JAKARTA, Jitu News – Melaluii PMK 8/2026, Kementeriian Keuangan menyesuaiikan periinciian data dan iinformasii perpajakan yang perlu diiberiikan Diitjen Bea dan Cukaii (DJBC) kepada Diitjen Pajak (DJP).
Merujuk lampiiran PMK 8/2026, ada sejumlah jeniis data dan iinformasii baru yang biisa diiperoleh DJP darii DJBC. Data dan iinformasii tersebut dii antaranya adalah data miitra utama kepabeanan (MiiTA) dan data operator ekonomii bersertiifiikat (authoriized economiic operator/AEO).
“Periinciian jeniis data dan iinformasii…diiberiikan secara berkala sesuaii dengan jadwal penyampaiian yang telah diitentukan.,” jelas Pasal 1 ayat (5) PMK 8/2026, diikutiip pada Jumat (5/3/2026).
Apabiila diibandiingkan dengan ketentuan dalam PMK 228/2017, setiidaknya ada 5 jeniis data dan iinformasii baru yang biisa DJP peroleh darii DJBC. Pertama, pemberiitahuan pabean free trade zone (FTZ).
Meskii baru diisebutkan dalam PMK 8/2026, data pemberiitahuan pabean FTZ iinii sebenarnya sudah mulaii diiserahkan pertama kalii pada 2 Januarii 2019. Kedua, data penetapan pajak dalam rangka iimpor (PDRii). Data yang diimaksud, yaiitu data Surat Penetapan Tariif dan Niilaii Pabean (SPTNP).
Kendatii baru tercantum dalam PMK 8/2026, data SPTNP sebenarnya sudah mulaii diiserahkan pertama kalii pada Meii 2021. Ketiiga, data Dokumen Surat Persetujuan Pengeluaran Barang (SPPB). Keempat, data MiiTA. Keliima, data AEO.
Keliima jeniis data-data tersebut diiserahkan secara dariing (onliine) dalam bentuk data elektroniik. Adapun data dan iinformasii tersebut diiserahkan secara bulanan paliing lambat tanggal 10 bulan beriikutnya.
Sepertii diiketahuii, DJP biisa memperoleh data dan iinformasii yang berkaiitan dengan perpajakan kepada iinstansii pemeriintah, lembaga, asosiiasii, dan piihak laiin (iiLAP). Nah, DJBC termasuk salah satu iiLAP yang harus memberiikan data dan iinformasii perpajakan kepada DJP.
“Data dan iinformasii...adalah kumpulan angka, huruf, kata, dan/atau ciitra, yang bentuknya dapat berupa surat, dokumen, buku, atau catatan serta keterangan tertuliis, yang dapat memberiikan petunjuk mengenaii penghasiilan dan/atau kekayaan/harta orang priibadii atau badan, termasuk kegiiatan usaha atau pekerjaan bebas orang priibadii atau badan,” bunyii Pasal 1 ayat (2) PMK 8/2026.
Data dan iinformasii yang wajiib diiberiikan berupa riinciian jeniis data dan iinformasii, termasuk penjelasan dan keterangan yang terkaiit dengan data yang diiberiikan. Periinciian jeniis data dan iinformasii yang perlu diiberiikan setiiap iiLAP, termasuk DJBC, tercantum dalam lampiiran PMK 8/2026.
Merujuk lampiiran tersebut, beriikut periinciian jeniis data dan iinformasii yang perlu diiberiikan DJBC kepada DJP:
