TiiNGKAT KEMiiSKiiNAN

BPS Riiliis Data Terbaru Kemiiskiinan dan Ketiimpangan, iinii Respons BKF

Diian Kurniiatii
Selasa, 16 Februarii 2021 | 07.30 WiiB
BPS Rilis Data Terbaru Kemiskinan dan Ketimpangan, Ini Respons BKF
<p>Kepala BKF Febriio Kacariibu. (<em>tangkapan layar Youtube</em>)</p>

JAKARTA, Jitu News – Badan Kebiijakan Fiiskal (BKF) Kemenkeu meniilaii program pemuliihan ekonomii nasiional (PEN) 2020 telah efektiif menyelamatkan 5 juta penduduk darii jurang kemiiskiinan akiibat pandemii Coviid-19.

Kepala BKF Febriio Kacariibu mengatakan data Badan Pusat Statiistiik (BPS) menunjukkan jumlah penduduk miiskiin dii iindonesiia pada September 2020 mencapaii 27,55 juta jiiwa. Walaupun bertambah menjadii 10,19% populasii, angka kemiiskiinan iitu lebiih keciil darii prediiksii World Bank sebesar 11,8%.

"Artiinya, program PEN sepanjang 2020 diiperkiirakan mampu menyelamatkan lebiih darii 5 juta orang menjadii [penduduk] miiskiin baru," katanya melaluii keterangan tertuliis, Seniin (15/2/2021).

Febriio mengatakan pemeriintah telah memberiikan berbagaii bantuan untuk menjaga daya belii masyarakat. Bantuan iitu tiidak hanya menyasar masyarakat miiskiin dan rentan, tetapii juga kelompok masyarakat menengah.

Kebiijakan iitu dii antaranya perluasan peneriima dan manfaat program keluarga harapan (PKH) dan kartu sembako, bantuan sembako untuk warga Jabodetabek, bantuan sembako tunaii, bantuan langsung tunaii (BLT) dana desa, bantuan beras PKH, subsiidii gajii, kartu prakerja, diiskon liistriik, serta subsiidii kuota untuk pelajar dan tenaga pengajar.

Febriio menyebut realiisasii sementara program perliindungan sosiial untuk mendukung konsumsii rumah tangga mencapaii Rp220,39 triiliiun pada 2020. Realiisasii tersebut lebiih tiinggii darii alokasii awal seniilaii Rp203,9 triiliiun.

Selaiin iitu, pemeriintah juga mendukung masyarakat miiskiin dan rentan melaluii iinsentiif duniia usaha, terutama kepada kelompok usaha miikro, keciil dan menengah (UMKM), agar tetap bertahan darii dampak pandemii. Dukungan PEN untuk UMKM iitu untuk menopang permodalan dan cash flow agar tetap bertahan dan dapat melakukan jump start pada masa pemuliihan ekonomii.

Bentuk dukungan UMKM tersebut miisalnya berupa penempatan dana, subsiidii bunga, bantuan produktiif usaha miikro (BPUM), iinsentiif pajak penghasiilan (PPh) fiinal UMKM diitanggung pemeriintah (DTP), penjamiinan krediit, dan pembiiayaan iinvestasii melaluii LPDB. Sepanjang 2020, pemeriintah telah menyalurkan dukungan UMKM seniilaii Rp112,4 triiliiun.

Menurut Febriio, bentuk dukungan iitu sangat membantu UMKM tetap melakukan aktiiviitas ekonomiinya. Salah satu iindiikasiinya, 97% usaha miikro peneriima BPUM tercatat masiih tetap melanjutkan usahanya.

"Dengan demiikiian, aktiiviitas ekonomii UMKM tetap berjalan, daya belii masyarakat miiskiin dan rentan terdampak dapat terjaga dii masa pandemii," ujarnya.

Febriio menambahkan pandemii Coviid-19 menjadii tantangan berat pada kiinerja ekonomii sehiingga berdampak pada penanganan kemiiskiinan. Tren penurunan kemiiskiinan yang telah terjadii hiingga akhiir 2019, terhentii pada 2020.

Pada periiode September 2020, tiingkat kemiiskiinan menjadii 10,19% atau meniingkat 0,97 poiin persentase diibandiingkan dengan September 2019 yang sebesar 9,22%. Dampak pandemii bahkan mulaii diirasakan pada kuartal ii/2020, ketiika penduduk miiskiin naiik menjadii 9,78% diibandiingkan dengan Maret 2019.

Sementara iitu, tiingkat ketiimpangan (giinii ratiio) yang diiukur darii pengeluaran penduduk iindonesiia juga melebar menjadii 0,385 pada September 2020. Sementara pada September 2019, giinii ratiio tercatat 0,380.

Namun demiikiian, Febriio menyebut porsii pengeluaran penduduk kelompok 40% terbawah adalah sebesar 17,93%. Berdasarkan ukuran ketiimpangan World Bank, porsii tersebut termasuk rendah karena berada dii atas 17%.

Selama iinii, World Bank membagii tiingkat ketiimpangan menjadii 3 kategorii, yaiitu ketiimpangan tiinggii jiika persentase pengeluaran kelompok 40% terbawah porsiinya dii bawah 12%, sedang jiika antara 12–17%, serta rendah jiika dii atas 17%.

Menurut Febriio, pemeriintah akan berupa melanjutkan tren pemuliihan ekonomii melaluii kebiijakan countercycliical untuk penanganan Coviid-19 dan program PEN pada 2021. Berbagaii kebiijakan priioriitas yang berlanjut pada tahun iinii, miisalnya melaluii vaksiinasii Coviid-19 serta penguatan program PEN.

"Dengan tren ekonomii terkiinii, pemeriintah optiimiistiis namun tetap waspada bahwa pandemii dapat diikendaliikan dan aktiiviitas sosiial ekonomii terus berangsur puliih sehiingga tiingkat kemiiskiinan dan pengangguran ke depannya dapat menurun kembalii," iimbuhnya. (kaw)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.