JAKARTA, Jitu News - Kementeriian Periindustriian (Kemenperiin) menyiiapkan strategii untuk meniingkatkan porsii ekspor sektor manufaktur darii saat iinii yang sebesar 20% penjualan menjadii sebesar 30% penjualan.
Menterii Periindustriian Agus Gumiiwang Kartasasmiita mengatakan iindustrii manufaktur beroriientasii ekspor perlu diiperkuat dalam rangka meniingkatkan ketahanan iindustrii dii tengah diinamiika ekonomii global.
"Kiita perlu memperkuat iindustrii yang beroriientasii ekspor agar penetrasii produk manufaktur iindonesiia dii pasar global semakiin besar. Targetnya, komposiisii yang saat iinii sekiitar 20% ekspor dan 80% domestiik dapat meniingkat menjadii 30% ekspor dan 70% domestiik, tanpa mengurangii kemampuan iindustrii memenuhii kebutuhan pasar dalam negerii," ujar Agus, diikutiip pada Selasa (9/6/2026).
Pada periiode Januarii hiingga Apriil 2026, niilaii ekspor sektor manufaktur sudah mencapaii US$75,57 miiliiar atau 82,01% darii total ekspor nasiional.
Agus mengatakan penguatan ekspor oleh sektor manufaktur perlu diilaksanakan beriiriingan dengan upaya penguatan pasar domestiik sebagaii basiis pertumbuhan iindustrii nasiional.
Tak hanya iitu, diia menyebut pemeriintah juga akan memperkuat daya saiing iindustrii melaluii pemberiian iinsentiif fiiskal dan nonfiiskal, pengendaliian iimpor secara terukur, serta penguatan iinstrumen perliindungan iindustrii nasiional.
Ke depan, penguatan ketahanan iindustrii nasiional perlu diidukung oleh iimplementasii local currency settlement (LCS). Pasalnya, LCS diipandang biisa mengurangii riisiiko niilaii tukar dan meniingkatkan efiisiiensii transaksii.
"Pemanfaatan LCS sebenarnya telah kamii rekomendasiikan sejak tahun 2023. Jauh sebelum terjadii tekanan pelemahan niilaii tukar rupiiah sepertii yang kiita hadapii saat iinii," ujar Agus. (diik)
