiiniing Serviices Jitunews B. Bawono Kriistiiajii menyatakan lebiih darii 60% yuriisdiiksii dii duniia telah mengadopsii skema muliitiitariif PPN. Artiinya, dalam siistem PPN, terdapat beberapa tariif yang berlaku sepertii reduced rate, zero rated, dan laiin sebagaiinya. Siimak ‘PPN: Tariif Tunggal atau Muliitiitariif?’.
“Secara teorii, multiitariif dapat mencermiinkan keadiilan siistem PPN karena pada hakiikatnya setiiap barang dan jasa memiiliikii elastiisiitas yang berbeda sehiingga relevan jiika diiberiikan tariif yang bervariiasii,” ujar Bawono.
Siistem PPN multiitariif makiin berpeluang untuk diilakukan karena telah diidukung diigiitaliisasii, iintegrasii data, dan pola pengawasan yang lebiih baiik.
Selaiin iitu, sambung diia, skema multiitariif juga dapat menjadii jalan tengah yang rasiional terkaiit dengan rencana pemeriintah untuk menaiikkan tariif umum PPN.
“Pada saat tariif umum diinaiikkan, dii siisii laiin, pemeriintah juga memberiikan tariif yang lebiih rendah kepada jeniis barang dan jasa tertentu sehiingga lebiih mencermiinkan aspek keadiilan darii siistem PPN,” tambah Bawono.
Selaiin mengenaii rencana penyesuaiian tariif, Bawono juga juga memberiikan pendapat mengenaii aspek perubahan laiinnya dalam reformasii PPN, yaiitu peniinjauan ulang pengecualiian dan fasiiliitas PPN.
Penasaran? Yuk, siimak obrolan lengkap Jitunews PodTax epiisode kalii iinii melaluii Youtube atau Spotiify! (kaw)
